<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>kejeffreyan</title>
    <link>https://kejeffreyan.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 27 Aug 2026 04:51:55 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Jingga, si kuat penjaga toko.</title>
      <link>https://kejeffreyan.writeas.com/jingga-si-kuat-penjaga-toko?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Haekal nampak kebingungan melirik sekitarnya yang dipenuhi banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai macam jenis pakaian. Ia melihat notes di ponselnya, memastikan bahwa toko di depannya kini adalah toko langganan yang dimaksud oleh Neneknya.&#xA;&#xA;Setelah memastikan nama toko tersebut sesuai, Haekal segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko tersebut, guna mencari baju Daster titipan Neneknya.&#xA;&#xA;“Cari apa, Kak?” Sapa si penjaga toko dengan ramah kepada Haekal yang nampak celingukan memperhatikan banyak sekali model baju di sekitarnya. &#xA;&#xA;“Daster, Mbak. Untuk Nenek saya.” Jawab Haekal agak kaku, terlebih ketika si penjaga toko itu tersenyum simpul mendengar ucapan Haekal barusan.&#xA;&#xA;“Boleh, Kak, di lantai 2 kalau daster, ya, nanti naik tangga aja, bakalan ada temen saya yang bantuin Kakaknya pilih di sana.” Kata penjaga tersebut sembari menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua. &#xA;&#xA;Haekal hanya mengangguk sopan lalu  berjalan ke arah tangga sembari mengusap tengkuknya canggung. Haekal pikir akan biasa saja datang ke toko baju perempuan sendirian, ternyata ia salah, terasa begitu canggung melakukan ini, tak segampang yang ia pikir, pantas saja teman-teman lelakinya menolak untuk ikut bersamanya.&#xA;&#xA;“Coba aja ada Azalea…” gumam Haekal pelan sembari menaiki tangga tersebut. “Tapi, Lea lagi gak bagus moodnya.” Sambung Haekal lagi berlirih pelan, kembali teringat Azalea yang tadi tak begitu menanggapinya.&#xA;&#xA;Kedua manik teduh milik Haekal berpencar memandangi sekitarnya yang agak sepi pengunjung dibandingkan dengan lantai bawah, ia juga melihat pakaian-pakaian yang dipajang, yang sepertinya lantai ini dikhususkan untuk pakaian sehari-hari khusus perempuan. &#xA;&#xA;&#34;Mbak,&#34; panggil Haekal kepada pegawai toko yang sedang membelakanginya, nampak sedang merapihkan beberapa display baju yang sedikit berantakan.&#xA;&#xA;&#34;Boleh pilihkan Daster untuk—&#34; kalimat Haekal terhenti saat sosok pegawai tersebut menghadap ke arahnya, secara otomatis juga, kedua bola matanya melebar menangkap sosok di depannya itu. &#xA;&#xA;&#34;Jingga?&#34; bibir Haekal berucap tak percaya. &#xA;&#xA;Tatapan Haekal tak lepas dari sosok Jingga yang berdiri di depannya, mengenakan seragam pegawai toko, pun juga dengan rambut yang diikat berantakan. Sangat berbeda sekali dengan tampilan Jingga yang selama ini Haekal lihat di kampusnya. &#xA;&#xA;Namun, tak butuh waktu lama, Haekal segera menyadari ketakutan serta sinyal tak nyaman Jingga yang juga ikut terkejut bertemu dengannya sekarang, bahkan kini ia melihat jemari Jingga yang gemetar dan juga wajahnya mulai memucat.&#xA;&#xA;&#34;Boleh pilihkan baju Daster untuk Nenek saya? Ukuran L, dan dari bahan yang nggak panas.&#34; lanjut Haekal berusaha tak memedulikan yang sedang terjadi, kini wajahnya juga kembali berubah, tak ada mimik terkejut seperti sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Kenapa harus di sini?&#34; bukannya merespon pesanan Haekal, Jingga malah balik bertanya.&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dari banyak toko baju di Jakarta, kenapa harus di sini lo beli baju? Kenapa harus ketemu gue?&#34; Tanya Jingga lagi memperjelas pertanyaannya barusan, kini wajahnya nampak memerah, geram dari tatapan matanya terdeteksi oleh Haekal. Untungnya lantai 2 begitu sepi, sehingga nada bicara Jingga yang meninggi tak menyita perhatian pengunjung lainnya. &#xA;&#xA;Haekal tak menjawab, karena ia pun bingung harus menjawab apa, ia juga sama bingungnya, tak sengaja datang ke toko ini, tanpa sedikitpun menyangka akan bertemu Jingga yang tengah bekerja.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Kal? Hampir 2 tahun gue kerja di sini, sama sekali nggak ada anak kampus yang bisa nemuin gue. Kenapa? Kenapa hari ini lo malah nemuin gue?&#34; suara Jingga kini mulai bergetar, matanya juga nampak bergelinang, sampai-sampai Haekal semakin terdiam melihatnya, kebingungan dengan reaksi Jingga yang marah kepadanya.&#xA;&#xA; &#34;Hancur tau gak branding yang susah-susah gue bangun supaya bisa masuk ke dalam lingkup kalian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; bahkan kini tanpa sadar Haekal mengucapkan permintaan maafnya, kata tersebut keluar begitu saja saat melihat genangan air mata mulai jatuh membasahi pipi Jingga yang masih memerah. &#xA;&#xA;Haekal mulai paham situasi saat ini, ia mengerti mengapa Jingga begitu meledak-ledak saat Haekal tak sengaja menemuinya di sini.&#xA;&#xA;&#34;Maaf? Bahkan gue ngelakuin semua ini bukan cuma buat bisa nyatu sama lingkungan kampus, Kal! Gue juga gak mau dikasihanin dan jadi terlihat menyedihkan. Ah, liat sekarang cara lo natap gue, gue gak suka! gue gak suka tatapan kasihan kayak gitu dikasih ke gue.&#34; bentak Jingga tak tertahan. &#xA;&#xA;Haekal sangat tak suka dibentak orang lain, namun, rasanya kini, Haekal tak sanggup untuk menginterupsi sedikitpun kalimat Jingga, ia hanya bisa diam, dan menetapkan dirinya di posisi bersalah.&#xA;&#xA;Tarikan napas panjang Jingga terdengar setelahnya, ia memejamkan matanya sesaat, seperti sedang mencoba mengontrol dirinya, &#34;Di sebelah kanan sana, ambil aja, Daster. Setelahnya lo boleh ke bawah buat bayar, dan pergi dari sini.&#34; sambungnya lagi.&#xA;&#xA;Haekal tak lagi berkata, ia hanya mengangguk, lalu mengambil baju di sebelah kanannya, ia bahkan mengambil asal beberapa baju tersebut, tak mau membuat Jingga merasa semakin tak nyaman dengan kehadirannya. &#xA;&#xA;Melihat Jingga barusan, membuat Haekal teringat dengan dirinya yang dulu, berusaha terlihat kuat dan tangguh, tak mau dilihat lemah dan dikasihani, berusaha semaksimal mungkin diterima di lingkungan yang tak menginginkannya, dan Haekal paham sekali, betapa melelahkannya berpura-pura melakukan itu. &#xA;&#xA;&#34;Jingga...,&#34; panggil Haekal menghentikan langkah kakinya yang hendak menuruni tangga, ia memutarkan badannya, melihat Jingga yang kini tertunduk lemas.&#xA;&#xA;&#34;Apa lagi?&#34; tanya Jingga ketus.&#xA;&#xA;&#34;Tugas komunikasi bisnis, sudah saya selesaikan. Kamu baca-baca materinya aja, ya, supaya nggak bingung presentasi nanti.&#34; ucap Haekal, kembali dengan nada bicaranya yang santai.&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah kasihanin gue, kan gue udah bilang—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya nggak kasihanin kamu. Itu sebagai ganti karena saya udah ambil 50 ribu kamu, upah ppt saya di tugas sebelumnya.&#34; jawab Haekal segera, Jingga saat itu juga terdiam tanpa menjawab apapun lagi.&#xA;&#xA;&#34;Bertahan, ya? Seberat apapun yang sedang kamu lalui, Tuhan sedang uji.&#34; sambung Haekal lagi, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Jingga yang terpaku menatap kepergian Haekal, dan kembali menitihkan air matanya setelah mendengar kalimat penguat yang tak pernah ia sangka akan diucapkan Haekal, sosok yang begitu dingin kepada sekitarnya.&#xA;&#xA;[image]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Haekal nampak kebingungan melirik sekitarnya yang dipenuhi banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai macam jenis pakaian. Ia melihat <em>notes</em> di ponselnya, memastikan bahwa toko di depannya kini adalah toko langganan yang dimaksud oleh Neneknya.</p>

<p>Setelah memastikan nama toko tersebut sesuai, Haekal segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko tersebut, guna mencari baju Daster titipan Neneknya.</p>

<p>“Cari apa, Kak?” Sapa si penjaga toko dengan ramah kepada Haekal yang nampak celingukan memperhatikan banyak sekali model baju di sekitarnya.</p>

<p>“Daster, Mbak. Untuk Nenek saya.” Jawab Haekal agak kaku, terlebih ketika si penjaga toko itu tersenyum simpul mendengar ucapan Haekal barusan.</p>

<p>“Boleh, Kak, di lantai 2 kalau daster, ya, nanti naik tangga aja, bakalan ada temen saya yang bantuin Kakaknya pilih di sana.” Kata penjaga tersebut sembari menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua.</p>

<p>Haekal hanya mengangguk sopan lalu  berjalan ke arah tangga sembari mengusap tengkuknya canggung. Haekal pikir akan biasa saja datang ke toko baju perempuan sendirian, ternyata ia salah, terasa begitu canggung melakukan ini, tak segampang yang ia pikir, pantas saja teman-teman lelakinya menolak untuk ikut bersamanya.</p>

<p>“Coba aja ada Azalea…” gumam Haekal pelan sembari menaiki tangga tersebut. “Tapi, Lea lagi gak bagus moodnya.” Sambung Haekal lagi berlirih pelan, kembali teringat Azalea yang tadi tak begitu menanggapinya.</p>

<p>Kedua manik teduh milik Haekal berpencar memandangi sekitarnya yang agak sepi pengunjung dibandingkan dengan lantai bawah, ia juga melihat pakaian-pakaian yang dipajang, yang sepertinya lantai ini dikhususkan untuk pakaian sehari-hari khusus perempuan.</p>

<p>“Mbak,” panggil Haekal kepada pegawai toko yang sedang membelakanginya, nampak sedang merapihkan beberapa <em>display</em> baju yang sedikit berantakan.</p>

<p>“Boleh pilihkan Daster untuk—” kalimat Haekal terhenti saat sosok pegawai tersebut menghadap ke arahnya, secara otomatis juga, kedua bola matanya melebar menangkap sosok di depannya itu.</p>

<p>“Jingga?” bibir Haekal berucap tak percaya.</p>

<p>Tatapan Haekal tak lepas dari sosok Jingga yang berdiri di depannya, mengenakan seragam pegawai toko, pun juga dengan rambut yang diikat berantakan. Sangat berbeda sekali dengan tampilan Jingga yang selama ini Haekal lihat di kampusnya.</p>

<p>Namun, tak butuh waktu lama, Haekal segera menyadari ketakutan serta sinyal tak nyaman Jingga yang juga ikut terkejut bertemu dengannya sekarang, bahkan kini ia melihat jemari Jingga yang gemetar dan juga wajahnya mulai memucat.</p>

<p>“Boleh pilihkan baju Daster untuk Nenek saya? Ukuran L, dan dari bahan yang nggak panas.” lanjut Haekal berusaha tak memedulikan yang sedang terjadi, kini wajahnya juga kembali berubah, tak ada mimik terkejut seperti sebelumnya.</p>

<p>“Kenapa harus di sini?” bukannya merespon pesanan Haekal, Jingga malah balik bertanya.</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Dari banyak toko baju di Jakarta, kenapa harus di sini lo beli baju? Kenapa harus ketemu gue?” Tanya Jingga lagi memperjelas pertanyaannya barusan, kini wajahnya nampak memerah, geram dari tatapan matanya terdeteksi oleh Haekal. Untungnya lantai 2 begitu sepi, sehingga nada bicara Jingga yang meninggi tak menyita perhatian pengunjung lainnya.</p>

<p>Haekal tak menjawab, karena ia pun bingung harus menjawab apa, ia juga sama bingungnya, tak sengaja datang ke toko ini, tanpa sedikitpun menyangka akan bertemu Jingga yang tengah bekerja.</p>

<p>“Kenapa, Kal? Hampir 2 tahun gue kerja di sini, sama sekali nggak ada anak kampus yang bisa nemuin gue. Kenapa? Kenapa hari ini lo malah nemuin gue?” suara Jingga kini mulai bergetar, matanya juga nampak bergelinang, sampai-sampai Haekal semakin terdiam melihatnya, kebingungan dengan reaksi Jingga yang marah kepadanya.</p>

<p> “Hancur tau gak <em>branding</em> yang susah-susah gue bangun supaya bisa masuk ke dalam lingkup kalian.”</p>

<p>“Maaf,” bahkan kini tanpa sadar Haekal mengucapkan permintaan maafnya, kata tersebut keluar begitu saja saat melihat genangan air mata mulai jatuh membasahi pipi Jingga yang masih memerah.</p>

<p>Haekal mulai paham situasi saat ini, ia mengerti mengapa Jingga begitu meledak-ledak saat Haekal tak sengaja menemuinya di sini.</p>

<p>“Maaf? Bahkan gue ngelakuin semua ini bukan cuma buat bisa nyatu sama lingkungan kampus, Kal! Gue juga gak mau dikasihanin dan jadi terlihat menyedihkan. Ah, liat sekarang cara lo natap gue, gue gak suka! gue gak suka tatapan kasihan kayak gitu dikasih ke gue.” bentak Jingga tak tertahan.</p>

<p>Haekal sangat tak suka dibentak orang lain, namun, rasanya kini, Haekal tak sanggup untuk menginterupsi sedikitpun kalimat Jingga, ia hanya bisa diam, dan menetapkan dirinya di posisi bersalah.</p>

<p>Tarikan napas panjang Jingga terdengar setelahnya, ia memejamkan matanya sesaat, seperti sedang mencoba mengontrol dirinya, “Di sebelah kanan sana, ambil aja, Daster. Setelahnya lo boleh ke bawah buat bayar, dan pergi dari sini.” sambungnya lagi.</p>

<p>Haekal tak lagi berkata, ia hanya mengangguk, lalu mengambil baju di sebelah kanannya, ia bahkan mengambil asal beberapa baju tersebut, tak mau membuat Jingga merasa semakin tak nyaman dengan kehadirannya.</p>

<p>Melihat Jingga barusan, membuat Haekal teringat dengan dirinya yang dulu, berusaha terlihat kuat dan tangguh, tak mau dilihat lemah dan dikasihani, berusaha semaksimal mungkin diterima di lingkungan yang tak menginginkannya, dan Haekal paham sekali, betapa melelahkannya berpura-pura melakukan itu.</p>

<p>“Jingga...,” panggil Haekal menghentikan langkah kakinya yang hendak menuruni tangga, ia memutarkan badannya, melihat Jingga yang kini tertunduk lemas.</p>

<p>“Apa lagi?” tanya Jingga ketus.</p>

<p>“Tugas komunikasi bisnis, sudah saya selesaikan. Kamu baca-baca materinya aja, ya, supaya nggak bingung presentasi nanti.” ucap Haekal, kembali dengan nada bicaranya yang santai.</p>

<p>“Nggak usah kasihanin gue, kan gue udah bilang—”</p>

<p>“Saya nggak kasihanin kamu. Itu sebagai ganti karena saya udah ambil 50 ribu kamu, upah ppt saya di tugas sebelumnya.” jawab Haekal segera, Jingga saat itu juga terdiam tanpa menjawab apapun lagi.</p>

<p>“Bertahan, ya? Seberat apapun yang sedang kamu lalui, Tuhan sedang uji.” sambung Haekal lagi, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Jingga yang terpaku menatap kepergian Haekal, dan kembali menitihkan air matanya setelah mendengar kalimat penguat yang tak pernah ia sangka akan diucapkan Haekal, sosok yang begitu dingin kepada sekitarnya.</p>

<p>[<img src="https://i.ibb.co/V9DsBWv/IMG-8643.jpg" alt="image"/></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kejeffreyan.writeas.com/jingga-si-kuat-penjaga-toko</guid>
      <pubDate>Wed, 27 Mar 2024 05:29:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hukum Hamurabi</title>
      <link>https://kejeffreyan.writeas.com/hukum-hamurabi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Jika ada nominasi jalan hidup ter-plot twist di dunia ini, Disa yakin sekali bahwa dirinya akan menjadi top-10 dari jajaran yang masuk di dalamnya. Hal tersebut diyakini Disa, karena banyak sekali kejadian-kejadian tak disangka terjadi, terhitung sejak ia lahir di dunia.&#xA;&#xA;Contoh kecilnya dapat di lihat saat ini, siapa sangka lulusan terbaik pengadaan serta pendidikan dan pelatihan jaksa kini sedang duduk di kantor Firma hukum yang baru saja memperkerjakannya. Untuk menjadi Pengacara setelah mengikuti banyak sekali prosedur menjadi seorang jaksa? Tentu saja tidak, bagian ter-plot twistnya, ia malah menjadi paralegal di Firma hukum ini. &#xA;&#xA;Paralegal tentunya sangat jauh sekali dari yang Disa cita-citakan. Jika dibandingkan dengan Jaksa, sudah pasti sangat jauh sekali tingkatannya. Ia hanya bisa membantu Pengacara, bahkan untuk beracara atau ikut praktik hukum saja ia tak bisa. Siapapun yang melihatnya sekarang sudah pasti ikut iba dengan pilihan yang mau tak mau harus ia terima.&#xA;&#xA;&#34;Ini meja Mbak Disa, berdekatan dengan ruangan Pak Jeffrey dan Pak Dimas. Ada satu lagi Mbak Nata, sama dengan Mbak Disa bekerja sebagai Paralegal juga, tapi lagi cuti melahirkan.&#34; Ucap seorang Pria berumur setengah abad itu kepada Disa, beliau adalah Pak Wira, orang pertama yang ia kenal di kantor ini, bahkan Pak Wira lah yang dari awal ia temui saat melamar kerja di Firma Hukum ini.&#xA;&#xA;&#34;Makasih banyak, Pak.&#34; Balas Disa dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Pak Wira sebelum akhirnya ia ditinggal sendiri di mejanya. &#xA;&#xA;Disa menghela napas panjangnya, sembari meletakkan kantong plastik berisikan beberapa bungkus kupat tahu yang ia beli tadi. Disa menatap kesal pada bungkusan tersebut, sembari mengusap kasar wajahnya, tanpa mempedulikan lagi make-up nya yang sudah terlanjur hilang akibat antrian lama untuk mendapatkan kupat tahu pesanan Bos-nya, Jeffrey, Kakak kelas yang dulu sangat ia benci akibat terus-terusan mengganggunya.&#xA;&#xA;&#34;Persetanan sama kupat tahu gajelas ini, kalo gak waras, mah, udah gue taro racun di dalemnya.&#34; Gerutu Disa pelan sembari mengetikkan pesan pada ponselnya, memberitahu Bos barunya bahwa pesanannya sudah datang, lengkap dengan note yang tak masuk logika siapapun yang mendengarnya, bahkan penjualnya pun tak habis pikir ada pesanan serupa demikian.&#xA;&#xA;&#34;Kelar bayar UKT Nopal, detik itu juga gue bakal resign dari kantor gaje ini.&#34; gumamnya kembali setelah mengirim pesan kepada bos-nya tersebut. Disa kemudian mengeluarkan bedaknya, berniat untuk memoles kembali wajahnya yang sudah terkena banyak sekali polusi beserta keringat saat mengantri pesanan, ia sempat melihat sekitar yang masih sepi juga, belum berdatangan pekerja lainnya.&#xA;&#xA;Saat tengah memoleskan lipcream pada bibirnya, sudut matanya menangkap ada bayang yang berjalan mendekat, segera Disa menyudahi kegiatannya tersebut, dan langsung berdiri untuk menyapa yang akan datang. Sialnya, Disa baru tersadar bahwa kontak lensanya belum sempat ia pakai, pantas saja pandangannya sangat kabur sekali melihat dua sosok yang mendekat. &#xA;&#xA;&#34;Selamat pagi,&#34; Sapa salah satunya dari beberapa langkah di depannya, &#34;Pagi, Pak.&#34; Balas Disa sembari menyipitkan kedua matanya, guna melihat secara jelas dua sosok yang akan menghampirinya.&#xA;&#xA;&#34;Lama nggak ketemu, ya? Gak nyangka bakal satu tempat kerja sama lo.&#34; Ucap suara yang lainnya pada jarak yang lebih dekat lagi.&#xA;&#xA;&#34;Eh? Kak?&#34; Respon Disa terkejut saat dua sosok tersebut berada tepat di depannya, sehingga Disa bisa melihat dengan jelas keduanya. &#34;Kak Dimas?&#34; Lanjut Disa seakan masih meragukan penglihatan dan ingatannya.&#xA;&#xA;Sosok berkacamata itu pun tergelak ringan melihat ekspresi kaget Disa, &#34;Hahaha, kirain udah lupa sama gue,&#34; Jawabnya renyah, sosok laki-laki di sampingnya ikut tersenyum ramah kepada Disa. &#34;Gue kerja di sini juga sama Jeffrey, Hahaha, random banget, ya, semesta?&#34; Lanjutnya.&#xA;&#xA;Disa tertawa canggung, sembari di dalam hati kembali mengutuki takdirnya yang penuh dengan kejutan, seakan tak cukup memberikan shock terapy berupa Bos yang dulunya adalah laki-laki yang ia tolak mentah-mentah, kini mantan pertamanya di masa SMA pun turut hadir kembali di kehidupannya.&#xA;&#xA;&#34;Ohiya, ini Mahesa, dia juga Lawyer di sini.&#34; Ucap Dimas kembali, memperkenalkan laki-laki di sampingnya.&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal, Pak-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Panggil Esa, aja, Mbak.&#34; Potongnya sembari membalas jabatan tangan Disa segera. &#34;Iya, panggil dia Esa aja, masih muda banget dia, jauh sama lo umurnya.&#34; Ujar Dimas kembali menambahkan. &#xA;&#xA;Canggung tergambar jelas dari wajah Disa, rasanya ingin sekali ia dengan cepat mengakhiri hari ini, melepaskan diri dari banyaknya kejutan lain yang sepertinya sedang menanti. &#xA;&#xA;&#34;Semoga betah, ya, kalo ada apa-apa, lo boleh tanya-tanya gue atau Mahesa, ruangan kita di sana.&#34; Ucap Dimas sembari menunjuk ke arah ruangan yang ada di samping kanan meja kerja Disa. &#34;Yaudah, kita berdua ke ruangan dulu, ya. Banyak berkas yang harus disiapin buat sidang hari ini.&#34; Pamit Dimas seakan peka dengan apa yang Disa rasa.&#xA;&#xA;&#34;Makasih banyak, Kak- Eh Pak, maksudnya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Santai, gausah kaku kalo ke gue, panggil kayak yang biasanya aja.&#34; Balas Dimas lagi.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Kak, makasih, ya,&#34; Ucap Disa kemudian. &#xA;&#xA;Setelah memastikan Dimas dan Mahesa sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan mereka, Disa segera menjatuhkan pasrah dirinya ke kursinya, kakinya terasa semakin melemas, kalau saja bisa, mungkin ia sudah berteriak kencang saat ini juga, memaki apapun yang ada di sekitarnya untuk menumpahkan apa yang ia rasa.&#xA;&#xA;&#34;Mana sih ini tempat soflensnya?!&#34; Entah sudah keberapa kalinya ia menggerutu kesal, jemarinya dengan tidak sabar mencari-cari di meja kantornya, &#34;Bisa gak, lo gak usah ikut-ikutan nyebelin?!&#34; Ucapnya sendiri terhadap tempat kontak lensa yang terselip di antara tas dan tumpukan kertas di mejanya. Dengan kesal pula ia kembali memakai kontak lensanya tersebut.&#xA;&#xA;Seakan tak diberi jeda, dering dari telpon miliknya terdengar, pertanda adanya panggilan masuk yang ada, &#34;Siapa lagi, sih, ini? ganggu- Eh, Bella,&#34; Emosinya seketika memudar saat melihat nama dari si penelpon tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Halo, Bel?&#34; Dengan segera pula Disa mengangkat panggilan tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Ca, tadi subuh lo nelpon, ya? Sorry gak keangkat, kenapa ca?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, tadi gue nelpon lo, mau-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wait, lo jadi kerja, kan? Jangan bilang lo beneran gak ambil kerjaannya.&#34; Belum selesai Disa menjawab, Bella lebih dulu memotongnya, terdengar sangat khawatir bila Disa benar-benar memilih untuk tidak mengambil pekerjaannya.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, jenong. Ini udah di kantor sambil nenteng-nenteng kresek isi kupat tahu, hadeuh.&#34; Keluh Disa tak tertahan, bola matanya memutar kesal saat kembali melihat bungkusan kupat tahu di mejanya itu.&#xA;&#xA;&#34;Hah, kok bisa?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Panjang ceritanya, nanti pas pulang gue ceritain, banyak banget yang aneh-aneh di sini, demi tuhan, aneh semua.&#34; Sedikit Disa mencoba menggambarkan apa yang ia alami beberapa jam saat bekerja di Firma Jeffrey, ia tak mungkin menceritakan semuanya saat ini juga, apalagi masih di lingkupan kantor dan masih jam kerja.&#xA;&#xA;&#34;Oke deh, terus nelpon subuh-subuh tadi kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Disa tak langsung menjawab pertanyaan itu, ia masih ragu sebenarnya untuk memberitahu maksudnya menelpon Bella subuh tadi, lebih tepatnya, ia masih enggan untuk merepotkan kembali sahabatnya itu. &#xA;&#xA;&#34;Ca? kenapa gak?!&#34; Bella kembali bertanya, terdengar sedikit mendesak agar Disa segara memberitahunya. &#xA;&#xA;&#34;Gak jadi deh, Bel, gue iseng aja, hehehe,&#34; &#xA;&#xA;&#34;Alah, boong. Udah, jujur aja, kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Bella sepertinya sudah mengerti tanpa harus Disa beritahu, Bella sangat peka sekali apabila Disa sedang membutuhkan bantuan, ditambah ia juga memahami kondisi Disa yang masih belum stabil perekonomiannya paska mengundurkan diri dari pekerjaan impiannya. &#xA;&#xA;&#34;Gak Enak, Bel, gue selalu-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak apa-apa, bilang ke gue sekarang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue butuh 7 juta, Bel, buat bayar UKT Adek gue, tabungan gue gak cukup buat bayar full ternyata, gue juga belum ada penghasilan, jadi masih kurang sekitar 7 jutaan buat bayar UKT Naufal.&#34; Ungkap Disa akhirnya, ia meruntuhkan ragunya, demi keperluan sang Adik yang sedang berkuliah. &#xA;&#xA;&#34;Gue ada, kok, tenang. Lu kayak sama siapa aja, sih, ragu gitu ngomongnya.&#34; Jawab Bella tanpa ada jeda.&#xA;&#xA;&#34;Serius, Bel?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Serius, lo butuhnya kapan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lusa, sih...,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue usahain ada buat lusa. Gue sekarang langsung coba ajuin pinjam darurat ke kantor, okay?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kan, nggak usah, deh, Bel, gue udah sering banget repotin lo pake cara itu. Gak jadi, deh, Bel, nanti gue cari pinjaman lain aja.&#34; Tolak Disa tak enak karena sudah beberapa kali ia memakai pinjaman darurat di kantor Bella, walau selalu melunaskan itu, tetap saja Disa tak enak, khawatir berdampak kepada nama baik Bella di kantornya. &#xA;&#xA;&#34;Gapapa, Ca, gue soalnya belum gajian, jadi cuma cara itu paling yang bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak, Bella, gak apa-apa, gue coba cari cara lain dulu, gue takut lunasinnya agak jauh dari tanggal seharusnya, terus malah lo yang kena imbasnya. Ini juga baru hari pertama kerja gue, jadi gue belum bisa jamin bisa lunasin uang kantor lo tepat waktu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kan ada gue, nanti gue tutupin lah pake gaji gue, minggu depan gue udah gajian kok.&#34;&#xA;&#xA;Rasanya Disa ingin sekali menangis, Tuhan memang memberikan banyak sekali ujian kepadanya, namun, Tuhan juga memberikan orang-orang baik berada di kehidupannya. Salah satunya adalah Bella, sahabat yang ia punya sejak di SMA, yang sangat mengerti kondisi Disa, yang akan selalu ada saat Disa membutuhkan bantuan, menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan segala bentuk keluh kesah dan cerita Disa.&#xA;&#xA;&#34;Bel..., maafin, ya, gue selalu repotin lo...,&#34; Ujar Disa pelan.&#xA;&#xA;&#34;Apa, sih, Ca, Naufal juga, kan, Adek gue. Walau dia bilang gue bawel kayak ibu tiri, tetep aja gue sayang sama dia, kayak sayangnya lo ke dia.&#34; Balas Bella kemudian.&#xA;&#xA;&#34;Gue bakal lunasin secepatnya, Bel, gue juga bakal cari part time lain deh yang bisa gue kerjain buat nambah-nambah pinjemannya.&#34; Kata Disa sungguh-sungguh.&#xA;&#xA;&#34;Udah, tenang, Ca. Udah dulu atuh, ya? Gue mau absen, terus mau urusin ke bagian keuangan, biar cepet cairnya. Lo baik-baik di sana, jangan bikin masalah, apalagi sama Bos lo, Hahaha.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Yeh, ngeledek lo, mah! Yaudah, semangat buat kita, makasih ya Bel sekali lagi, Dadah. Mwahh.&#34; Ujar Disa mengakhiri panggilan telpon tersebut. Kembali helaan napasnya terdenger, ia memejamkan matanya sembari mengusap pelan dahinya, dalam hatinya bertanya-tanya, kapan kiranya Tuhan memberikan kehidupan yang stabil untuk dirinya beserta keluarganya. &#xA;&#xA;Tanpa Disa sadari, dari beberapa waktu lalu, ada sepasang telinga yang tanpa sengaja mendengar percakapannya via telpon, sosok itu berdiri diam di luar pintu masuk ruangan, langkahnya terhenti kala mendengar obrolan serius Disa barusan, niat hatinya tak ingin mendengarkan, namun dirasanya akan lebih canggung apabila ia menampakkan dirinya pada saat tadi. &#xA;&#xA;&#34;Selamat Pagi,&#34; Sapaan tersebut menyadarkan Disa dari lamunan sesaatnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang berasal dari pintu masuk ruangan, kedua netranya terhenti seketika sata melihat paras sang pemilik suara, seakan terhipnotis, Disa terdiam dengan mata yang masih tertuju kepada sosok tersebut, bahkan tak berkedip sama sekali. &#xA;&#xA;Disa jelas mengenali wajah itu, namun rasanya sangat berbeda dengan belasan tahun lalu saat terakhir ia melihat sosok tersebut di lapangan sekolah, sedang bermain bola di bawah teriknya matahari. Kini, sosok tersebut menjelma sebagai pria dewasa yang terlihat tampan dengan tampilan yang sangat rapih, bahkan wangi darinya sudah bisa tercium dari jarak yang masih beberapa langkah lagi.&#xA;&#xA;&#34;Selamat Pagi?&#34; Sapanya kembali pada jarak yang lebih dekat, seakan sedang berusaha menyadari Disa yang tiba-tiba kaku tak bisa merespon sama sekali, &#34;Adisa?&#34; Panggilnya lagi, sedikit ragu, karena tak kunjung mendapatkan respon dari Disa sedari tadi.&#xA;&#xA;&#34;Pagi...,&#34; Jawab Disa pelan, masih berusaha untuk menyadarkan dirinya agar kembali normal tak terlihat kikuk dan kaku seperti saat ini. &#34;Pagi, Pak Jeffrey.&#34; Ulangnya lagi, terdengar lebih jelas dan tenang dari sebelumnya.&#xA;&#xA;Senyum tipis tergambar dari ranum bibir milik Jeffrey setelahnya, pembawaan Jeffrey yang tenang dan berwibawa membuat Disa sadar, bahwa sosok di depannya kini sangatlah berbeda dengan Jeffrey yang ia temui di masa SMA.&#xA;&#xA;&#34;Sudah dipesankan semuanya?&#34; Hal tersebut yang pertama kali Jeffrey tanyakan, tak ada sambutan, atau ucapan selamat datang, malah pertanyaan tersebut yang keluar dari bibirnya.&#xA;&#xA;&#34;Sudah, Pak, untuk tiketnya sudah saya bookingkan online, dan untuk kupat tahunya, sudah sesuai dengan arahan yang Bapak berikan.&#34; Jawab Disa berusaha tersenyum ramah kepada Bosnya, walau emosinya kembali membucah apabila teringat kembali perjuangannya mendapatkan kupat tahu sialan titipan bosnya.&#xA;&#xA;&#34;Good, nanti OB yang akan ambil makanannya, kamu langsung bekerja aja, sebagaimana yang Pak Wira arahkan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Baik, Pak.&#34; Jawab Disa masih dengan senyum lembutnya yang terlihat sedikit dipaksakan, tak ada sedikitpun ucapan terima kasih atau semacamnya yang seharusnya ia dengar setelah perjuangan berat dan konyolnya untuk mendapatkan pesanan aneh Jeffrey.&#xA;&#xA;&#34;Nomer rekening kamu langsung kirim ke saya via whatsapp, ya, biar semuanya saya ganti.&#34; Memang Disa butuh segera diganti uangnya, namun, tetap saja ucapan terima kasih atau maaf sudah merepotkan belum juga terdengar di kupingnya, hal tersebut semakin membuat Disa merasa jengkel.&#xA;&#xA;&#34;Baik, Pak, Terima kasih banyak, ya, Pak.&#34; Jawab Disa masih dengan senyumannya, suaranya sengaja ia lebih lembutkan, seakan-akan berusaha mengingatkan kepada Jeffrey bahwa kalimat tersebut seharusnya keluar dari mulut Jeffrey, bukan mulut Disa.&#xA;&#xA;Jeffrey terkekeh kecil mendengar itu, &#34;Sama-sama, Adisa.&#34; Jawabnya seakan sedang memancing agar Disa menanggalkan topeng yang berbentuk senyuman tersebut.&#xA;&#xA;Tak mau kalah, Disa pun ikut terkekeh setelah mendengar jawaban tersebut. Jika saja orang yang berdiri di depannya ini bukanlah Bosnya, sudah Disa pastikan ia akan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang akan menampar lawan bicaranya tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Saya ke ruangan, ya, masih banyak kerjaan yang lagi nungguin saya.&#34; P[amit Jeffrey.&#xA;&#xA;&#34;Oh, iya, silahkan, Pak, Hehehe.&#34; Balas Disa, masih dengan senyuman palsunya itu. &#xA;&#xA;Saat Jeffrey melangkahkan kakinya, meninggalkan Disa, detik itu juga senyuman pada bibir Disa sirna seketika, matanya menatap tajam punggung yang menjauh tersebut, sembari di dalam hati memaki tanpa henti Bos-nya tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Eh, iya, Disa,&#34; Langkah tersebut berhenti, dan membalikkan badannya kepada Disa, secara otomatis pula senyuman palsu Disa kembali menghiasi wajahnya, &#34;Besok pagi tolong tukar e-tiket nonton Persib saya, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maksudnya, Pak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya, itu nanti tukarkan jadi gelang, di markas kodim yang ada di Jl. Bangka. Pagi-pagi sekali, ya, soalnya ngantrinya pasti banyak banget, kalo kesiangan, kamu nya malah telat kerja nantinya.&#34; Dengan entengnya perintah tersebut keluar dari mulut Jeffrey, Disa masih melongo tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.&#xA;&#xA;&#34;Saya, Pak, yang harus tukarkan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Loh, iya, masa saya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Loh, lebih aneh lagi kalo saya, Pak.&#34; Kali ini Disa tak mau kalah lagi, sudah cukup rasanya dari kemarin ia membiarkan Jeffrey mengerjainya.&#xA;&#xA;&#34;Loh, lebih aneh lagi kalo kamu suruh saya tukarkan sendiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan nyuruh, Pak...,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya perintah kamu rasanya gak aneh, tapi kalo kamu tolak perintah saya bahkan sampai suruh saya kerjakan sendiri, itu bakal jadi aneh, Disa.&#34; Balas Jeffrey, tak ingin sedikitpun memberi peluang untuk Disa menang dalam perdebatan ini.&#xA;&#xA;&#34;Wah kacau, sih...,&#34; Timpal Disa tak tahan lagi. &#34;Kacau, jadi ngaco gini jobdesk saya, Pak, merangkap jadi asisten Bapak, ya? Kalau gitu, harusnya kita ubah kontrak kerja, dong, Pak, gak sesuai-&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau naik berapa persen? Silahkan aja, bilang ke Pak Wira, saya langsung acc-kan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan masalah itunya, Pak, tapi kan saya disini sebagai Paralegal, bukan Asisten pribadi Bapak.&#34; Kukuh Disa melawan, bahkan kini senyum di bibirnya tak lagi tergambar, seperti menolak untuk memalsukan terus menerus apa yang ia rasa.&#xA;&#xA;&#34;Tunjukin aja barcode yang ada di e-tiketnya, nanti setelahnya dikasih gelang sebagai bentuk fisik tiketnya. Dari jam 7, supaya gak ngantri sama yang lain.&#34; Ucap Jeffrey, tak mengindahkan protes yang barusan Disa suarakan. &#34;Terima kasih sebelumnya.&#34; Lanjutnya sebelum benar-benar pergi, dan masuk ke dalam ruangan kerjanya. &#xA;&#xA;&#34;Sinting.&#34; Umpat Disa pelan.&#xA;&#xA;Feelingnya benar, hari pertama akan sangat menyebalkan dan buruk. Disa mengerti, Jeffrey sengaja memerintahkan hal yang tak masuk akal untuk menguji dan membalaskan dendam masa lalunya kepada Disa. Untuk saat ini, yang bisa Disa lakukan adalah menahan dirinya untuk tetap bekerja sampai keperluan Naufal terpenuhi, sembari menyusun rencana untuk membalaskan perlakuan Jeffrey dengan caranya sendiri.&#xA;&#xA;Disa tidak pernah mau kalah dalam hal apapun, termasuk dengan Jeffrey, ia tak akan takut, walau lawannya adalah Bosnya sendiri. Bagi Disa, dunianya berjalan layaknya Hukum Hamurabi, Hukum tulis tertua yang ada di bumi. Gigi dibalas gigi, mata dibalas mata. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;-Ara.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Jika ada nominasi jalan hidup ter-plot twist di dunia ini, Disa yakin sekali bahwa dirinya akan menjadi top-10 dari jajaran yang masuk di dalamnya. Hal tersebut diyakini Disa, karena banyak sekali kejadian-kejadian tak disangka terjadi, terhitung sejak ia lahir di dunia.</p>

<p>Contoh kecilnya dapat di lihat saat ini, siapa sangka lulusan terbaik pengadaan serta pendidikan dan pelatihan jaksa kini sedang duduk di kantor Firma hukum yang baru saja memperkerjakannya. Untuk menjadi Pengacara setelah mengikuti banyak sekali prosedur menjadi seorang jaksa? Tentu saja tidak, bagian ter-plot twistnya, ia malah menjadi paralegal di Firma hukum ini.</p>

<p>Paralegal tentunya sangat jauh sekali dari yang Disa cita-citakan. Jika dibandingkan dengan Jaksa, sudah pasti sangat jauh sekali tingkatannya. Ia hanya bisa membantu Pengacara, bahkan untuk beracara atau ikut praktik hukum saja ia tak bisa. Siapapun yang melihatnya sekarang sudah pasti ikut iba dengan pilihan yang mau tak mau harus ia terima.</p>

<p>“Ini meja Mbak Disa, berdekatan dengan ruangan Pak Jeffrey dan Pak Dimas. Ada satu lagi Mbak Nata, sama dengan Mbak Disa bekerja sebagai Paralegal juga, tapi lagi cuti melahirkan.” Ucap seorang Pria berumur setengah abad itu kepada Disa, beliau adalah Pak Wira, orang pertama yang ia kenal di kantor ini, bahkan Pak Wira lah yang dari awal ia temui saat melamar kerja di Firma Hukum ini.</p>

<p>“Makasih banyak, Pak.” Balas Disa dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Pak Wira sebelum akhirnya ia ditinggal sendiri di mejanya.</p>

<p>Disa menghela napas panjangnya, sembari meletakkan kantong plastik berisikan beberapa bungkus kupat tahu yang ia beli tadi. Disa menatap kesal pada bungkusan tersebut, sembari mengusap kasar wajahnya, tanpa mempedulikan lagi make-up nya yang sudah terlanjur hilang akibat antrian lama untuk mendapatkan kupat tahu pesanan Bos-nya, Jeffrey, Kakak kelas yang dulu sangat ia benci akibat terus-terusan mengganggunya.</p>

<p>“Persetanan sama kupat tahu gajelas ini, kalo gak waras, mah, udah gue taro racun di dalemnya.” Gerutu Disa pelan sembari mengetikkan pesan pada ponselnya, memberitahu Bos barunya bahwa pesanannya sudah datang, lengkap dengan note yang tak masuk logika siapapun yang mendengarnya, bahkan penjualnya pun tak habis pikir ada pesanan serupa demikian.</p>

<p>“Kelar bayar UKT Nopal, detik itu juga gue bakal resign dari kantor gaje ini.” gumamnya kembali setelah mengirim pesan kepada bos-nya tersebut. Disa kemudian mengeluarkan bedaknya, berniat untuk memoles kembali wajahnya yang sudah terkena banyak sekali polusi beserta keringat saat mengantri pesanan, ia sempat melihat sekitar yang masih sepi juga, belum berdatangan pekerja lainnya.</p>

<p>Saat tengah memoleskan lipcream pada bibirnya, sudut matanya menangkap ada bayang yang berjalan mendekat, segera Disa menyudahi kegiatannya tersebut, dan langsung berdiri untuk menyapa yang akan datang. Sialnya, Disa baru tersadar bahwa kontak lensanya belum sempat ia pakai, pantas saja pandangannya sangat kabur sekali melihat dua sosok yang mendekat.</p>

<p>“Selamat pagi,” Sapa salah satunya dari beberapa langkah di depannya, “Pagi, Pak.” Balas Disa sembari menyipitkan kedua matanya, guna melihat secara jelas dua sosok yang akan menghampirinya.</p>

<p>“Lama nggak ketemu, ya? Gak nyangka bakal satu tempat kerja sama lo.” Ucap suara yang lainnya pada jarak yang lebih dekat lagi.</p>

<p>“Eh? Kak?” Respon Disa terkejut saat dua sosok tersebut berada tepat di depannya, sehingga Disa bisa melihat dengan jelas keduanya. “Kak Dimas?” Lanjut Disa seakan masih meragukan penglihatan dan ingatannya.</p>

<p>Sosok berkacamata itu pun tergelak ringan melihat ekspresi kaget Disa, “Hahaha, kirain udah lupa sama gue,” Jawabnya renyah, sosok laki-laki di sampingnya ikut tersenyum ramah kepada Disa. “Gue kerja di sini juga sama Jeffrey, Hahaha, random banget, ya, semesta?” Lanjutnya.</p>

<p>Disa tertawa canggung, sembari di dalam hati kembali mengutuki takdirnya yang penuh dengan kejutan, seakan tak cukup memberikan <em>shock terapy</em> berupa Bos yang dulunya adalah laki-laki yang ia tolak mentah-mentah, kini mantan pertamanya di masa SMA pun turut hadir kembali di kehidupannya.</p>

<p>“Ohiya, ini Mahesa, dia juga Lawyer di sini.” Ucap Dimas kembali, memperkenalkan laki-laki di sampingnya.</p>

<p>“Salam kenal, Pak-”</p>

<p>“Panggil Esa, aja, Mbak.” Potongnya sembari membalas jabatan tangan Disa segera. “Iya, panggil dia Esa aja, masih muda banget dia, jauh sama lo umurnya.” Ujar Dimas kembali menambahkan.</p>

<p>Canggung tergambar jelas dari wajah Disa, rasanya ingin sekali ia dengan cepat mengakhiri hari ini, melepaskan diri dari banyaknya kejutan lain yang sepertinya sedang menanti.</p>

<p>“Semoga betah, ya, kalo ada apa-apa, lo boleh tanya-tanya gue atau Mahesa, ruangan kita di sana.” Ucap Dimas sembari menunjuk ke arah ruangan yang ada di samping kanan meja kerja Disa. “Yaudah, kita berdua ke ruangan dulu, ya. Banyak berkas yang harus disiapin buat sidang hari ini.” Pamit Dimas seakan peka dengan apa yang Disa rasa.</p>

<p>“Makasih banyak, Kak- Eh Pak, maksudnya,”</p>

<p>“Santai, gausah kaku kalo ke gue, panggil kayak yang biasanya aja.” Balas Dimas lagi.</p>

<p>“Iya, Kak, makasih, ya,” Ucap Disa kemudian.</p>

<p>Setelah memastikan Dimas dan Mahesa sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan mereka, Disa segera menjatuhkan pasrah dirinya ke kursinya, kakinya terasa semakin melemas, kalau saja bisa, mungkin ia sudah berteriak kencang saat ini juga, memaki apapun yang ada di sekitarnya untuk menumpahkan apa yang ia rasa.</p>

<p>“Mana sih ini tempat soflensnya?!” Entah sudah keberapa kalinya ia menggerutu kesal, jemarinya dengan tidak sabar mencari-cari di meja kantornya, “Bisa gak, lo gak usah ikut-ikutan nyebelin?!” Ucapnya sendiri terhadap tempat kontak lensa yang terselip di antara tas dan tumpukan kertas di mejanya. Dengan kesal pula ia kembali memakai kontak lensanya tersebut.</p>

<p>Seakan tak diberi jeda, dering dari telpon miliknya terdengar, pertanda adanya panggilan masuk yang ada, “Siapa lagi, sih, ini? ganggu- Eh, Bella,” Emosinya seketika memudar saat melihat nama dari si penelpon tersebut.</p>

<p>“Halo, Bel?” Dengan segera pula Disa mengangkat panggilan tersebut.</p>

<p>“Ca, tadi subuh lo nelpon, ya? Sorry gak keangkat, kenapa ca?”</p>

<p>“Iya, tadi gue nelpon lo, mau-”</p>

<p>“Wait, lo jadi kerja, kan? Jangan bilang lo beneran gak ambil kerjaannya.” Belum selesai Disa menjawab, Bella lebih dulu memotongnya, terdengar sangat khawatir bila Disa benar-benar memilih untuk tidak mengambil pekerjaannya.</p>

<p>“Jadi, jenong. Ini udah di kantor sambil nenteng-nenteng kresek isi kupat tahu, hadeuh.” Keluh Disa tak tertahan, bola matanya memutar kesal saat kembali melihat bungkusan kupat tahu di mejanya itu.</p>

<p>“Hah, kok bisa?”</p>

<p>“Panjang ceritanya, nanti pas pulang gue ceritain, banyak banget yang aneh-aneh di sini, demi tuhan, aneh semua.” Sedikit Disa mencoba menggambarkan apa yang ia alami beberapa jam saat bekerja di Firma Jeffrey, ia tak mungkin menceritakan semuanya saat ini juga, apalagi masih di lingkupan kantor dan masih jam kerja.</p>

<p>“Oke deh, terus nelpon subuh-subuh tadi kenapa?”</p>

<p>Disa tak langsung menjawab pertanyaan itu, ia masih ragu sebenarnya untuk memberitahu maksudnya menelpon Bella subuh tadi, lebih tepatnya, ia masih enggan untuk merepotkan kembali sahabatnya itu.</p>

<p>“Ca? kenapa gak?!” Bella kembali bertanya, terdengar sedikit mendesak agar Disa segara memberitahunya.</p>

<p>“Gak jadi deh, Bel, gue iseng aja, hehehe,”</p>

<p>“Alah, boong. Udah, jujur aja, kenapa?”</p>

<p>Bella sepertinya sudah mengerti tanpa harus Disa beritahu, Bella sangat peka sekali apabila Disa sedang membutuhkan bantuan, ditambah ia juga memahami kondisi Disa yang masih belum stabil perekonomiannya paska mengundurkan diri dari pekerjaan impiannya.</p>

<p>“Gak Enak, Bel, gue selalu-”</p>

<p>“Gak apa-apa, bilang ke gue sekarang.”</p>

<p>“Gue butuh 7 juta, Bel, buat bayar UKT Adek gue, tabungan gue gak cukup buat bayar full ternyata, gue juga belum ada penghasilan, jadi masih kurang sekitar 7 jutaan buat bayar UKT Naufal.” Ungkap Disa akhirnya, ia meruntuhkan ragunya, demi keperluan sang Adik yang sedang berkuliah.</p>

<p>“Gue ada, kok, tenang. Lu kayak sama siapa aja, sih, ragu gitu ngomongnya.” Jawab Bella tanpa ada jeda.</p>

<p>“Serius, Bel?”</p>

<p>“Serius, lo butuhnya kapan?”</p>

<p>“Lusa, sih...,”</p>

<p>“Gue usahain ada buat lusa. Gue sekarang langsung coba ajuin pinjam darurat ke kantor, okay?”</p>

<p>“Kan, nggak usah, deh, Bel, gue udah sering banget repotin lo pake cara itu. Gak jadi, deh, Bel, nanti gue cari pinjaman lain aja.” Tolak Disa tak enak karena sudah beberapa kali ia memakai pinjaman darurat di kantor Bella, walau selalu melunaskan itu, tetap saja Disa tak enak, khawatir berdampak kepada nama baik Bella di kantornya.</p>

<p>“Gapapa, Ca, gue soalnya belum gajian, jadi cuma cara itu paling yang bisa.”</p>

<p>“Nggak, Bella, gak apa-apa, gue coba cari cara lain dulu, gue takut lunasinnya agak jauh dari tanggal seharusnya, terus malah lo yang kena imbasnya. Ini juga baru hari pertama kerja gue, jadi gue belum bisa jamin bisa lunasin uang kantor lo tepat waktu.”</p>

<p>“Kan ada gue, nanti gue tutupin lah pake gaji gue, minggu depan gue udah gajian kok.”</p>

<p>Rasanya Disa ingin sekali menangis, Tuhan memang memberikan banyak sekali ujian kepadanya, namun, Tuhan juga memberikan orang-orang baik berada di kehidupannya. Salah satunya adalah Bella, sahabat yang ia punya sejak di SMA, yang sangat mengerti kondisi Disa, yang akan selalu ada saat Disa membutuhkan bantuan, menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan segala bentuk keluh kesah dan cerita Disa.</p>

<p>“Bel..., maafin, ya, gue selalu repotin lo...,” Ujar Disa pelan.</p>

<p>“Apa, sih, Ca, Naufal juga, kan, Adek gue. Walau dia bilang gue bawel kayak ibu tiri, tetep aja gue sayang sama dia, kayak sayangnya lo ke dia.” Balas Bella kemudian.</p>

<p>“Gue bakal lunasin secepatnya, Bel, gue juga bakal cari part time lain deh yang bisa gue kerjain buat nambah-nambah pinjemannya.” Kata Disa sungguh-sungguh.</p>

<p>“Udah, tenang, Ca. Udah dulu atuh, ya? Gue mau absen, terus mau urusin ke bagian keuangan, biar cepet cairnya. Lo baik-baik di sana, jangan bikin masalah, apalagi sama Bos lo, Hahaha.”</p>

<p>“Yeh, ngeledek lo, mah! Yaudah, semangat buat kita, makasih ya Bel sekali lagi, Dadah. Mwahh.” Ujar Disa mengakhiri panggilan telpon tersebut. Kembali helaan napasnya terdenger, ia memejamkan matanya sembari mengusap pelan dahinya, dalam hatinya bertanya-tanya, kapan kiranya Tuhan memberikan kehidupan yang stabil untuk dirinya beserta keluarganya.</p>

<p>Tanpa Disa sadari, dari beberapa waktu lalu, ada sepasang telinga yang tanpa sengaja mendengar percakapannya via telpon, sosok itu berdiri diam di luar pintu masuk ruangan, langkahnya terhenti kala mendengar obrolan serius Disa barusan, niat hatinya tak ingin mendengarkan, namun dirasanya akan lebih canggung apabila ia menampakkan dirinya pada saat tadi.</p>

<p>“Selamat Pagi,” Sapaan tersebut menyadarkan Disa dari lamunan sesaatnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang berasal dari pintu masuk ruangan, kedua netranya terhenti seketika sata melihat paras sang pemilik suara, seakan terhipnotis, Disa terdiam dengan mata yang masih tertuju kepada sosok tersebut, bahkan tak berkedip sama sekali.</p>

<p>Disa jelas mengenali wajah itu, namun rasanya sangat berbeda dengan belasan tahun lalu saat terakhir ia melihat sosok tersebut di lapangan sekolah, sedang bermain bola di bawah teriknya matahari. Kini, sosok tersebut menjelma sebagai pria dewasa yang terlihat tampan dengan tampilan yang sangat rapih, bahkan wangi darinya sudah bisa tercium dari jarak yang masih beberapa langkah lagi.</p>

<p>“Selamat Pagi?” Sapanya kembali pada jarak yang lebih dekat, seakan sedang berusaha menyadari Disa yang tiba-tiba kaku tak bisa merespon sama sekali, “Adisa?” Panggilnya lagi, sedikit ragu, karena tak kunjung mendapatkan respon dari Disa sedari tadi.</p>

<p>“Pagi...,” Jawab Disa pelan, masih berusaha untuk menyadarkan dirinya agar kembali normal tak terlihat kikuk dan kaku seperti saat ini. “Pagi, Pak Jeffrey.” Ulangnya lagi, terdengar lebih jelas dan tenang dari sebelumnya.</p>

<p>Senyum tipis tergambar dari ranum bibir milik Jeffrey setelahnya, pembawaan Jeffrey yang tenang dan berwibawa membuat Disa sadar, bahwa sosok di depannya kini sangatlah berbeda dengan Jeffrey yang ia temui di masa SMA.</p>

<p>“Sudah dipesankan semuanya?” Hal tersebut yang pertama kali Jeffrey tanyakan, tak ada sambutan, atau ucapan selamat datang, malah pertanyaan tersebut yang keluar dari bibirnya.</p>

<p>“Sudah, Pak, untuk tiketnya sudah saya bookingkan online, dan untuk kupat tahunya, sudah sesuai dengan arahan yang Bapak berikan.” Jawab Disa berusaha tersenyum ramah kepada Bosnya, walau emosinya kembali membucah apabila teringat kembali perjuangannya mendapatkan kupat tahu sialan titipan bosnya.</p>

<p>“Good, nanti OB yang akan ambil makanannya, kamu langsung bekerja aja, sebagaimana yang Pak Wira arahkan.”</p>

<p>“Baik, Pak.” Jawab Disa masih dengan senyum lembutnya yang terlihat sedikit dipaksakan, tak ada sedikitpun ucapan terima kasih atau semacamnya yang seharusnya ia dengar setelah perjuangan berat dan konyolnya untuk mendapatkan pesanan aneh Jeffrey.</p>

<p>“Nomer rekening kamu langsung kirim ke saya via whatsapp, ya, biar semuanya saya ganti.” Memang Disa butuh segera diganti uangnya, namun, tetap saja ucapan terima kasih atau maaf sudah merepotkan belum juga terdengar di kupingnya, hal tersebut semakin membuat Disa merasa jengkel.</p>

<p>“Baik, Pak, Terima kasih banyak, ya, Pak.” Jawab Disa masih dengan senyumannya, suaranya sengaja ia lebih lembutkan, seakan-akan berusaha mengingatkan kepada Jeffrey bahwa kalimat tersebut seharusnya keluar dari mulut Jeffrey, bukan mulut Disa.</p>

<p>Jeffrey terkekeh kecil mendengar itu, “Sama-sama, Adisa.” Jawabnya seakan sedang memancing agar Disa menanggalkan topeng yang berbentuk senyuman tersebut.</p>

<p>Tak mau kalah, Disa pun ikut terkekeh setelah mendengar jawaban tersebut. Jika saja orang yang berdiri di depannya ini bukanlah Bosnya, sudah Disa pastikan ia akan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang akan menampar lawan bicaranya tersebut.</p>

<p>“Saya ke ruangan, ya, masih banyak kerjaan yang lagi nungguin saya.” P[amit Jeffrey.</p>

<p>“Oh, iya, silahkan, Pak, Hehehe.” Balas Disa, masih dengan senyuman palsunya itu.</p>

<p>Saat Jeffrey melangkahkan kakinya, meninggalkan Disa, detik itu juga senyuman pada bibir Disa sirna seketika, matanya menatap tajam punggung yang menjauh tersebut, sembari di dalam hati memaki tanpa henti Bos-nya tersebut.</p>

<p>“Eh, iya, Disa,” Langkah tersebut berhenti, dan membalikkan badannya kepada Disa, secara otomatis pula senyuman palsu Disa kembali menghiasi wajahnya, “Besok pagi tolong tukar e-tiket nonton Persib saya, ya?”</p>

<p>“Maksudnya, Pak?”</p>

<p>“Iya, itu nanti tukarkan jadi gelang, di markas kodim yang ada di Jl. Bangka. Pagi-pagi sekali, ya, soalnya ngantrinya pasti banyak banget, kalo kesiangan, kamu nya malah telat kerja nantinya.” Dengan entengnya perintah tersebut keluar dari mulut Jeffrey, Disa masih melongo tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.</p>

<p>“Saya, Pak, yang harus tukarkan?”</p>

<p>“Loh, iya, masa saya?”</p>

<p>“Loh, lebih aneh lagi kalo saya, Pak.” Kali ini Disa tak mau kalah lagi, sudah cukup rasanya dari kemarin ia membiarkan Jeffrey mengerjainya.</p>

<p>“Loh, lebih aneh lagi kalo kamu suruh saya tukarkan sendiri.”</p>

<p>“Bukan nyuruh, Pak...,”</p>

<p>“Saya perintah kamu rasanya gak aneh, tapi kalo kamu tolak perintah saya bahkan sampai suruh saya kerjakan sendiri, itu bakal jadi aneh, Disa.” Balas Jeffrey, tak ingin sedikitpun memberi peluang untuk Disa menang dalam perdebatan ini.</p>

<p>“Wah kacau, sih...,” Timpal Disa tak tahan lagi. “Kacau, jadi ngaco gini <em>jobdesk</em> saya, Pak, merangkap jadi asisten Bapak, ya? Kalau gitu, harusnya kita ubah kontrak kerja, dong, Pak, gak sesuai-”</p>

<p>“Mau naik berapa persen? Silahkan aja, bilang ke Pak Wira, saya langsung acc-kan.”</p>

<p>“Bukan masalah itunya, Pak, tapi kan saya disini sebagai Paralegal, bukan Asisten pribadi Bapak.” Kukuh Disa melawan, bahkan kini senyum di bibirnya tak lagi tergambar, seperti menolak untuk memalsukan terus menerus apa yang ia rasa.</p>

<p>“Tunjukin aja barcode yang ada di e-tiketnya, nanti setelahnya dikasih gelang sebagai bentuk fisik tiketnya. Dari jam 7, supaya gak ngantri sama yang lain.” Ucap Jeffrey, tak mengindahkan protes yang barusan Disa suarakan. “Terima kasih sebelumnya.” Lanjutnya sebelum benar-benar pergi, dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.</p>

<p>“Sinting.” Umpat Disa pelan.</p>

<p>Feelingnya benar, hari pertama akan sangat menyebalkan dan buruk. Disa mengerti, Jeffrey sengaja memerintahkan hal yang tak masuk akal untuk menguji dan membalaskan dendam masa lalunya kepada Disa. Untuk saat ini, yang bisa Disa lakukan adalah menahan dirinya untuk tetap bekerja sampai keperluan Naufal terpenuhi, sembari menyusun rencana untuk membalaskan perlakuan Jeffrey dengan caranya sendiri.</p>

<p>Disa tidak pernah mau kalah dalam hal apapun, termasuk dengan Jeffrey, ia tak akan takut, walau lawannya adalah Bosnya sendiri. Bagi Disa, dunianya berjalan layaknya Hukum Hamurabi, Hukum tulis tertua yang ada di bumi. Gigi dibalas gigi, mata dibalas mata.</p>

<hr/>

<p>-Ara.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kejeffreyan.writeas.com/hukum-hamurabi</guid>
      <pubDate>Tue, 17 Oct 2023 12:17:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sendiri, sepi. </title>
      <link>https://kejeffreyan.writeas.com/sendiri-sepi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Alana menghela napas beratnya tanpa henti, menyalurkan sesak di dada yang terasa sedari tadi. Matanya tak kunjung menitihkan bulir bening, membuat sesak yang ia rasa semakin menjadi. Tanpa sadar, tangannya meremas kuat kaus yang ia kenakan.&#xA;&#xA;“Bodoh, Al, bego, goblok, emang lo, tuh, tolol. Gak pantes lo ngerasain bahagia, cinta tulus, kasih sayang, gak pantes.” Ucapnya seorang diri.&#xA;&#xA;Hari ini, tepat di perayaan satu bulannya menjalin kisah kasih bersama Sakha, mata Alana dengan jelas melihat Sakha merangkul mesra mantan kekasihnya. Saat itu juga, tanpa berpikir panjang, Alana segera menghampiri keduanya yang nampak terkejut dengan kedatangan Alana. &#xA;&#xA;Alana marah, namun, entah mengapa rasanya ia tak bisa meluapkan emosinya, sehingga yang ia lakukan hanyalah tersenyum tipis kepada keduanya, sembari mengatakan, “Seneng liat sampah diangkut sama truk sampah. So, ambil dia, gue udah buang dia.” Ucap Alana kepada perempuan berwajah lugu tersebut. “Sakha, mulai sekarang kita putus. Nikmatin pilihan lo, dan tunggu semesta yang bales jahatnya lo ke gue.” sambung Alana kemudian memilih pergi meninggalkan keduanya.&#xA;&#xA;Bohong apabila Alana bilang kepada teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. Sekuat apapun Alana menahan, tetap saja sakit di hatinya tak bisa disembunyikan oleh dirinya sendiri yang merasakan. &#xA;&#xA;Temannya pikir Alana benar-benar kuat, sehingga tak terlalu khawatir karena Alana sama sekali tak menitihkan air matanya. Tanpa mereka sadari, bahwa sakit sesungguhnya berasal dari air mata yang tertahan dan menimbulkan sesak yang luar biasa di dada.&#xA;&#xA;“Gak apa-apa, gue udah bisa, kok, sama pola kayak gini. Gue hanya cukup tidur, makan yang enak, dan lupain semuanya. Gampang, kok, Al, lo pasti bisa.” Kembali Alana berbincang dengan dirinya sendiri, walau tangannya masih saja mencengkram kuat kausnya. Ia berusaha tersenyum, bahkan tertawa seorang diri, berharap usahanya tersebut dapat meredakan nyeri di dadanya.&#xA;&#xA;“Gak apa-apa…” kali ini suaranya terdengar lirih.&#xA;&#xA;“Gak apa-apa, kok, Al…” semakin lirih dari sebelumnya.&#xA;&#xA;Kepalanya lalu menunduk dalam, bahunya tak lagi tegap, ia duduk di lantai kosannya seorang diri, dengan lampu kamar yang sengaja ia matikan. “Gak apa-apa….” lanjutnya lagi.&#xA;&#xA;“Emang lo gak ditakdirin bahagia, Al….”&#xA;&#xA;Bahu Alana bergetar setelahnya, isak tangisnya mulai terdengar walau pelan. Namun, pelan tersebut ternyata tak berlangsung lama, karena beberapa detik berikutnya isak tersebut berubah menjadi kencang, tangan Alana yang tadinya mencengkram kausnya berubah menjadi gerakan memukul dadanya secara berulang, menumpahkan segala kecewa dan sedih yang ia rasa.&#xA;&#xA;“Gagal… tuhan kasih gue gagal… mau sampe kapan… hiks… capek… capek….” Rintihnya seorang diri.&#xA;&#xA;Entah untuk yang keberapa kalinya Alana disakiti, hubungan percintaannya selalu berakhir tragis. Entah itu perselingkuhan, tak direstui, dibohongi, rasanya semua bentuk kebrengsekan laki-laki sudah Alana lalui. &#xA;&#xA;“Capek… gue capek gini terus….”&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Alana menghela napas beratnya tanpa henti, menyalurkan sesak di dada yang terasa sedari tadi. Matanya tak kunjung menitihkan bulir bening, membuat sesak yang ia rasa semakin menjadi. Tanpa sadar, tangannya meremas kuat kaus yang ia kenakan.</p>

<p>“Bodoh, Al, bego, goblok, emang lo, tuh, tolol. Gak pantes lo ngerasain bahagia, cinta tulus, kasih sayang, gak pantes.” Ucapnya seorang diri.</p>

<p>Hari ini, tepat di perayaan satu bulannya menjalin kisah kasih bersama Sakha, mata Alana dengan jelas melihat Sakha merangkul mesra mantan kekasihnya. Saat itu juga, tanpa berpikir panjang, Alana segera menghampiri keduanya yang nampak terkejut dengan kedatangan Alana.</p>

<p>Alana marah, namun, entah mengapa rasanya ia tak bisa meluapkan emosinya, sehingga yang ia lakukan hanyalah tersenyum tipis kepada keduanya, sembari mengatakan, <em>“Seneng liat sampah diangkut sama truk sampah. So, ambil dia, gue udah buang dia.”</em> Ucap Alana kepada perempuan berwajah lugu tersebut. <em>“Sakha, mulai sekarang kita putus. Nikmatin pilihan lo, dan tunggu semesta yang bales jahatnya lo ke gue.”</em> sambung Alana kemudian memilih pergi meninggalkan keduanya.</p>

<p>Bohong apabila Alana bilang kepada teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. Sekuat apapun Alana menahan, tetap saja sakit di hatinya tak bisa disembunyikan oleh dirinya sendiri yang merasakan.</p>

<p>Temannya pikir Alana benar-benar kuat, sehingga tak terlalu khawatir karena Alana sama sekali tak menitihkan air matanya. Tanpa mereka sadari, bahwa sakit sesungguhnya berasal dari air mata yang tertahan dan menimbulkan sesak yang luar biasa di dada.</p>

<p>“Gak apa-apa, gue udah bisa, kok, sama pola kayak gini. Gue hanya cukup tidur, makan yang enak, dan lupain semuanya. Gampang, kok, Al, lo pasti bisa.” Kembali Alana berbincang dengan dirinya sendiri, walau tangannya masih saja mencengkram kuat kausnya. Ia berusaha tersenyum, bahkan tertawa seorang diri, berharap usahanya tersebut dapat meredakan nyeri di dadanya.</p>

<p>“Gak apa-apa…” kali ini suaranya terdengar lirih.</p>

<p>“Gak apa-apa, kok, Al…” semakin lirih dari sebelumnya.</p>

<p>Kepalanya lalu menunduk dalam, bahunya tak lagi tegap, ia duduk di lantai kosannya seorang diri, dengan lampu kamar yang sengaja ia matikan. “Gak apa-apa….” lanjutnya lagi.</p>

<p>“Emang lo gak ditakdirin bahagia, Al….”</p>

<p>Bahu Alana bergetar setelahnya, isak tangisnya mulai terdengar walau pelan. Namun, pelan tersebut ternyata tak berlangsung lama, karena beberapa detik berikutnya isak tersebut berubah menjadi kencang, tangan Alana yang tadinya mencengkram kausnya berubah menjadi gerakan memukul dadanya secara berulang, menumpahkan segala kecewa dan sedih yang ia rasa.</p>

<p>“Gagal… tuhan kasih gue gagal… mau sampe kapan… hiks… capek… capek….” Rintihnya seorang diri.</p>

<p>Entah untuk yang keberapa kalinya Alana disakiti, hubungan percintaannya selalu berakhir tragis. Entah itu perselingkuhan, tak direstui, dibohongi, rasanya semua bentuk kebrengsekan laki-laki sudah Alana lalui.</p>

<p>“Capek… gue capek gini terus….”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kejeffreyan.writeas.com/sendiri-sepi</guid>
      <pubDate>Thu, 07 Jul 2022 17:27:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ayah, Terima kasih.</title>
      <link>https://kejeffreyan.writeas.com/ayah-terima-kasih?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tw // mention of death&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Satu jam sudah berlalu setelah isak tangis mewarnai ruang tunggu, Haekal, Hanna, Bi Nur saat ini sudah duduk di bangku yang telah tersedia, Jay masih dengan setia berdiri menanti pintu ICU terbuka, ditambah lagi saat ini sudah hadir keempat sahabat Haekal yang turut menunggu kabar baik dari ruangan tersebut. &#xA;&#xA;Isak tangis mulai mereda, tak sekeras sebelumnya, walau masih saja helaan napas berat terdengar beberapa kali, cemas dan gelisah sama sekali tak bisa ditutupi oleh semua yang berada di ruang tunggu tersebut. &#xA;&#xA;Tak terkecuali dari mereka yang menunggu cemas semuanya memakai baju yang rapih selayaknya menghadiri undangan acara. Tak disangka oleh mereka, baju rapih yang dikenakan untuk datang ke acara ulang tahun Haekal, berakhir di rumah sakit ini. &#xA;&#xA;Tak ada acara tiup lilin dan memotong kue seperti yang direncanakan, tak ada pula hidangan mewah yang seharusnya mereka nikmati, tak ada letusan balon iseng yang mungkin saja akan dilakukan oleh keempat sahabat Haekal. Tak pernah terbayangkan oleh semuanya, pesta kejutan tersebut akan tergantikan oleh kecelakaan tragis yang berhasil membuat 18 tahun Haekal menjadi kelabu  tak berbahagia.&#xA;&#xA;&#34;Jam berapa?&#34; bisik Reno kepada Cena yang segera melihat kepada arloji yang ia pakai, Cena tak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya memperlihatkan jamnya kepada Reno, &#34;Satu setengah jam lagi ultahnya kelar,&#34; bisik Reno lagi terdengar prihatin setelah melirik sesaat kepada Haekal yang menunduk di bangku tunggu.&#xA;&#xA;&#34;Gak kuat gue,&#34; bisik Jere yang berada di samping kiri Reno, terlihat juga mata Jere yang mulai berkaca-kaca, menahan agar tak jatuh butiran bening tersebut. Reno merespon itu dengan menepuk pelan bahu Jere, berusaha saling menguatkan di saat kondisi seperti saat ini.&#xA;&#xA;Bagi keempat teman Haekal, ini merupakan kali pertama mereka melihat Haekal menunduk pasrah seperti sekarang, Haekal yang mereka kenal, sama sekali tak pernah terlihat sepasrah sekarang, pandangannya yang berani tak sekalipun mereka pernah lihat menunduk lemah.&#xA;&#xA;Mereka sangat paham, Haekal sangat benci dikasihani, namun, untuk saat ini, tak ada lagi selain tatapan iba yang mereka bisa layangkan kepada Haekal. Terlihat jelas oleh siapapun sisi rapuh yang selama ini Haekal sembunyikan, menyadarkan keempat temannya, betapa sulit dan beratnya kehidupan yang selama ini Haekal jalani, dan menjadi hal yang wajar apabila Haekal sering kali memarahi mereka yang kurang mensyukuri kehidupan dan keluarga yang mereka miliki.&#xA;&#xA;Setelah lama menanti, pada akhirnya mereka melihat pintu tersebut terbuka, dan memperlihatkan seorang dokter berusia paruh baya berjalan untuk menghampiri mereka yang sedari tadi sedang menunggu cemas. Semua pandangan tertuju kepada Dokter tersebut, begitupun dengan Haekal dan Hanna yang segera berdiri dari duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Saya boleh bicara dengan wali pasien Jovan?&#34; kalimat tersebut yang pertama mereka dengar, nampak juga Dokter mencari sosok yang menjadi Wali Jovan.&#xA;&#xA;&#34;Saya anaknya,&#34; Tanpa ragu, Haekal mengangkat tangannya, dan mendekatkan dirinya kepada Dokter tersebut, sedangkan Hanna segera diam tak mengikuti Haekal, ia sadar, ia bukan termasuk ke dalam wali dari Jovan. Namun, tak lama kemudian, ia merasakan tangannya digandeng oleh seseorang untuk mengikuti langkah Haekal, saat di dilihatnya, ternyata jemari Ibu Jovan yang mengajaknya untuk mendekat kepada Dokter tersebut. &#xA;&#xA;Ketiganya berdiri tepat di depan Dokter tersebut, berusaha untuk menebak arti dari mimik wajah Dokter itu, yang sama sekali tak bisa mereka temui adanya senyum yang menandakan harapan.&#xA;&#xA;&#34;Ayah saya baik-baik aja &#39;kan, Dok?&#34; tanya Haekal, Dokter tersebut menatap Haekal sendu, terlihat ada keraguan untuknya menjawab pertanyaam tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Maaf,&#34; sepatah kata tersebut yang malah terdengar, membuat genggaman tangan Ibu Jovan kepada Hanna semakin erat seakan menguatkan dirinya untuk mendengar lanjutan dari ucapan tersebut. Haekal menggeleng pelan, mencoba memperlihatkan, bahwa bukan kata maaflah yang ingin ia dengar.&#xA;&#xA;&#34;Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Pasien, namun, tepatnya tadi, setelah melakukan berbagai macam tes yang menunjukan tidak ada reflek otak dari tubuh Pasien, begitupun dengan tanda-tanda vital lainnya, Pasien juga sudah tidak mampu lagi bernapas sendiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya, Dok?&#34;  &#xA;&#xA;&#34;Pasien dinyatakan mati otak.&#34; Ucap Dokter tersebut dengan sangat berat hati.&#xA;&#xA;Seperti petir yang menyambar, satu kalimat penjelas tersebut mampu membuat napas mereka tertahan seperkian detik, otak mereka terpaksa mencerna apa yang baru saja didengar, sampai-sampai detik berikutnya Ibu Jovan hampir terjatuh karena kakinya yang tak mampu lagi menopang tubuhnya, untungnya Hanna yang sedari tadi digenggam tangannya, berhasil menahan Ibu Jovan agar tak jatuh ke lantai.&#xA;&#xA;&#34;Kami mohon maaf harus memberitahu kabar ini, kami sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Pasien, namun, Tuhan berkata lain.&#34; Kembali Dokter tersebut menjelaskan, Haekal yang sedari tadi mendengarkan, masih berdiri diam di depan Dokter tersebut, tak begitu terlihat ekspresi apa yang ada pada wajahnya saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Jadi Ayah saya enggak ada harapan lagi, Dok?&#34; tanya Haekal, suaranya terdengar pelan daripada sebelumnya, dengan berat hati, Dokter tersebut mengangguk merespon pertanyaan Haekal. Melihat itu, semakin menjadi pula isak tangis dari Ibu Jovan, Jay yang tadinya berdiri kaku, segera berjalan menuju Ibu Jovan, dan membantu Hanna untuk memegangi Ibu Jovan, kemudian ia membantu agar Ibu Jovan kembali duduk di bangku sebelumnya. &#xA;&#xA;&#34;Kal,&#34; lirih Hanna pelan, selain rasa hancur yang teramat pedih Hanna rasakan, ia juga merasakan khawatir terhadap Haekal yang sampai saat ini belum sama sekali memperlihatkan emosinya dari raut wajahnya.&#xA;&#xA;Mendengar panggilan pelan tersebut, Haekal menoleh kepada Hanna yang saat ini pipinya sudah dibasahi lagi oleh air mata, samar sekali terlihat ekspresi apa yang ada di wajah Haekal saat menatap Hanna, namun, Hanna dapat melihat manik kesedihan yang mendalam dari mata Haekal. Saat ini Haekal sedang berusaha menyembunyikan rasa hancurnya di depan Hanna. &#xA;&#xA;&#34;Mah, Ayah kesakitan kalau gini terus, ya?&#34; tanya Haekal.&#xA;&#xA;Hati Hanna terasa semakin pedih saat mendengar pertanyaan tersebut, linangan air mata semakin deras membasahi kedua pipinya, kemudian Hanna mengangguk menjawab pertanyaan tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Kalau alat-alat medisnya dilepas, Ayah sudah pasti meninggal, ya?&#34; kembali Haekal bertanya, namun, kali ini tak satupun yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Semua yang ada di sana hanya mampu menunduk saat mendengar pertanyaan yang sangat menyakitkan tersebut.&#xA;&#xA;Semua harapan sudah pupus barusan, keajaiban yang sedaritadi mereka nanti bak fana belaka yang tak akan pernah terwujudkan. Semuanya telah sirna, seakan semesta benar-benar tak mendukung kebahagiaan yang Haekal dambakan bertahan dalam waktu yang lama, seolah semua skenario sudah diatur sedemikian rumitnya untuk menghancurkan perasaan Haekal entah untuk kesekian kalinya. &#xA;&#xA;Terlampau hancurnya, sampai-sampai Haekal tak mampu lagi menangisi takdir hidupnya, semua tertahan kembali membuat dadanya terasa sakit bukan main, ditambah lagi melihat sekelilingnya yang menangis perih.&#xA;&#xA;&#34;Ayah pernah bilang, kalau terjadi sesuatu yang buruk, Ayah udah bikin pernyataan kalau Ayah bersedia mendonorkan organ tubuhnya. Berarti dalam kondisi ini, ya, Dok?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kal ...,&#34; lirih Hanna lagi saat mendengar perkataan Haekal barusan.&#xA;&#xA;&#34;Ayah bilang itu, Mah, bahkan Ayah berhenti merokok untuk mempersiapkan diri kalau memang hal buruk terjadi.&#34; jawab Haekal, Jay kemudian mengangguk, membenarkan perkataan Haekal, walau sangat berat juga untuk Jay merelakan, namun, hal tersebutlah yang sudah Jovan persiapkan selama hidupnya.&#xA;&#xA;&#34;Benar, Pasien sudah mendaftarkan dirinya untuk menjadi pendonor apabila suatu saat dinyatakan mati otak. Namun, tetap saja, kami masih membutuhkan izin dari pihak keluarga terkait hal ini.&#34; ujar Dokter menanggapi prihal pendonoran. Terlihat sangat berat sekali dari mata Hanna untuk menyetujui itu, namun, Hanna juga tersadarkan bahwa yang berhak menolak atau mengizinkan hanyalah Haekal dan Ibu Jovan, ia sama sekali tak mempunyai hak atas itu.&#xA;&#xA;&#34;Kami bisa beri waktu untuk pihak keluarga berdiskusi−&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saya setuju,&#34; tanpa diduga, Ibu Jovan yang terduduk lemas di bangku tunggu, memotong perkataan Dokter, &#34;Biarkan keinginan anak saya dilakukan, sakit sekali hati saya sebenarnya untuk merelakan, tapi ..., keinginan Jovan harus tetap dilakukan.&#34; sambung Ibu Jovan. &#xA;&#xA;Hanna yang mendengar itu, segera menatap Ibu Jovan, dari tatapannya, Hanna seperti berusaha untuk memberitahu Ibu Jovan agar memikirkan lagi terkait hal tersebut, namun, tatapan tersebut hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Ibu Jovan, &#34;InsyaAllah, saya ikhlas kalau memang ini jalannya.&#34; ucapnya lagi dilengkapi dengan rintihan rasa sakit untuk merelakan, Jay yang duduk di sampingnya dengan segera merangkul Ibu Jovan yang tangisnya semakin deras.&#xA;&#xA;&#34;Saya juga ikut setuju, Dok ...,&#34; Haekal ikut menimpali, tatapannya kosong memandang ke arah pintu ruangan yang di dalamnya terdapat sang Ayah dengan berbagai macam alat medis yang menempel di badannya. &#34;Tapi saya mohon, jangan sampai Ayah merasakan sakit yang teramat, ya, Dok? Sudah cukup selama ini Ayah menahan segala bentuk sakit. Tolong, perlakukan Ayah dengan sangat baik mungkin nanti ketika organ-organnya diambil ....&#34; lanjut Haekal lagi, kali ini suaranya terdengar bergetar karena tangisnya yang berusaha ia tahan agar tak berjatuhan lagi. &#xA;&#xA;Semua yang berada di lorong tersebut tak kuasa menahan tangis mereka, terlebih setelah mendengar ucapan Haekal barusan, bahkan keempat sahabat Haekal saat ini semuanya menunduk dengan tangan yang berusaha menutupi wajah mereka, bahu mereka pun ikut bergetar hebat karena tangisan. &#xA;&#xA;&#34;Kal ...,&#34; masih Hanna mencoba menahan, setidaknya bukan saat ini untuk merelakan Jovan. Mendengar lirihan sang Mamah, Haekal menggerakkan beberapa langkah kakinya untuk mendekati sang Mamah, kemudian ia memeluk sang Mamah erat.&#xA;&#xA;&#34;Mau Haekal juga sama, Mah, mau lihat Ayah terus, tapi ..., pasti di dalam sana Ayah lagi ngerasain sakit yang bukan main dengan alat-alat medis yang ada di badannya. Dan, Ayah pasti bakalan bahagia banget karena keingannya untuk terus bermanfaat bagi yang lain terwujud. Mah, sulit sekali, berat juga, tapi ..., kita enggak bisa egois, kan?&#34; bisik Haekal berusaha meyakinkan Mamahnya. Hanna tak menjawab, tangisnya pun semakin deras, dapat Haekal rasa dari bajunya yang basah karena tangis Hanna. &#xA;&#xA;&#34;Ya, Mah? kasihan Ayah kalau terlalu lama di dalam sana, Haekal enggak tega kalau sampai nanti Ayah ngerasain sakit yang gak ketahan lagi. Kalau memang masih ada harapan untuk Ayah, Haekal pasti akan tunggu sampai kapanpun itu, seberapapun itu akan Haekal usahakan. Tapi, Mah, sekarang kondisinya udah beda ....&#34; kembali Haekal berusaha memberikan penjelasan kepada Hanna yang nampak masih berat untuk merelakan Jovan. &#xA;&#xA;&#34;Ya, Mah?&#34; tanya Haekal sekali lagi, dan dirasanya sebuah anggukan dari Hanna yang terasa oleh bahu Haekal. Seulas senyum tipis terukir di bibir Haekal, sangat sakit di dalam hatinya, namun ia merasakan lega karena sudah berhasil membantu Ayahnya mewujudkan keinginan yang selama ini sudah dipersiapkan oleh Sang Ayah selama hidupnya.&#xA;&#xA;Dengan sangat hati-hati, Haekal melepaskan pelukannya, dan menuntun sang Mamah untuk kembali duduk di bangku sebelumnya, bersampingan dengan Ibu Jovan.&#xA;&#xA;&#34;Sudah aman semuanya, Dok,&#34; ujar Haekal kepada Dokter tersebut yang masih menunggu persetujuan dari semuanya. &#xA;&#xA;&#34;Baik, akan saya lakukan. Kita bisa melaksanakan operasinya sekarang juga. Saya segera memberitahukan beberapa rumah sakit yang akan menerima organ dari Pasien, dan memberikan kepada prioritas yang membutuhkan&#34; Ucap Dokter tersebut, dan segera dibalas anggukan oleh Haekal.&#xA;&#xA;&#34;Saya pamit untuk mempersiapkan operasinya, nanti akan ada suster yang mengarahkan segala terkait persuratan dan yang lainnya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.&#34; lanjutnya, tak lupa juga ia membungkuk untuk berterima kasih kepada semuanya yang sudah dengan lapang hati memberi izin untuk mendonorkan organ-organ yang masih layak untuk kehidupan orang lain yang membutuhkan. &#xA;&#xA;Saat Dokter tersebut hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang tunggu, Hanna tiba-tiba berdiri dan menahan lengan dari Dokter tersebut, sontak langkah kaki dari Dokter tersebut terhenti.&#xA;&#xA;&#34;Dok, ini masih di hari ulang tahun anak saya,&#34; ujar Hanna dengan suara pelannya yang semakin melemah, &#34;Saya boleh minta tolong untuk tunda operasinya sebentar aja? Seenggaknya Jovan masih dinyatakan hidup di hari ini, Dok, kasian anak saya kalau tahun seterusnya nanti akan mengenang kematian Ayahnya tepat di hari ulang tahunnya ...,&#34; pinta Hanna.&#xA;&#xA;Dengan tatapan iba yang teramat, Dokter tersebut akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Hanna barusan, &#34;Baik, operasi dimulai satu jam lagi, bertepatan dengan pergantian hari. Sebagai bentuk terima kasih, saya memperbolehkan 1 orang saja untuk masuk ke dalam menemui pasien, tapi maaf, saya tidak bisa memberi waktu yang lama, karena kami harus segera mempersiapkan operasi pada pasien.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Terima kasih, Dok, terima kasih sekali ....&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tepatnya di ruang yang dipenuhi berbagai macam alat-alat medis Haekal duduk di kursi yang disediakan, tepat di samping ranjang besar yang tengah ditiduri oleh Ayahnya. Yang hanya bisa Haekal dengar saat ini adalah bunyi dari beberapa alat medis yang membantu Ayahnya untuk bisa bernapas hingga saat ini. &#xA;&#xA;Rasanya tak tega melihat bagaimana tubuh sang Ayah ditusuki oleh berbagai jarum yang tajam itu, belum lagi dengan banyaknya perban di tubuh sang Ayah, bahkan saat ini Haekal tak bisa melihat dengan jelas bagaimana paras tenang dari wajah sang Ayah karena tertutupi oleh perban, dan pula Cervical collar yang menopang lehernya.&#xA;&#xA;Haekal hanya diberi waktu sepuluh menit untuk menemui sang Ayah di ruangan ini, rasanya sepuluh menit sangatlah sedikit baginya melihat sang Ayah untuk yang terakhir kalinya. Namun, seberapapun waktu yang diberikan, Haekal hanya bisa bersyukur dan menggunakan waktunya sebaik mungkin.&#xA;&#xA;&#34;Ayah ...,&#34; panggil Haekal pelan, walau ia tahu sampai kapanpun Jovan tak akan pernah bisa menjawab panggilannya, namun, Haekal akan tetap memanggilnya, panggilan yang selama ini Haekal dambakan, yang ternyata hanya beberapa bulan saja bisa ia ucapkan.&#xA;&#xA;&#34;Waktu berlalu begitu cepat, ya, Yah? Entah terlalu cepat berlalu, entah memang kesempatan yang diberikan untuk kita begitu singkat ...,&#34; lanjut Haekal kembali, matanya yang sudah merah akibat tangisnya yang sedari tadi tak berhenti, menatap dengan sendu ke arah sang Ayah yang tertidur kaku di depannya. &#xA;&#xA;&#34;Saking singkat dan cepatnya, saya masih bisa ingat dengan jelas detail-detail yang sudah kita lewati. Di awali dengan pertemuan karena Darto di ruang BK, sampai sekarang kembali kita dipertemukan di ruang ICU yang dipenuhi alat-alat menyeramkan ini. Tentu, saya enggak akan ngerokok seperti biasanya, Yah, haha ...,&#34; tawa Haekal pelan, sudut matanya kembali berair, menandakan bulir bening akan kembali hadir membasahi wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Ayah sudah janji mau jemput saya ke rumah, saya tunggu Ayah, tapi ternyata, jadinya saya yang temuin Ayah. Kali pertama Ayah ingkar janji kepada saya,&#34; lagi, Haekal tak berhenti untuk mengajak Jovan berbicara, seakan-akan yang ada di depannya saat ini adalah manusia sehat yang bisa diajak komunikasi dengan normal. &#xA;&#xA;&#34;Yang ada di otak saya saat siap-siap pakai baju di rumah tadi adalah kejutan terindah di ulang tahun saya. Ada berbagai skenario jelek dari sahabat-sahabat saya yang akan memancing emosi saya, kemudian ada kue ulang tahun yang tiba-tiba datang dan dibawa oleh Ayah Mamah, setelahnya saya akan berdoa di depan kue tersebut yang mana doa saya semuanya akan tertujukan untuk kebahagian Ayah dan Mamah, kemudian bersama-sama kita akan tiup lilin di kue tersebut. Ah, indah sekali, walau ternyata itu semua hanya berakhir sebagai imajinasi yang saya ciptakan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ah Ayah, segala yang indah di hidup saya memang sulit ternyata untuk diwujudkan. Mungkin memang seperti itu kali, ya, suratan takdir yang Tuhan beri untuk saya ...,&#34; kalimat Haekal terhenti karena air matanya yang kembali berjatuhan, walau sudah ia coba tahan sekuat tenaga.&#xA;&#xA;&#34;Ah, maaf, Ayah, saya lagi-lagi jadi anak laki-laki yang cengeng di depan Ayah,&#34; sambungnya, dengan jemarinya yang dingin, Haekal mengusap kasar wajahnya. &#34;Susah, Yah, untuk ditahan. Sesak sekali rasanya, Yah, izinkan saya menangis, ya, Yah?&#34; &#xA;&#xA;Hampir satu menit berlalu dengan tangisan Haekal yang tak kunjung berhenti, ia juga beberapa kali memukul dadanya untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasa. Tak ada tangan hangat milik Jovan yang biasanya mengusap bahu Haekal untuk menguatkannya yang sedang merasa lemah. &#xA;&#xA;&#34;Ayah ...,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah ...,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah ..., bukannya terlalu cepat untuk Ayah pergi meninggalkan Haekal di sini?&#34; rintih Haekal penuh sakit disetiap kata yang ia ucap.&#xA;&#xA;&#34;Masih banyak yang belum kita lalui bersama &#39;kan, Yah? Bikin SIM, cobain menu kopi baru di kedai Janu, diskusi ringan waktu hujan, cobain warung pecel lele lainnya sama Mamah, bikin nasi goreng bareng-bareng, nonton piala dunia yang beberapa bulan lagi bakalan mulai, ah, Ayah ..., masih terlalu banyak yang belum selesai kita lalui bersama.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bahkan untuk sekedar tiup lilin bersama, Tuhan gak kasih kita kesempatan ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Walau cuma berdua di ruangan ini, saya bolehkan, Yah, rayakan ulang tahun sama Ayah, untuk yang pertama, dan terakhir kalinya ...,&#34; dengan teramat sesak, Haekal tetap melanjutkan bicaranya kepada Jovan, dengan napasnya yang berhembus berat, Haekal masih ingin berbicara dengan Ayahnya. &#xA;&#xA;Detik berikutnya, Haekal mengusap pipinya sendiri, berusaha menghentikan air matanya agar tak jatuh lagi, &#34;Tahan, Kal, sebentar, tahan ...,&#34; ucap Haekal pada dirinya sendiri, mencoba untuk mengontrol dirinya. Hingga pada akhirnya, tetes air matanya berhenti jatuh seperti sebelumnya, walau isaknya sesekali masih terdengar karena tangisan hebat sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Happy birthday to me ...,&#34; Haekal dengan suaranya yang pelan memulai nyanyian ulang tahun seorang diri di depan Jovan yang terbaring kaku.&#xA;&#xA;&#34;Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Haekal ....&#34; sambung Haekal menyanyikan lagu tersebut dengan perasaan yang hancur. Ia benar-benar tak menyangka akan menyanyikan lagu ini seorang diri, di depan Ayahnya yang secara hukum sudah dinyatakan mati tak bernyawa lagi. &#xA;&#xA;&#34;Seharusnya tiup lilin, tapi di sini gak boleh, gak ada kue ulang tahun juga, Yah, jadi langsung doa aja, ya?&#34; kata Haekal, kemudian ia segera menundukan kepalanya, khusu&#39; dengan doa yang sedang ia panjatkan, sampai akhirnya, ia kembali mengangkat pandangannya, dan tersenyum kepada Jovan.&#xA;&#xA;&#34;Sudah, Yah, doanya sederhana, kok, Haekal minta ke Tuhan untuk nanti diberikan kesempatan lagi jadi anak Ayah, tanpa sedikitpun membawa celaka dan petaka seperti di kehidupan sekarang.&#34; ucapnya masih dengan senyum yang tergambar. &#xA;&#xA;&#34;Waktunya sudah habis, Yah, Ayah harus siap-siap untuk mewujudkan keinginan terakhir Ayah, dan saya ..., harus mengikhlaskan Ayah mulai dari sekarang.&#34;&#xA;&#xA;Haekal berdiri dari duduknya, kemudian melangkah maju mendekati Jovan, dengan sangat hati-hati sekali, Haekal mengusap jemari Jovan yang masih nampak beberapa luka yang belum mengering di sana, kemudian ia mencium tangan Jovan untuk yang terakhir kalinya, segera ia jauhkan wajahnya saat dirasanya air mata kembali mendesak untuk berjatuhan lagi, khawatir air matanya yang jatuh terkena luka dari sang Ayah, dan membuat Ayahnya merasakan perih yang bertambah di sekujur tubuhnya. &#xA;&#xA;&#34;Terima kasih sudah ada di dunia ini, Ayah ..., Terima kasih selalu menjadi sosok baik bahkan sampai napas Ayah enggak berhembus lagi. Maaf ..., maafkan Haekal yang masih belum mampu membahagiakan Ayah, ampuni Haekal yang dulu sampat melukai hati Ayah. Ayah ..., sampai kapanpun, Haekal akan tetap bangga dengan Ayah, Ayah Jovan yang selamanya akan menjadi Ayah terhebat yang satu-satunya Haekal punya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah, maaf, ternyata Haekal memang benar definisi dari celaka yang sebenar-benarnya ada di dunia ini. Di kehidupan lainnya, Haekal janji, hanya bahagia yang akan Haekal beri untuk Ayah dan Mamah. Ayah ..., terima kasih, Haekal pamit pergi, ya?&#34; &#xA;&#xA;Dengan hati yang berat, Haekal berjalan pergi meninggalkan sang Ayah di ruangan itu, kakinya terasa berat sekali untuk melangkah pergi, pandangannya teramat kabur karena bulir bening yang membanjiri. Ingatannya hanya mampu berputar pada senyum hangat milik sang Ayah yang beberapa bulan ini menghiasi harinya, di dalam otaknya yang terputar hanyalah suara-suara menenangkan yang biasanya terucap dari bibir Ayahnya.&#xA;&#xA;Sampai pada akhirnya, langkah kakinya berhasil kembali pada lorong tempat menunggu tadi, segera ia disambut oleh keempat sahabatnya yang langsung memeluk Haekal erat, menguatkan Haekal yang teramat rapuh saat ini. Tak ada lagi gengsi yang biasanya Haekal junjung tinggi, ia saat ini hanya mampu membalas pelukan sahabatnya sembari menangis terisak tanpa henti, menyalurkan segala pedihnya di depan keempat sahabatnya.&#xA;&#xA;&#34;Runtuh ..., dunia saya rasanya runtuh. Lagi lagi duka, hidup saya hanya dipenuhi duka ....&#34; ucap Haekal di sela-sela tangisnya.&#xA;&#xA;Memang benar, semua masalah yang ada di dunia ini akan terasa baik-baik saja, namun tidak apabila ditinggal mati oleh orang tua. Setiap anak akan merasa hancur tak karuan, perasaan sakit menusuk bak belati apabila membayangkan bagaimana hari esok tanpa orang tua di sampingnya. Seperti itulah yang Haekal rasa, seketika dunianya terasa runtuh berantakan setelah ditinggal mati oleh sang Ayah yang selama ini ia idam-idamkan kehadirannya.&#xA; &#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Operasi pengangkatan organ tubuh pasien Jovan sudah berhasil kami lakukan, tepat pada pukul 01.29, pasien dinyatakan meninggal dunia.&#34;&#xA;&#xA;a href=&#34;https://ibb.co/87z1VYt&#34;img src=&#34;https://i.ibb.co/S3QFpfG/IMG-20220406-WA0032.jpg&#34; alt=&#34;IMG-20220406-WA0032&#34; border=&#34;0&#34;/a&#xA;&#xA;-Ara.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>tw // mention of death</p></blockquote>

<hr/>

<p>Satu jam sudah berlalu setelah isak tangis mewarnai ruang tunggu, Haekal, Hanna, Bi Nur saat ini sudah duduk di bangku yang telah tersedia, Jay masih dengan setia berdiri menanti pintu ICU terbuka, ditambah lagi saat ini sudah hadir keempat sahabat Haekal yang turut menunggu kabar baik dari ruangan tersebut.</p>

<p>Isak tangis mulai mereda, tak sekeras sebelumnya, walau masih saja helaan napas berat terdengar beberapa kali, cemas dan gelisah sama sekali tak bisa ditutupi oleh semua yang berada di ruang tunggu tersebut.</p>

<p>Tak terkecuali dari mereka yang menunggu cemas semuanya memakai baju yang rapih selayaknya menghadiri undangan acara. Tak disangka oleh mereka, baju rapih yang dikenakan untuk datang ke acara ulang tahun Haekal, berakhir di rumah sakit ini.</p>

<p>Tak ada acara tiup lilin dan memotong kue seperti yang direncanakan, tak ada pula hidangan mewah yang seharusnya mereka nikmati, tak ada letusan balon iseng yang mungkin saja akan dilakukan oleh keempat sahabat Haekal. Tak pernah terbayangkan oleh semuanya, pesta kejutan tersebut akan tergantikan oleh kecelakaan tragis yang berhasil membuat 18 tahun Haekal menjadi kelabu  tak berbahagia.</p>

<p>“Jam berapa?” bisik Reno kepada Cena yang segera melihat kepada arloji yang ia pakai, Cena tak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia hanya memperlihatkan jamnya kepada Reno, “Satu setengah jam lagi ultahnya kelar,” bisik Reno lagi terdengar prihatin setelah melirik sesaat kepada Haekal yang menunduk di bangku tunggu.</p>

<p>“Gak kuat gue,” bisik Jere yang berada di samping kiri Reno, terlihat juga mata Jere yang mulai berkaca-kaca, menahan agar tak jatuh butiran bening tersebut. Reno merespon itu dengan menepuk pelan bahu Jere, berusaha saling menguatkan di saat kondisi seperti saat ini.</p>

<p>Bagi keempat teman Haekal, ini merupakan kali pertama mereka melihat Haekal menunduk pasrah seperti sekarang, Haekal yang mereka kenal, sama sekali tak pernah terlihat sepasrah sekarang, pandangannya yang berani tak sekalipun mereka pernah lihat menunduk lemah.</p>

<p>Mereka sangat paham, Haekal sangat benci dikasihani, namun, untuk saat ini, tak ada lagi selain tatapan iba yang mereka bisa layangkan kepada Haekal. Terlihat jelas oleh siapapun sisi rapuh yang selama ini Haekal sembunyikan, menyadarkan keempat temannya, betapa sulit dan beratnya kehidupan yang selama ini Haekal jalani, dan menjadi hal yang wajar apabila Haekal sering kali memarahi mereka yang kurang mensyukuri kehidupan dan keluarga yang mereka miliki.</p>

<p>Setelah lama menanti, pada akhirnya mereka melihat pintu tersebut terbuka, dan memperlihatkan seorang dokter berusia paruh baya berjalan untuk menghampiri mereka yang sedari tadi sedang menunggu cemas. Semua pandangan tertuju kepada Dokter tersebut, begitupun dengan Haekal dan Hanna yang segera berdiri dari duduknya.</p>

<p>“Saya boleh bicara dengan wali pasien Jovan?” kalimat tersebut yang pertama mereka dengar, nampak juga Dokter mencari sosok yang menjadi Wali Jovan.</p>

<p>“Saya anaknya,” Tanpa ragu, Haekal mengangkat tangannya, dan mendekatkan dirinya kepada Dokter tersebut, sedangkan Hanna segera diam tak mengikuti Haekal, ia sadar, ia bukan termasuk ke dalam wali dari Jovan. Namun, tak lama kemudian, ia merasakan tangannya digandeng oleh seseorang untuk mengikuti langkah Haekal, saat di dilihatnya, ternyata jemari Ibu Jovan yang mengajaknya untuk mendekat kepada Dokter tersebut.</p>

<p>Ketiganya berdiri tepat di depan Dokter tersebut, berusaha untuk menebak arti dari mimik wajah Dokter itu, yang sama sekali tak bisa mereka temui adanya senyum yang menandakan harapan.</p>

<p>“Ayah saya baik-baik aja &#39;kan, Dok?” tanya Haekal, Dokter tersebut menatap Haekal sendu, terlihat ada keraguan untuknya menjawab pertanyaam tersebut.</p>

<p>“Maaf,” sepatah kata tersebut yang malah terdengar, membuat genggaman tangan Ibu Jovan kepada Hanna semakin erat seakan menguatkan dirinya untuk mendengar lanjutan dari ucapan tersebut. Haekal menggeleng pelan, mencoba memperlihatkan, bahwa bukan kata maaflah yang ingin ia dengar.</p>

<p>“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Pasien, namun, tepatnya tadi, setelah melakukan berbagai macam tes yang menunjukan tidak ada reflek otak dari tubuh Pasien, begitupun dengan tanda-tanda vital lainnya, Pasien juga sudah tidak mampu lagi bernapas sendiri.”</p>

<p>“Maksudnya, Dok?”</p>

<p>“Pasien dinyatakan mati otak.” Ucap Dokter tersebut dengan sangat berat hati.</p>

<p>Seperti petir yang menyambar, satu kalimat penjelas tersebut mampu membuat napas mereka tertahan seperkian detik, otak mereka terpaksa mencerna apa yang baru saja didengar, sampai-sampai detik berikutnya Ibu Jovan hampir terjatuh karena kakinya yang tak mampu lagi menopang tubuhnya, untungnya Hanna yang sedari tadi digenggam tangannya, berhasil menahan Ibu Jovan agar tak jatuh ke lantai.</p>

<p>“Kami mohon maaf harus memberitahu kabar ini, kami sudah semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Pasien, namun, Tuhan berkata lain.” Kembali Dokter tersebut menjelaskan, Haekal yang sedari tadi mendengarkan, masih berdiri diam di depan Dokter tersebut, tak begitu terlihat ekspresi apa yang ada pada wajahnya saat ini.</p>

<p>“Jadi Ayah saya enggak ada harapan lagi, Dok?” tanya Haekal, suaranya terdengar pelan daripada sebelumnya, dengan berat hati, Dokter tersebut mengangguk merespon pertanyaan Haekal. Melihat itu, semakin menjadi pula isak tangis dari Ibu Jovan, Jay yang tadinya berdiri kaku, segera berjalan menuju Ibu Jovan, dan membantu Hanna untuk memegangi Ibu Jovan, kemudian ia membantu agar Ibu Jovan kembali duduk di bangku sebelumnya.</p>

<p>“Kal,” lirih Hanna pelan, selain rasa hancur yang teramat pedih Hanna rasakan, ia juga merasakan khawatir terhadap Haekal yang sampai saat ini belum sama sekali memperlihatkan emosinya dari raut wajahnya.</p>

<p>Mendengar panggilan pelan tersebut, Haekal menoleh kepada Hanna yang saat ini pipinya sudah dibasahi lagi oleh air mata, samar sekali terlihat ekspresi apa yang ada di wajah Haekal saat menatap Hanna, namun, Hanna dapat melihat manik kesedihan yang mendalam dari mata Haekal. Saat ini Haekal sedang berusaha menyembunyikan rasa hancurnya di depan Hanna.</p>

<p>“Mah, Ayah kesakitan kalau gini terus, ya?” tanya Haekal.</p>

<p>Hati Hanna terasa semakin pedih saat mendengar pertanyaan tersebut, linangan air mata semakin deras membasahi kedua pipinya, kemudian Hanna mengangguk menjawab pertanyaan tersebut.</p>

<p>“Kalau alat-alat medisnya dilepas, Ayah sudah pasti meninggal, ya?” kembali Haekal bertanya, namun, kali ini tak satupun yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Semua yang ada di sana hanya mampu menunduk saat mendengar pertanyaan yang sangat menyakitkan tersebut.</p>

<p>Semua harapan sudah pupus barusan, keajaiban yang sedaritadi mereka nanti bak fana belaka yang tak akan pernah terwujudkan. Semuanya telah sirna, seakan semesta benar-benar tak mendukung kebahagiaan yang Haekal dambakan bertahan dalam waktu yang lama, seolah semua skenario sudah diatur sedemikian rumitnya untuk menghancurkan perasaan Haekal entah untuk kesekian kalinya.</p>

<p>Terlampau hancurnya, sampai-sampai Haekal tak mampu lagi menangisi takdir hidupnya, semua tertahan kembali membuat dadanya terasa sakit bukan main, ditambah lagi melihat sekelilingnya yang menangis perih.</p>

<p>“Ayah pernah bilang, kalau terjadi sesuatu yang buruk, Ayah udah bikin pernyataan kalau Ayah bersedia mendonorkan organ tubuhnya. Berarti dalam kondisi ini, ya, Dok?”</p>

<p>“Kal ...,” lirih Hanna lagi saat mendengar perkataan Haekal barusan.</p>

<p>“Ayah bilang itu, Mah, bahkan Ayah berhenti merokok untuk mempersiapkan diri kalau memang hal buruk terjadi.” jawab Haekal, Jay kemudian mengangguk, membenarkan perkataan Haekal, walau sangat berat juga untuk Jay merelakan, namun, hal tersebutlah yang sudah Jovan persiapkan selama hidupnya.</p>

<p>“Benar, Pasien sudah mendaftarkan dirinya untuk menjadi pendonor apabila suatu saat dinyatakan mati otak. Namun, tetap saja, kami masih membutuhkan izin dari pihak keluarga terkait hal ini.” ujar Dokter menanggapi prihal pendonoran. Terlihat sangat berat sekali dari mata Hanna untuk menyetujui itu, namun, Hanna juga tersadarkan bahwa yang berhak menolak atau mengizinkan hanyalah Haekal dan Ibu Jovan, ia sama sekali tak mempunyai hak atas itu.</p>

<p>“Kami bisa beri waktu untuk pihak keluarga berdiskusi−”</p>

<p>“Saya setuju,” tanpa diduga, Ibu Jovan yang terduduk lemas di bangku tunggu, memotong perkataan Dokter, “Biarkan keinginan anak saya dilakukan, sakit sekali hati saya sebenarnya untuk merelakan, tapi ..., keinginan Jovan harus tetap dilakukan.” sambung Ibu Jovan.</p>

<p>Hanna yang mendengar itu, segera menatap Ibu Jovan, dari tatapannya, Hanna seperti berusaha untuk memberitahu Ibu Jovan agar memikirkan lagi terkait hal tersebut, namun, tatapan tersebut hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Ibu Jovan, “InsyaAllah, saya ikhlas kalau memang ini jalannya.” ucapnya lagi dilengkapi dengan rintihan rasa sakit untuk merelakan, Jay yang duduk di sampingnya dengan segera merangkul Ibu Jovan yang tangisnya semakin deras.</p>

<p>“Saya juga ikut setuju, Dok ...,” Haekal ikut menimpali, tatapannya kosong memandang ke arah pintu ruangan yang di dalamnya terdapat sang Ayah dengan berbagai macam alat medis yang menempel di badannya. “Tapi saya mohon, jangan sampai Ayah merasakan sakit yang teramat, ya, Dok? Sudah cukup selama ini Ayah menahan segala bentuk sakit. Tolong, perlakukan Ayah dengan sangat baik mungkin nanti ketika organ-organnya diambil ....” lanjut Haekal lagi, kali ini suaranya terdengar bergetar karena tangisnya yang berusaha ia tahan agar tak berjatuhan lagi.</p>

<p>Semua yang berada di lorong tersebut tak kuasa menahan tangis mereka, terlebih setelah mendengar ucapan Haekal barusan, bahkan keempat sahabat Haekal saat ini semuanya menunduk dengan tangan yang berusaha menutupi wajah mereka, bahu mereka pun ikut bergetar hebat karena tangisan.</p>

<p>“Kal ...,” masih Hanna mencoba menahan, setidaknya bukan saat ini untuk merelakan Jovan. Mendengar lirihan sang Mamah, Haekal menggerakkan beberapa langkah kakinya untuk mendekati sang Mamah, kemudian ia memeluk sang Mamah erat.</p>

<p>“Mau Haekal juga sama, Mah, mau lihat Ayah terus, tapi ..., pasti di dalam sana Ayah lagi ngerasain sakit yang bukan main dengan alat-alat medis yang ada di badannya. Dan, Ayah pasti bakalan bahagia banget karena keingannya untuk terus bermanfaat bagi yang lain terwujud. Mah, sulit sekali, berat juga, tapi ..., kita enggak bisa egois, kan?” bisik Haekal berusaha meyakinkan Mamahnya. Hanna tak menjawab, tangisnya pun semakin deras, dapat Haekal rasa dari bajunya yang basah karena tangis Hanna.</p>

<p>“Ya, Mah? kasihan Ayah kalau terlalu lama di dalam sana, Haekal enggak tega kalau sampai nanti Ayah ngerasain sakit yang gak ketahan lagi. Kalau memang masih ada harapan untuk Ayah, Haekal pasti akan tunggu sampai kapanpun itu, seberapapun itu akan Haekal usahakan. Tapi, Mah, sekarang kondisinya udah beda ....” kembali Haekal berusaha memberikan penjelasan kepada Hanna yang nampak masih berat untuk merelakan Jovan.</p>

<p>“Ya, Mah?” tanya Haekal sekali lagi, dan dirasanya sebuah anggukan dari Hanna yang terasa oleh bahu Haekal. Seulas senyum tipis terukir di bibir Haekal, sangat sakit di dalam hatinya, namun ia merasakan lega karena sudah berhasil membantu Ayahnya mewujudkan keinginan yang selama ini sudah dipersiapkan oleh Sang Ayah selama hidupnya.</p>

<p>Dengan sangat hati-hati, Haekal melepaskan pelukannya, dan menuntun sang Mamah untuk kembali duduk di bangku sebelumnya, bersampingan dengan Ibu Jovan.</p>

<p>“Sudah aman semuanya, Dok,” ujar Haekal kepada Dokter tersebut yang masih menunggu persetujuan dari semuanya.</p>

<p>“Baik, akan saya lakukan. Kita bisa melaksanakan operasinya sekarang juga. Saya segera memberitahukan beberapa rumah sakit yang akan menerima organ dari Pasien, dan memberikan kepada prioritas yang membutuhkan” Ucap Dokter tersebut, dan segera dibalas anggukan oleh Haekal.</p>

<p>“Saya pamit untuk mempersiapkan operasinya, nanti akan ada suster yang mengarahkan segala terkait persuratan dan yang lainnya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.” lanjutnya, tak lupa juga ia membungkuk untuk berterima kasih kepada semuanya yang sudah dengan lapang hati memberi izin untuk mendonorkan organ-organ yang masih layak untuk kehidupan orang lain yang membutuhkan.</p>

<p>Saat Dokter tersebut hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruang tunggu, Hanna tiba-tiba berdiri dan menahan lengan dari Dokter tersebut, sontak langkah kaki dari Dokter tersebut terhenti.</p>

<p>“Dok, ini masih di hari ulang tahun anak saya,” ujar Hanna dengan suara pelannya yang semakin melemah, “Saya boleh minta tolong untuk tunda operasinya sebentar aja? Seenggaknya Jovan masih dinyatakan hidup di hari ini, Dok, kasian anak saya kalau tahun seterusnya nanti akan mengenang kematian Ayahnya tepat di hari ulang tahunnya ...,” pinta Hanna.</p>

<p>Dengan tatapan iba yang teramat, Dokter tersebut akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Hanna barusan, “Baik, operasi dimulai satu jam lagi, bertepatan dengan pergantian hari. Sebagai bentuk terima kasih, saya memperbolehkan 1 orang saja untuk masuk ke dalam menemui pasien, tapi maaf, saya tidak bisa memberi waktu yang lama, karena kami harus segera mempersiapkan operasi pada pasien.”</p>

<p>“Terima kasih, Dok, terima kasih sekali ....”</p>

<hr/>

<p>Tepatnya di ruang yang dipenuhi berbagai macam alat-alat medis Haekal duduk di kursi yang disediakan, tepat di samping ranjang besar yang tengah ditiduri oleh Ayahnya. Yang hanya bisa Haekal dengar saat ini adalah bunyi dari beberapa alat medis yang membantu Ayahnya untuk bisa bernapas hingga saat ini.</p>

<p>Rasanya tak tega melihat bagaimana tubuh sang Ayah ditusuki oleh berbagai jarum yang tajam itu, belum lagi dengan banyaknya perban di tubuh sang Ayah, bahkan saat ini Haekal tak bisa melihat dengan jelas bagaimana paras tenang dari wajah sang Ayah karena tertutupi oleh perban, dan pula <em>Cervical collar</em> yang menopang lehernya.</p>

<p>Haekal hanya diberi waktu sepuluh menit untuk menemui sang Ayah di ruangan ini, rasanya sepuluh menit sangatlah sedikit baginya melihat sang Ayah untuk yang terakhir kalinya. Namun, seberapapun waktu yang diberikan, Haekal hanya bisa bersyukur dan menggunakan waktunya sebaik mungkin.</p>

<p>“Ayah ...,” panggil Haekal pelan, walau ia tahu sampai kapanpun Jovan tak akan pernah bisa menjawab panggilannya, namun, Haekal akan tetap memanggilnya, panggilan yang selama ini Haekal dambakan, yang ternyata hanya beberapa bulan saja bisa ia ucapkan.</p>

<p>“Waktu berlalu begitu cepat, ya, Yah? Entah terlalu cepat berlalu, entah memang kesempatan yang diberikan untuk kita begitu singkat ...,” lanjut Haekal kembali, matanya yang sudah merah akibat tangisnya yang sedari tadi tak berhenti, menatap dengan sendu ke arah sang Ayah yang tertidur kaku di depannya.</p>

<p>“Saking singkat dan cepatnya, saya masih bisa ingat dengan jelas detail-detail yang sudah kita lewati. Di awali dengan pertemuan karena Darto di ruang BK, sampai sekarang kembali kita dipertemukan di ruang ICU yang dipenuhi alat-alat menyeramkan ini. Tentu, saya enggak akan ngerokok seperti biasanya, Yah, haha ...,” tawa Haekal pelan, sudut matanya kembali berair, menandakan bulir bening akan kembali hadir membasahi wajahnya.</p>

<p>“Ayah sudah janji mau jemput saya ke rumah, saya tunggu Ayah, tapi ternyata, jadinya saya yang temuin Ayah. Kali pertama Ayah ingkar janji kepada saya,” lagi, Haekal tak berhenti untuk mengajak Jovan berbicara, seakan-akan yang ada di depannya saat ini adalah manusia sehat yang bisa diajak komunikasi dengan normal.</p>

<p>“Yang ada di otak saya saat siap-siap pakai baju di rumah tadi adalah kejutan terindah di ulang tahun saya. Ada berbagai skenario jelek dari sahabat-sahabat saya yang akan memancing emosi saya, kemudian ada kue ulang tahun yang tiba-tiba datang dan dibawa oleh Ayah Mamah, setelahnya saya akan berdoa di depan kue tersebut yang mana doa saya semuanya akan tertujukan untuk kebahagian Ayah dan Mamah, kemudian bersama-sama kita akan tiup lilin di kue tersebut. Ah, indah sekali, walau ternyata itu semua hanya berakhir sebagai imajinasi yang saya ciptakan.”</p>

<p>“Ah Ayah, segala yang indah di hidup saya memang sulit ternyata untuk diwujudkan. Mungkin memang seperti itu kali, ya, suratan takdir yang Tuhan beri untuk saya ...,” kalimat Haekal terhenti karena air matanya yang kembali berjatuhan, walau sudah ia coba tahan sekuat tenaga.</p>

<p>“Ah, maaf, Ayah, saya lagi-lagi jadi anak laki-laki yang cengeng di depan Ayah,” sambungnya, dengan jemarinya yang dingin, Haekal mengusap kasar wajahnya. “Susah, Yah, untuk ditahan. Sesak sekali rasanya, Yah, izinkan saya menangis, ya, Yah?”</p>

<p>Hampir satu menit berlalu dengan tangisan Haekal yang tak kunjung berhenti, ia juga beberapa kali memukul dadanya untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasa. Tak ada tangan hangat milik Jovan yang biasanya mengusap bahu Haekal untuk menguatkannya yang sedang merasa lemah.</p>

<p>“Ayah ...,”</p>

<p>“Ayah ...,”</p>

<p>“Ayah ..., bukannya terlalu cepat untuk Ayah pergi meninggalkan Haekal di sini?” rintih Haekal penuh sakit disetiap kata yang ia ucap.</p>

<p>“Masih banyak yang belum kita lalui bersama &#39;kan, Yah? Bikin SIM, cobain menu kopi baru di kedai Janu, diskusi ringan waktu hujan, cobain warung pecel lele lainnya sama Mamah, bikin nasi goreng bareng-bareng, nonton piala dunia yang beberapa bulan lagi bakalan mulai, ah, Ayah ..., masih terlalu banyak yang belum selesai kita lalui bersama.”</p>

<p>“Bahkan untuk sekedar tiup lilin bersama, Tuhan gak kasih kita kesempatan ....”</p>

<p>“Walau cuma berdua di ruangan ini, saya bolehkan, Yah, rayakan ulang tahun sama Ayah, untuk yang pertama, dan terakhir kalinya ...,” dengan teramat sesak, Haekal tetap melanjutkan bicaranya kepada Jovan, dengan napasnya yang berhembus berat, Haekal masih ingin berbicara dengan Ayahnya.</p>

<p>Detik berikutnya, Haekal mengusap pipinya sendiri, berusaha menghentikan air matanya agar tak jatuh lagi, “Tahan, Kal, sebentar, tahan ...,” ucap Haekal pada dirinya sendiri, mencoba untuk mengontrol dirinya. Hingga pada akhirnya, tetes air matanya berhenti jatuh seperti sebelumnya, walau isaknya sesekali masih terdengar karena tangisan hebat sebelumnya.</p>

<p>“<em>Happy birthday to me</em> ...,” Haekal dengan suaranya yang pelan memulai nyanyian ulang tahun seorang diri di depan Jovan yang terbaring kaku.</p>

<p>“<em>Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Haekal</em> ....” sambung Haekal menyanyikan lagu tersebut dengan perasaan yang hancur. Ia benar-benar tak menyangka akan menyanyikan lagu ini seorang diri, di depan Ayahnya yang secara hukum sudah dinyatakan mati tak bernyawa lagi.</p>

<p>“Seharusnya tiup lilin, tapi di sini gak boleh, gak ada kue ulang tahun juga, Yah, jadi langsung doa aja, ya?” kata Haekal, kemudian ia segera menundukan kepalanya, khusu&#39; dengan doa yang sedang ia panjatkan, sampai akhirnya, ia kembali mengangkat pandangannya, dan tersenyum kepada Jovan.</p>

<p>“Sudah, Yah, doanya sederhana, kok, Haekal minta ke Tuhan untuk nanti diberikan kesempatan lagi jadi anak Ayah, tanpa sedikitpun membawa celaka dan petaka seperti di kehidupan sekarang.” ucapnya masih dengan senyum yang tergambar.</p>

<p>“Waktunya sudah habis, Yah, Ayah harus siap-siap untuk mewujudkan keinginan terakhir Ayah, dan saya ..., harus mengikhlaskan Ayah mulai dari sekarang.”</p>

<p>Haekal berdiri dari duduknya, kemudian melangkah maju mendekati Jovan, dengan sangat hati-hati sekali, Haekal mengusap jemari Jovan yang masih nampak beberapa luka yang belum mengering di sana, kemudian ia mencium tangan Jovan untuk yang terakhir kalinya, segera ia jauhkan wajahnya saat dirasanya air mata kembali mendesak untuk berjatuhan lagi, khawatir air matanya yang jatuh terkena luka dari sang Ayah, dan membuat Ayahnya merasakan perih yang bertambah di sekujur tubuhnya.</p>

<p>“Terima kasih sudah ada di dunia ini, Ayah ..., Terima kasih selalu menjadi sosok baik bahkan sampai napas Ayah enggak berhembus lagi. Maaf ..., maafkan Haekal yang masih belum mampu membahagiakan Ayah, ampuni Haekal yang dulu sampat melukai hati Ayah. Ayah ..., sampai kapanpun, Haekal akan tetap bangga dengan Ayah, Ayah Jovan yang selamanya akan menjadi Ayah terhebat yang satu-satunya Haekal punya.”</p>

<p>“Ayah, maaf, ternyata Haekal memang benar definisi dari celaka yang sebenar-benarnya ada di dunia ini. Di kehidupan lainnya, Haekal janji, hanya bahagia yang akan Haekal beri untuk Ayah dan Mamah. Ayah ..., terima kasih, Haekal pamit pergi, ya?”</p>

<p>Dengan hati yang berat, Haekal berjalan pergi meninggalkan sang Ayah di ruangan itu, kakinya terasa berat sekali untuk melangkah pergi, pandangannya teramat kabur karena bulir bening yang membanjiri. Ingatannya hanya mampu berputar pada senyum hangat milik sang Ayah yang beberapa bulan ini menghiasi harinya, di dalam otaknya yang terputar hanyalah suara-suara menenangkan yang biasanya terucap dari bibir Ayahnya.</p>

<p>Sampai pada akhirnya, langkah kakinya berhasil kembali pada lorong tempat menunggu tadi, segera ia disambut oleh keempat sahabatnya yang langsung memeluk Haekal erat, menguatkan Haekal yang teramat rapuh saat ini. Tak ada lagi gengsi yang biasanya Haekal junjung tinggi, ia saat ini hanya mampu membalas pelukan sahabatnya sembari menangis terisak tanpa henti, menyalurkan segala pedihnya di depan keempat sahabatnya.</p>

<p>“Runtuh ..., dunia saya rasanya runtuh. Lagi lagi duka, hidup saya hanya dipenuhi duka ....” ucap Haekal di sela-sela tangisnya.</p>

<p>Memang benar, semua masalah yang ada di dunia ini akan terasa baik-baik saja, namun tidak apabila ditinggal mati oleh orang tua. Setiap anak akan merasa hancur tak karuan, perasaan sakit menusuk bak belati apabila membayangkan bagaimana hari esok tanpa orang tua di sampingnya. Seperti itulah yang Haekal rasa, seketika dunianya terasa runtuh berantakan setelah ditinggal mati oleh sang Ayah yang selama ini ia idam-idamkan kehadirannya.</p>

<hr/>

<p>“Operasi pengangkatan organ tubuh pasien Jovan sudah berhasil kami lakukan, tepat pada pukul 01.29, pasien dinyatakan meninggal dunia.”</p>

<p><a href="https://ibb.co/87z1VYt" rel="nofollow"><img src="https://i.ibb.co/S3QFpfG/IMG-20220406-WA0032.jpg" alt="IMG-20220406-WA0032"></a></p>

<p>-Ara.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://kejeffreyan.writeas.com/ayah-terima-kasih</guid>
      <pubDate>Wed, 06 Apr 2022 15:25:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tiga bahagia untuk Jovan.</title>
      <link>https://kejeffreyan.writeas.com/tiga-bahagia-untuk-jovan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[a href=&#34;https://ibb.co/NZ7r915&#34;img src=&#34;https://i.ibb.co/86Xbrzq/IMG-20220324-WA0055.jpg&#34; alt=&#34;IMG-20220324-WA0055&#34; border=&#34;0&#34;/a&#xA;&#xA;Banyak sekali kejadian yang berlalu dengan sangat cepat di dunia ini, yang mampu membuat manusia merasakan kekosongan secara tiba-tiba. Entah itu kepergian, kehilangan, atau bahkan perpisahan untuk selamanya. Banyak yang percaya, bahwa hal tersebut berhubungan dengan takdir dari Sang Pencipta, yang secara paksa, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, harus diterima oleh manusia.&#xA;&#xA;Karena paksaan untuk menerima, sering kali manusia merasa bahwa hidup berjalan dengan tak adil. Untuk mereka yang terus-terusan diterpa kehilangan, dan perpisahan, dipaksa tegar menghadapi takdir justru membuat mereka tersiksa, merasa dirundung dengan rasa bersalah karena beranggapan hal tersebut terjadi karena dirinya yang selalu menjadi sial bagi orang sekitarnya.&#xA;&#xA;Sama persis dengan apa yang sedang Haekal rasakan saat ini, semua terasa tak nyata baginya, dan berlalu begitu cepat sehingga untuk percaya pun menjadi hal yang sangat sulit untuk diterimanya. Yang Haekal ingat, saat ia sedang menuruni anak tangga untuk menunggu kedatangan sang Ayah, tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk ke ponselnya, masih Haekal ingat dengan jelas bagaimana panik suara yang terdengar, memberitahu kepadanya bahwa telah terjadi kecelakaan yang menimpa sang Ayah. &#xA;&#xA;Sempat Haekal enggan percaya, dirinya menganggap telpon tersebut hanyalah bagian dari kejutan ulang tahunnya. Bahkan, Haekal juga sempat tertawa, dan meminta agar tak perlu sebegitu totalitasnya dalam menyiapkan kejutan untuknya. Namun, tawanya sama sekali tak terbalas, yang ada hanya suara bergetar di sebrang telpon itu, memberitahu bagaimana parahnya kondisi Jovan saat ditemukan. Sampai akhirnya, sekarang, dengan napas yang teramat berat untuk dihembuskan, Haekal menunggu di depan pintu bertuliskan &#34;ICU&#34;. &#xA;&#xA;Bukan ini yang Haekal harapkan, bukan kejutan luar biasa seperti sekarang yang Haekal butuhkan. Baru beberapa puluh menit ia mendengar doa penuh harap dari sang Ayah, lengkap dengan janjinya yang akan datang menjemput Haekal untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, yang terjadi sangatlah berbeda dengan janji itu, Haekal lah yang datang menemui Jovan, tak ada pesta, tak ada kue ulang tahun yang diharapkan, yang ada hanyalah dinginnya ruang tunggu rumah sakit, dan keheningan yang melanda, pun ia hanya ditemani oleh sang Mamah yang juga ikut terdiam di sebelahnya.&#xA;&#xA;Sudah lima belas menit menunggu, tak kunjung juga ada kabar dari ruangan tersebut. Pun Haekal masih berharap, barangkali akan muncul sang Ayah dari balik pintu tersebut, tersenyum ke arahnya sembari membawakan kue yang dilengkapi oleh lilin ber-angkakan 18 untuknya. Namun, harapan itu segera patah saat Haekal lihat lagi jaket coklat milik Ayahnya yang sedang dipegang oleh Mamahnya dipenuhi dengan merahnya darah.&#xA;&#xA;&#34;Ayah bakalan baik-baik aja &#39;kan, Mah?&#34; setelah sama-sama diam, pada akhirnya Haekal memberanikan dirinya untuk bertanya kepada sang Mamah. &#xA;&#xA;Tak segera pula Haekal diberi jawaban oleh Hanna, sempat beberapa detik Hanna masih diam, menatap kosong jaket yang sedang ia pegang, kemudian beralih untuk menatap Haekal dengan kedua matanya yang terlihat sangat sembab, kemudian satu senyuman Hanna berikan kepada Haekal, &#34;Iya, Kal, Ayah kamu pasti bakalan baik-baik aja.&#34; jawab Hanna dengan suaranya yang terdengar begitu lemah. Walau senyum tergambar di wajah Hanna, Haekal merasa senyum itu sangatlah berbeda, terkesan dipaksakan, dan terlihat sekali dengan senyuman itu Hanna mencoba menyembunyikan sedihnya di depan Haekal.&#xA;&#xA;&#34;Kalau aja Ayah gak jemput Haekal, ya, Mah, pasti−&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sssttt, kita tunggu aja, ya, pasti bentar lagi Ayah kamu sadar.&#34; terlebih dahulu Hanna memotong ucapan Haekal, ia tak mau Haekal khawatir berlebih, dan pula Hanna tak mau mendengar kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.&#xA;&#xA;Haekal memutuskan untuk diam dan berhenti bersuara, meminimalisir pikiran negatif yang ada dipikirannya. Tak ada lagi yang mampu Haekal lakukan selain berdoa di dalam hatinya penuh pinta kepada Tuhan, sembari menunduk lemah. &#xA;&#xA;Ingin sekali Haekal menangis kencang, menyalurkan rasa perih yang hatinya rasa, namun, sebisa mungkin ia coba tahan, mengingat di sampingnya saat ini ada sang Mamah yang berusaha terlihat tegar, mana mungkin bagi Haekal menangis di saat seperti ini, ia harus menjadi sosok kuat untuk Mamahnya.&#xA;&#xA;Haekal lalu menyalurkan rasa sesaknya melalui cengkraman keras terhadap ujung jaket yang ia kenakan, sekeras mungkin ia cengkram, sembari menahan agar tak ada satupun bening yang berhasil jatuh dari pelupuk matanya. Namun, yang terjadi berikutnya ialah, ia merasakan tubuhnya ditarik oleh Sang Mamah, sehingga saat ini ia sudah berada dalam dekapan Mamahnya. Saat itu juga Haekal rasakan punggung diusap oleh tangan lembut Hanna, begitupun dengan belakang kepalanya, membuat Haekal merasa tak sanggup lagi menahan semua yang ia rasa.&#xA;&#xA;&#34;Jangan ditahan, Kal, nanti malah sakit dan sesak. Nangis aja, ya, ada Mamah,&#34; bisik sang Mamah di telinganya, seketika air mata yang tadinya mati-matian Haekal tahan, luruh tak tertahan. Ia terisak-isak dalam dekapan sang Mamah yang terasa semakin erat mengikuti derasnya air mata Haekal. &#xA;&#xA;Beberapa kali Haekal menyalahkan dirinya sendiri dalam tangisnya, Haekal juga tak peduli lagi dengan tangisnya yang cukup kencang, ia mirip sekali seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan berharga yang sangat ia sayang. Yang Hanna mampu lakukan hanyalah memberikan pelukan hangat beserta usapan lembut untuk menenangkan dan menyadarkan Haekal, bahwa masih ada bahu dan dekap yang ia punya ketika merasa hancur seperti sekarang. Walau ingin juga Hanna menangis sepereti Haekal, sekuat mungkin ia tahan, ia harus menjadi Ibu yang kuat dan tegar di samping anaknya yang teramat rapuh karena terus-terusan dipermainkan oleh takdir kehidupan.&#xA;&#xA;&#34;Saya ..., sial ya ..., hadir saya selalu membawa sial bagi yang lain, Mah ...,&#34; suara bergetar Haekal yang menyalahkan dirinya sendiri tak henti-hentinya Hanna dengar, sengaja Hanna tak menjawab dan meluruskan perkataan tersebut, ia ingin membiarkan Haekal melepaskan segala yang ia tahan dan pendam sedari tadi, agar tak ada lagi sesak tertahan yang anaknya rasakan. &#xA;&#xA;&#34;Ayah ..., saya takut ..., Mah, Ayah pasti sehat lagi kan ...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ayah belum antar saya bikin SIM, Ayah ..., jangan dulu ....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayah salah, saya ..., saya selalu jadi celaka dan petaka, Mah ....&#34; &#xA;&#xA;Begitu sakitnya hati Hanna mendengar rintihan itu, ia bahkan tak mampu menjawab, hanya untuk menenangkan Haekal. Dalam hati Hanna menjerit penuh sesak, menyalahkan jalan kehidupan mereka yang terasa sangat berat untuk dilewati, dan juga terlalu banyak duka menghampiri tanpa kenal lelah menguji dirinya dan Haekal. &#xA;&#xA;Namun, begitu parah sesak yang ia derita, air mata Hanna enggan untuk meluruh, ia benar-benar dipaksa kuat saat ini, sehingga air matanya terasa kering, sama sekali tak bisa untuk ditumpahkan lagi saat ini. Bagi Hanna, tak ada yang lebih menyakitkan dibanding rasa sesak yang tak dapat terluapkan karena merasa tak punya kuasa hanya untuk menangis saja.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan Mamah, ya, Kal ...,&#34; pada akhirnya, hanya kalimat pelan itu yang terucap dari bibir Hanna, masih dengan posisi memeluk sang Putra yang belum selesai menangis sembari menyalahkan diri sendiri. &#xA;&#xA;Butuh waktu beberapa menit untuk Haekal berhenti terisak, walau air mata masih saja berjatuhan dari kedua matanya. Hanna masih belum melepaskan pelukannya, ia menunggu Haekal benar-benar merasa tenang, masih juga ia dengan setia mengusap bahu sang Anak, berharap usapan itu bisa memudarkan sedih teramat yang sedang anaknya rasakan.&#xA;&#xA;&#34;Sudah tenang?&#34; tanya Hanna pelan. Haekal tak menjawab dengan suara, namun Hanna dapat merasakan anggukan dari Haekal yang terasa pada bahunya. Dengan sangat hati-hati, Hanna melepaskan pelukannya. Terlihat jelas bagaimana mata sembab Haekal, detik berikutnya, jemari Hanna terangkat untuk mengapus bekas air mata yang membasahi pipi Haekal, senyum lemah tergambar sembari manatap kedua netra sang Anak, &#34;Ayah kamu pasti bertahan, Kal. Dia itu manusia kuat, percaya dan berdoa, ya?&#34; lembut tuturnya dibalas langsung dengan anggukan oleh Haekal. Walau dalam hati keduanya merasa ragu Tuhan akan berbaik kepada mereka, melancarkan semuanya, dan memberikan akhir yang indah bagi kehidupan mereka.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Kembali diam melanda keduanya, bedanya saat ini, dengan setianya jemari Hanna mengusap tangan sang Anak yang terasa sangat dingin, tak henti-hentinya ia berusaha menenangkan Haekal, dan menyadarkan Haekal bahwa saat ini ada Hanna yang akan selalu ada di sampingnya untuk menghadapi segala macam rencana semesta untuk mereka.&#xA;&#xA;&#34;Bu Hanna, Haekal,&#34; terdengar suara panggilan dari lorong tunggu, diiringi dengan langkah kaki yang terkesan tergesa-gesa, baik Hanna maupun Haekal segera menoleh ke arah panggilan itu. Dilihat mereka, Theo, kuasa hukum Tama yang sedang berjalan cepat hendak menghampiri mereka, sembari menenteng sebuah flashdisk di tangan kanannya.&#xA;&#xA;Saat sampai dan berdiri di hadapan Hanna dan Haekal, Theo terlebih dahulu mengantur napasnya agar jelas menyampaikan berita kepada mereka, &#34;Ada apa, Pak Theo?&#34; tanya Hanna penasaran, apalagi dengan flashdisk yang sedang Theo pegang saat ini. Walau tak ikut bersuara, Haekal terlihat tak kalah penasaran juga dengan apa yang akan Theo sampaikan, mengingat Theo lah yang segera memeriksa TKP untuk menemukan penyebab kecelakaan. &#xA;&#xA;&#34;Ini,&#34; dengan serius Theo memulai laporannya, ia menunjukan flashdisk tersebut kepada Hanna dan Haekal, &#34;Rudi yang rencanakan semuanya. Walau sedikit tidak jelas di rekaman CCTV, tapi saya bisa pastikan ini adalah Rudi, buronan yang selama ini kita cari. Dan dia dalang dari kecelakaan yang menimpa Pak Jovan.&#34; sambung Theo menjelaskan. &#xA;&#xA;&#34;Rem dibuat tidak bisa berfungsi sama sekali, dan sama sekali tidak ada cara untuk menghentikan laju mobil. Begitupun dengan kecepatan mobil yang diatur terus melanju lebih kencang secara bertahap.&#34; Lanjut Theo lagi berusaha menjelaskan sebaik mungkin dan setenang mungkin agar Hanna dan Haekal mampu memahami dengan baik. &#xA;&#xA;Tak ada jawaban yang keluar dari bibir keduanya, mereka menatap tak percaya ke arah Theo, membuat Theo kebingungan sendiri, khawatir terdapat kesalahan pada penjelasannya.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, saya salah mungkin, ya, maaf−&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biadab,&#34; desis Haekal diiringi dengan dirinya yang bangkit berdiri, seketika Theo menghentikan ucapannya dan memilih diam, &#34;Saya harap dia mati dalam keadaan busuk, dan masuk ke dalam neraka yang paling hina di atas sana. Bangsat!&#34; hardik Haekal tak tahan, tangannya sudah mengepal keras, begitupun dengan kedua alisnya yang bertaut menandakan amarah yang ia rasa sudah teramat memuncak. &#xA;&#xA;Theo menunduk mendengar cacian Haekal yang termakan emosi, ia paham, siapapun yang ada di posisi Haekal saat ini, pasti sangat murka, terlebih lagi, si penjahat sudah memilih mati, sehingga untuk meluapkan emosi secara langsung sudah tak bisa lagi dilakukan. &#xA;&#xA;Hanna hanya mampu memejamkan matanya, meringis tiap kali mendengar suara dari pukulan Haekal ke dinding rumah sakit yang entah sudah keberapa kalinya. Ia belum bisa menahan Haekal yang saat ini sedang meluapkan murkanya, ia hanya mampu menunggu Haekal perlahan tenang. Walau jauh di dasar hatinya, Hanna ikut menyumpahi Rudi dengan berbagai sumpah serapah terburuk yang Hanna yakini akan diamini oleh semesta, dan akan di balas nantinya di alam yang berbeda.&#xA;&#xA;&#34;Dia gak boleh mati dulu! Dia harus saya hajar, dia harus merasakan sakit secara perlahan sampai-sampai matilah yang jadi harapan satu-satunya yang dia punya. Ini enggak adil, dia harus mati!&#34; murka Haekal tanpa henti.&#xA;&#xA;&#34;Bajingan!&#34; teriak Haekal sedikit tertahan, detik berikutnya ia terduduk dengan kedua lutut yang bertumbuh, &#34;Bajingan itu ...,&#34; lanjutnya lagi dengan suara bergetar, dapat Hanna lihat kedua pundak Haekal yang bergetar, menandakan Haekal yang kembali menangis seperti sebelumnya.&#xA;&#xA;Walau rasanya lemah sekali, dengan sekuat tenaga Hanna beranjak untuk menghampiri Haekal yang tertunduk, beberapa tetesan darah akibat luka di jemari Haekal terlihat berceceran di lantai. &#34;Pak Theo, maaf, saya boleh minta tolong ambilkan obat luka, atau boleh juga perawatnya langsung dipanggil ke sini? Tangan Haekal banyak lukanya.&#34; pinta Hanna dengan suara pelannya, segera Theo mengangguk dan meninggalkan ruangan tersebut untuk segera memenuhi permintaan Hanna barusan.&#xA;&#xA;Dengan pelan Hanna mengambil tangan Haekal yang terdapat banyak sekali luka disekitar buku-buku jarinya, menatap jemari tersebut yang mulai dipenuhi kemerahan memar dan beberapa tetes darah. &#34;Sakit, Kal, tahan, ya ...,&#34; ujarnya.&#xA;&#xA;Haekal lantas menggeleng, mata merahnya ikut menatap memar pada tangan kanannya, &#34;Enggak seberapa sakitnya, Mah, dibanding harus melihat Ayah tersiksa di dalam sana akibat ulah manusia bajingan yang enggak tau malu yang hati nuraninya sudah mati.&#34; jawab Haekal masih dengan amarahnya.&#xA;&#xA;&#34;Duduk lagi di bangku, ya, Kal, di sini dingin.&#34; bujuk Hanna hendak membantu Haekal untuk bangkit, namun, tak ada respon sedikitpun dari Haekal, &#34;Kal?&#34; panggil Hanna, kemudian di respon Haekal dengan menggelengkan kepalanya.  Hanna pun tak punya tenaga lagi untuk meminta lebih, sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menyamakan posisi duduknya seperti Haekal, di lantai dingin rumah sakit tanpa beralaskan apapun.&#xA;&#xA;Haekal yang menyadari sang Mamah mengikutinya, segera menoleh khawatir, dan melihat bagaimana wajah lelah Hanna di sampingnya, &#34;Mah ...,&#34; lirih Haekal, amarahnya perlahan luruh ketika melihat wajah sang Mamah yang sudah lemah namun nampak mencoba tegar menemani Haekal, &#34;Yuk duduk di bangku lagi, Mah, Haekal bantu, ya.&#34; ucap Haekal, kemudian membantu Mamahnya untuk bangkit dari sana. Hanna tersenyum, dan kembali duduk di bangku tunggu, ditemani oleh Haekal yang berada di sampingnya.&#xA;&#xA;&#34;Maafin Haekal, Mah, harusnya Haekal bisa tahan emosi di depan Mamah. Maaf, Mah ...,&#34; mendengar itu, Hanna menoleh kepada anaknya, ia mengusap kembali bahu Haekal seperti sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak apa-apa, Kal. Sekarang istirahat dulu, ya? Kamu, Mamah, kita semua sama-sama capek. Kita diam dulu sebentar, ya, Nak, sambil berdoa untuk keselamatan ayah kamu.&#34; dengan pelan dan lembut, Hanna mencoba menenangkan Haekal.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Mah ....&#34; jawab Haekal kemudian kembali menatap pintu ICU dengan perasaan cemasnya, menanti kabar dari ruangan itu, dan berharap bisa bertemu Sang Ayah di hari ini, pada hari ulang tahunnya yang beberapa jam lagi akan usai.&#xA;&#xA;&#34;Seenggaknya bisa ada kabar sebelum hari ini berakhir kan, Mah?&#34; tanya Haekal dengan tatapan kosongnya, Hanna tak menjawab, ia juga tak bisa menjanjikan sesuatu yang di luar kendalinya, ia tak mampu menjanjikan Haekal akan hal itu. &#34;Terlalu susah, ya, Mah, permintaan saya?&#34; tanya Haekal kembali, membuat Hanna semakin menunduk tak tahu harus menjawab apa.&#xA;&#xA;&#34;Hari ini akan berakhir indah kan, Mah?&#34; lagi, Haekal bertanya kepada Hanna, lebih tepatnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kabar baik akan datang sebelum hari ini berakhir, atau mungkin pertanyaan itu muncul sebagai tanda bahwa Haekal mulai ragu semesta akan berbaik kepadanya di hari ini. &#xA;&#xA;Selanjutnya, Haekal kembali mengulang pertanyaannya, Hanna membiarkan Haekal bertanya terus menerus, walau tak ada jawaban yang mampu Hanna berikan. Ruangan tersebut terasa semakin dingin, ditambah lagi dengan hati mereka yang tak bisa merasakan tenang walau hanya sedetik saja, menanti keajaiban dari pintu sana.&#xA;&#xA;&#34;Na, Kal,&#34; kembali terdengar suara yang memanggil mereka, kali ini suaranya berbeda, bukan seperti suara Theo sebelumnya.&#xA;&#xA;&#34;Jay?&#34; panggil Hanna, &#34;Gimana, Jay?&#34; &#xA;&#xA;Sebelum menjawab pertanyaan Hanna, Jay nampak melihat ke belakang terlebih dahulu, seperti sedang memastikan sesuatu, &#34;Gue bawa Ibu Jovan, Na, beliau khawatir banget, enggak masalah kan kalau ikut masuk ke ruangan ini?&#34; izin Jay, Hanna sedikit terkejut dengan itu, karena ini akan menjadi kali pertamanya bertemu Ibu Jovan, dan juga dalam kondisi seperti ini, Hanna membayangkan betapa bencinya Ibu Jovan kepadanya, karena terus-terusan menyebabkan petaka di keluarga mereka.&#xA;&#xA;&#34;Mah, maksudnya Om Jay, yang datang itu Nenek saya, ya?&#34; Haekal bertanya, namun tak dijawab oleh Hanna yang masih tenggelam oleh pikirannya.&#xA;&#xA;&#34;Na? Lo gapapa?&#34; Jay menyadarkan Hanna dari lamunan sesaatnya.&#xA;&#xA;&#34;Eh iya, Jay, emang seharusnya masuk ke sini, kan. Tapi ..., tapi gue malu karena terus-terusan bawa sial buat keluarga mereka, pasti Ibu Kak Jo bakal benci banget sama gue, ya?&#34; ungkap Hanna.&#xA;&#xA;&#34;Tenang, Ibu Jovan gak kayak gitu. Yaudah, gue ajak masuk, ya, Na.&#34; kembali Jay meminta izin, setelah beberapa kali menghela napasnya dan mempersiapkan dirinya, Hanna akhirnya mengangguk. Tak butuh waktu lama, Jay segera menjemput sosok yang sepertinya sudah menanti di luar ruangan sana.&#xA;&#xA;&#34;Mah, gapapa, ada Haekal,&#34; ucap Haekal seolah paham dengan ketakutan sang Mamah yang nampak jelas dari gerak-geriknya. Hanna mengangguk, kemudian meraih jemari kiri Haekal, &#34;Apapun itu, Mamah akan terima, Kal.&#34; ucap Hanna siap dengan apapun yang akan terjadi setelahnya.&#xA;&#xA;Walau sudah siap dengan segala macam kemungkinan yang terjadi saat Ibu Jovan bertemu dengannya, tetap saja Hanna merasa malu dan tak pantas bertemu dengan Ibu Jovan, sampai-sampai ia tak mampu menengadahkan pandangannya yang tertunduk, serta bahunya  yang tak mampu tegap, berbeda sekali seperti biasanya. &#xA;&#xA;Saat mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya, mata Hanna secara otomatis terpejam, bersedia mendengar caci maki yang akan ditujukan untuknya, tanpa ada sedikitpun niat untuk membantah atau membela dirinya, karena yang ada di pikiran Hanna saat ini hanyalah, ia memang pantas menerima itu semua atas segala yang sudah terjadi di keluarga Jovan sampai detik ini.&#xA;&#xA;&#34;Bi Nur?&#34; alih-alih mendengar cacian, Hanna malah mendengar suara Haekal memanggil nama ART di rumahnya dulu. Sempat Hanna pikir ia salah dengar, namun, kembali ia dengar suara Haekal yang menyebut nama Bi Nur seperti sebelumnya, terdengar tak percaya dan bingung.&#xA;&#xA;Yang tadinya menunduk, Hanna memberanikan dirinya untuk menoleh kepada sosok yang datang ke ruang tunggu ini, dan benar saja, yang Hanna lihat adalah sosok Bi Nur dengan matanya yang sudah berlinang air mata, dan ditemani oleh Jay di sisi kanannya.&#xA;&#xA;&#34;Bi?&#34; panggil Hanna ragu, otaknya terlalu rumit untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi saat ini, ia benar-benar bingung akan kehadiran Bi Nur saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Na ...,&#34; panggil Jay hendak menjelaskan, namun, detik itu juga Hanna mulai paham dengan apa yang terjadi, seketika kepalanya menggeleng tak percaya menatap Jay yang hendak memberitahunya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak ..., bukan &#39;kan, Jay?&#34; sangkal Hanna lebih dulu sebelum Jay menjelaskan keadaan, &#34;Enggak ..., enggak mungkin, Bi Nur ..., bukan, enggak kan Jay?&#34; kali ini perkataan Hanna mulai berantakan, Haekal yang tak kalah terkejut setelah memahami maksud dari pertanyaan Mamahnya, ikut menanti jawaban dari Jay dengan serius.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Na, ini Ibu Jo, Ibu kandung Jovan.&#34; ucap Jay menjawab dengan jelas pertanyaan yang Hanna layangkan barusan.&#xA;&#xA;Baik Hanna maupun Haekal sama-sama merasakan napas mereka yang semakin tercekat, tak ada yang bersuara setelahnya, keduanya menatap ke arah Bi Nur dengan tatapan tak percaya. Otak mereka seakan kembali dipaksa untuk mencerna kenyataan yang sama sekali tak pernah terbayang sebelumnya.&#xA;&#xA;Sedangkan Bi Nur, tak mampu juga banyak bicara, ia menatap pintu ruang ICU dengan air mata yang terus-terusan bercucuran, merasakan hatinya terasa teramat hancur membayangkan betapa kesakitannya sang anak semata wayangnya di dalam sana. &#xA;&#xA;&#34;Mah ..., itu Nenek Haekal &#39;kan?&#34; tanya Haekal pelan kepada Hanna, walau sempat diam sejenak, Hanna kemudian mengangguk pelan. &#34;Saya boleh peluk Nenek, Mah? Sama mau minta maaf ke Nenek.&#34; sambungnya lagi, namun, Hanna menahan sejenak Haekal agar tak bangkit lebih dulu.&#xA;&#xA;Detik kemudian ia berdiri, dan berbisik lirih ke Haekal, &#34;Mamah sambut Nenek kamu dulu, ya, Nak, kamu di sini dulu duduk.&#34; tak perlu banyak waktu, Haekal mengiyakan perkataan Mamahnya barusan, dan menatap langkah sang Mamah yang mendekat ke arah Nenek yang baru saja Haekal ketahui.&#xA;&#xA;&#34;Bu ...,&#34; panggil Hanna pelan sekali saat sudah berada di hadapan Bi Nur yang selama ini menjadi ART di rumahnya. Suara Hanna bergetar saat memanggil Bi Nur dengan panggilan &#39;Bu&#39;, walau terdengar asing di telinganya, namun tak mengurangi rasa berdosanya kepada wanita paruh baya yang berdiri di depannya.&#xA;&#xA;Bi Nur tak menjawab dengan lisan panggilan tersebut, namun, ia mulai menatap Hanna yang kembali menunduk di depannya, tatapannya sangat sulit untuk di deskripsikan. Kemudian pandangannya beralih kepada Haekal yang duduk di bangku, senyum ia berikan kepada Haekal yang masih menatapnya bingung.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Bu ..., maafkan saya untuk semuanya.&#34; ungkap Hanna lagi, pundaknya bergetar hebat, begitupun dengan suaranya, air mata yang ia tahan sedari tadi di samping Haekal, luruh juga. Rasa bersalah, berdosa, dan hina bercampur padu menjadi satu, membuat pertahanannya runtuh tak bisa dibendung lagi.&#xA;&#xA;Bi Nur masih tak menjawab, pandangannya kali ini kembali beralih kepada Hanna, tak ada amarah dari tatapan tersebut, namun, diam dari Bi Nur semakin membuat Hanna merasa bersalah atas semuanya.&#xA;&#xA;&#34;Untuk semua ..., bahkan ..., saya selama ini memperkejakan Ibu ..., maaf Bu ..., saya ..., saya berdosa ..., maaf ...,&#34; Hanna tak mampu melanjutkan perkataannya, isakannya semakin menjadi membuat perkataannya tak beraturan, dan tak akan terdengar jelas oleh siapapun yang mendengar.&#xA;&#xA;Mendengar isak tangis yang semakin menjadi, membuat Bi Nur tak tega hati, sampai akhirnya tangannya terulur untuk mengusap pundak Hanna yang bergetar hebat karena tangisan. Namun yang terjadi selanjutnya adalah Hanna yang tiba-tiba menjatuhkan dirinya, bersimpuh terhadap kaki Bi Nur, dengan pandangannya yang hanya menunduk serendah-rendahnya, tak peduli akan harga dirinya.&#xA;&#xA;Hal itu membuat Bi Nur terkejut, sekaligus tak enak, &#34;Jangan seperti ini, Hanna,&#34; ucap Bi Nur pada akhirnya, yang bisa Bi Nur lihat hanyalah kepala Hanna yang menggeleng, dan semakin merendahkan dirinya di hadapan Bi Nur, layaknya menyembah memohon ampun kepada Bi Nur. &#xA;&#xA;&#34;Ampuni segala dosa-dosa saya, Bu ..., atas semua yang terjadi, sampai sekarang Kak Jo ada di dalam, semua salah saya. Maafkan ketidaktahuan saya selama belasan tahun ini, sampai-sampai tega hati saya mempekerjakan Ibu di rumah, bukan maksud saya, bukan ingin saya, Bu ..., seandainya tau, saya enggak akan memberikan Ibu pekerjaan seperti itu. Ampuni saya, Bu.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Betapa bodoh dan berdosanya saya selama belasan tahun ini memperlakukan Ibu sebagai pembantu di rumah saya. Saya salah, Bu ..., saya pantas menerima apapun bentuk kebencian dari Ibu atas segala petaka yang terjadi di kehidupan Ibu, saya sangat pantas.&#34; mohon Hanna dengan sungguh-sungguh kepada Bi Nur, sedikitpun Hanna enggan beranjak dari posisinya saat ini yang masih setia bersimpuh pada kaki Bi Nur.&#xA;&#xA;Belum sempat Bi Nur menjawab permintaan maaf tersebut, tiba-tiba Haekal datang juga menghampirinya, dan melakukan hal yang sama seperti yang Hanna lakukan barusan, bersimpuh kepada kaki Bi Nur di samping Mamahnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam, &#34;Mas Ekal ...,&#34; lirih Bi Nur saat melihat Haekal melakukan hal tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Bi ..., maaf, Nek ..., Maafkan saya yang selama ini enggak tau kehadiran Nenek. Ekal sudah sangat berdosa selama ini memperlakukan Nenek enggak semestinya, maafkan Ekal, Nek ...,&#34; ucap Haekal sungguh-sungguh.&#xA;&#xA;&#34;Tolong maafkan Mamah, Nek, ini semua terjadi karena saya. Kalau aja saya enggak ada di dunia, sudah dipastikan semuanya akan baik-baik aja. Jadi, tolong maki saya aja, Nek, jangan Mamah ..., saya yang membawa petaka atas semuanya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kal ...,&#34; Hanna menoleh ke samping, menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Haekal tak meneruskan ucapannya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak Mah, ini salah saya. Semuanya terjadi karena hadirnya saya. Nek, tolong maafkan Mamah saya, ya?&#34; kukuh Haekal menyalahkan dirinya atas segala yang terjadi selama ini.&#xA;&#xA;Baik Hanna maupun Haekal sama-sama bertahan pada posisinya, Jay terpaku menyaksikan Hanna dan Haekal yang sebegitunya memohon ampun kepada Ibu Jovan. Sesekali Jay mengalihkan perhatiannya kepada Ibu Jovan, memastikan wanita paruh baya tersebut baik-baik saja, dan yang nampak oleh Jay adalah ekspresi sedih dari Ibu Jovan saat mendengar permohonan maaf Hanna dan Haekal, tak sedikitpun Jay lihat ada amarah di wajah Ibu Jovan.&#xA;&#xA;&#34;Hanna, Haekal ...,&#34; ucap Bi Nur pelan, kemudian Bi Nur mendudukkan dirinya, tak lagi di posisi berdiri, sehingga saat ini ia hampir sejajar dengan Haekal dan Hanna. Kedua tangannya terulur, memegangi sebelah sisi pundak Hanna dan Haekal bersamaan, mengusap dengan lembut kedua pundak yang bergetar hebat akibat tangisan itu, setelahnya berbisik lembut kepada mereka, &#34;Insha Allah saya sudah memaafkan kalian dari belasan tahun yang lalu, enggak ada dendam yang tersisa untuk kalian, yang ada malah kasih sayang yang saya tanamkan untuk kalian selama belasan tahun ini. Mengurus kalian di rumah, adalah bentuk rasa sayang saya.&#34; dengan sangat lapang dan ikhlas, perkataan itu keluar dari bibir Bi Nur. Membuat Hanna dan Haekal tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar, pandangan mereka yang tadinya tertunduk, seketika menatap wajah damai milik Bi Nur dengan tak percaya. &#xA;&#xA;Melihat kebingungan yang tercipta dari wajah Hanna dan Haekal, Bi Nur dengan sisa air matanya, memberikan senyum penuh keikhlasan untuk keduanya, jemarinya terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala Haekal yang masih terpaku menatapnya, &#34;Suatu kebahagian Nenek bisa lihat perkembangan Ekal dari kecil sampai sekarang, ikut berperan juga dalam tumbuh dewasanya Ekal, bisa berikan makanan yang Ekal suka, ajarkan Ekal banyak hal, dan semua yang kita lewati bersama selama belasan tahun kemaren. Nenek enggak butuh pengakuan, Kal, bisa dekat dengan kamu aja sudah lebih dari cukup.&#34; ungkap Bi Nur, butiran bening yang tadinya sempat berhenti sesaat, kembali menetas saat berbicara dengan cucunya pada jarak sedekat itu, dan tanpa ada batasan status yang menghalangi mereka seperti sebelumnya. &#xA;&#xA;Setelahnya, tatapan Bi Nur perlahan beralih kepada Hanna yang dengan segera kembali menunduk saat matanya bertemu dengan mata Bi Nur, &#34;Jangan nunduk, Hanna Hanasta, jadilah seperti biasa. Tegapkan bahu kamu, selayaknya Hanna Hanasta yang semua orang kenal.&#34; titah Bi Nur, alih-alih mencaci maki Hanna, bahkan sekarang kedua tangan Bi Nur memegangi pundak Hanna untuk mengarahkan Hanna agar kembali tegap saat berbicara dengannya.&#xA;&#xA;&#34;Maafkan saya, Bu ...,&#34; saat memberanikan diri menatap kembali mata Bi Nur, ucapan itu kembali keluar dari bibir mungil Hanna yang bergetar, sangat jelas sekali ketakutan dan juga penyeselan mendalam dari manik matanya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak mampu saya membenci kamu, anak saya yang sekarang sedang bertaruh nyawa di dalam ruangan itu, dan cucu satu-satunya saya yang sekarang ada di samping kamu, menjadikan kamu sebagai sumber bahagia mereka. Sekeji apapun perlakuan keluarga kamu, kalau sumber bahagia dari anak dan cucu saya adalah kamu, saya bisa apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Jo sekarang seperti itu−&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, saya paham karena menyelamatkan kamu. Hanna, mau kayak apapun kondisinya, Jovan pasti selamatkan kamu dan Haekal. Bagi dia, nyawa sendiri enggak penting dibanding keselamatan kalian. Anak keras kepala itu dari dulu selalu memikirkan kalian, jadi, enggak perlu merasa bersalah, karena memang dari awal, jalan ini yang Jovan pilih. Capek rasanya kalau harus marah, lebih baik kita berdoa untuk Jovan, ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Memang itu jalan yang jovan inginkan dari awal, Hanna, dia pasti sekarang sedang bahagia di dalam sana karena bisa menyelamatkan kalian. Jadi, enggak perlu rasanya kita berdebat menyalahkan siapapun sekarang.&#34; kembali Bi Nur memberi pemahaman kepada Hanna. Semua yang ada di ruang tunggu tersebut menitihkan air mata, tak terkecuali Jay yang menutup wajahnya karena tangisannya yang mulai tak tertahan. &#xA;&#xA;Melihat Hanna dan Haekal yang isakannya semakin menjadi, dengan lembut Bi Nur memeluk keduanya. Membiarkan kedua orang itu menumpahkan air mata mereka di dalam dekapannya, menangis bersama sembari hati mereka meminta kepada Tuhan untuk segera memberikan pelangi setelah badai yang tak terduga di hari yang meraka kira akan dipenuhi haru bahagia.&#xA;&#xA;Jay tak tahan melihat ketiga orang tersebut menangis bersama, ia kemudian melangkahkan kakinya berjalan mendekati pintu ICU, tangannya terkepal bersamaan dengan tetesan bening yang jatuh dari pelupuk matanya.&#xA;&#xA;&#34;Jo, tiga kebahagiaan lo udah kumpul, lo harus berjuang, ya, lo harus ngerasain bahagia dulu, Jo. Bertahan, Jo, bahagia yang lo impikan udah di depan mata. Gue mohon, Jo ....&#34; rintih Jay memohon di depan pintu itu, berharap di dalam sana Jovan bisa mendengarnya, dan segera sadar untuk menjemput bahagia yang selama ini ia cita. &#xA;&#xA;-Ara.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://ibb.co/NZ7r915" rel="nofollow"><img src="https://i.ibb.co/86Xbrzq/IMG-20220324-WA0055.jpg" alt="IMG-20220324-WA0055"></a></p>

<p>Banyak sekali kejadian yang berlalu dengan sangat cepat di dunia ini, yang mampu membuat manusia merasakan kekosongan secara tiba-tiba. Entah itu kepergian, kehilangan, atau bahkan perpisahan untuk selamanya. Banyak yang percaya, bahwa hal tersebut berhubungan dengan takdir dari Sang Pencipta, yang secara paksa, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, harus diterima oleh manusia.</p>

<p>Karena paksaan untuk menerima, sering kali manusia merasa bahwa hidup berjalan dengan tak adil. Untuk mereka yang terus-terusan diterpa kehilangan, dan perpisahan, dipaksa tegar menghadapi takdir justru membuat mereka tersiksa, merasa dirundung dengan rasa bersalah karena beranggapan hal tersebut terjadi karena dirinya yang selalu menjadi sial bagi orang sekitarnya.</p>

<p>Sama persis dengan apa yang sedang Haekal rasakan saat ini, semua terasa tak nyata baginya, dan berlalu begitu cepat sehingga untuk percaya pun menjadi hal yang sangat sulit untuk diterimanya. Yang Haekal ingat, saat ia sedang menuruni anak tangga untuk menunggu kedatangan sang Ayah, tiba-tiba sebuah panggilan telpon masuk ke ponselnya, masih Haekal ingat dengan jelas bagaimana panik suara yang terdengar, memberitahu kepadanya bahwa telah terjadi kecelakaan yang menimpa sang Ayah.</p>

<p>Sempat Haekal enggan percaya, dirinya menganggap telpon tersebut hanyalah bagian dari kejutan ulang tahunnya. Bahkan, Haekal juga sempat tertawa, dan meminta agar tak perlu sebegitu totalitasnya dalam menyiapkan kejutan untuknya. Namun, tawanya sama sekali tak terbalas, yang ada hanya suara bergetar di sebrang telpon itu, memberitahu bagaimana parahnya kondisi Jovan saat ditemukan. Sampai akhirnya, sekarang, dengan napas yang teramat berat untuk dihembuskan, Haekal menunggu di depan pintu bertuliskan “ICU”.</p>

<p>Bukan ini yang Haekal harapkan, bukan kejutan luar biasa seperti sekarang yang Haekal butuhkan. Baru beberapa puluh menit ia mendengar doa penuh harap dari sang Ayah, lengkap dengan janjinya yang akan datang menjemput Haekal untuk merayakan ulang tahunnya. Namun, yang terjadi sangatlah berbeda dengan janji itu, Haekal lah yang datang menemui Jovan, tak ada pesta, tak ada kue ulang tahun yang diharapkan, yang ada hanyalah dinginnya ruang tunggu rumah sakit, dan keheningan yang melanda, pun ia hanya ditemani oleh sang Mamah yang juga ikut terdiam di sebelahnya.</p>

<p>Sudah lima belas menit menunggu, tak kunjung juga ada kabar dari ruangan tersebut. Pun Haekal masih berharap, barangkali akan muncul sang Ayah dari balik pintu tersebut, tersenyum ke arahnya sembari membawakan kue yang dilengkapi oleh lilin ber-angkakan 18 untuknya. Namun, harapan itu segera patah saat Haekal lihat lagi jaket coklat milik Ayahnya yang sedang dipegang oleh Mamahnya dipenuhi dengan merahnya darah.</p>

<p>“Ayah bakalan baik-baik aja &#39;kan, Mah?” setelah sama-sama diam, pada akhirnya Haekal memberanikan dirinya untuk bertanya kepada sang Mamah.</p>

<p>Tak segera pula Haekal diberi jawaban oleh Hanna, sempat beberapa detik Hanna masih diam, menatap kosong jaket yang sedang ia pegang, kemudian beralih untuk menatap Haekal dengan kedua matanya yang terlihat sangat sembab, kemudian satu senyuman Hanna berikan kepada Haekal, “Iya, Kal, Ayah kamu pasti bakalan baik-baik aja.” jawab Hanna dengan suaranya yang terdengar begitu lemah. Walau senyum tergambar di wajah Hanna, Haekal merasa senyum itu sangatlah berbeda, terkesan dipaksakan, dan terlihat sekali dengan senyuman itu Hanna mencoba menyembunyikan sedihnya di depan Haekal.</p>

<p>“Kalau aja Ayah gak jemput Haekal, ya, Mah, pasti−”</p>

<p>“Sssttt, kita tunggu aja, ya, pasti bentar lagi Ayah kamu sadar.” terlebih dahulu Hanna memotong ucapan Haekal, ia tak mau Haekal khawatir berlebih, dan pula Hanna tak mau mendengar kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.</p>

<p>Haekal memutuskan untuk diam dan berhenti bersuara, meminimalisir pikiran negatif yang ada dipikirannya. Tak ada lagi yang mampu Haekal lakukan selain berdoa di dalam hatinya penuh pinta kepada Tuhan, sembari menunduk lemah.</p>

<p>Ingin sekali Haekal menangis kencang, menyalurkan rasa perih yang hatinya rasa, namun, sebisa mungkin ia coba tahan, mengingat di sampingnya saat ini ada sang Mamah yang berusaha terlihat tegar, mana mungkin bagi Haekal menangis di saat seperti ini, ia harus menjadi sosok kuat untuk Mamahnya.</p>

<p>Haekal lalu menyalurkan rasa sesaknya melalui cengkraman keras terhadap ujung jaket yang ia kenakan, sekeras mungkin ia cengkram, sembari menahan agar tak ada satupun bening yang berhasil jatuh dari pelupuk matanya. Namun, yang terjadi berikutnya ialah, ia merasakan tubuhnya ditarik oleh Sang Mamah, sehingga saat ini ia sudah berada dalam dekapan Mamahnya. Saat itu juga Haekal rasakan punggung diusap oleh tangan lembut Hanna, begitupun dengan belakang kepalanya, membuat Haekal merasa tak sanggup lagi menahan semua yang ia rasa.</p>

<p>“Jangan ditahan, Kal, nanti malah sakit dan sesak. Nangis aja, ya, ada Mamah,” bisik sang Mamah di telinganya, seketika air mata yang tadinya mati-matian Haekal tahan, luruh tak tertahan. Ia terisak-isak dalam dekapan sang Mamah yang terasa semakin erat mengikuti derasnya air mata Haekal.</p>

<p>Beberapa kali Haekal menyalahkan dirinya sendiri dalam tangisnya, Haekal juga tak peduli lagi dengan tangisnya yang cukup kencang, ia mirip sekali seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan berharga yang sangat ia sayang. Yang Hanna mampu lakukan hanyalah memberikan pelukan hangat beserta usapan lembut untuk menenangkan dan menyadarkan Haekal, bahwa masih ada bahu dan dekap yang ia punya ketika merasa hancur seperti sekarang. Walau ingin juga Hanna menangis sepereti Haekal, sekuat mungkin ia tahan, ia harus menjadi Ibu yang kuat dan tegar di samping anaknya yang teramat rapuh karena terus-terusan dipermainkan oleh takdir kehidupan.</p>

<p>“Saya ..., sial ya ..., hadir saya selalu membawa sial bagi yang lain, Mah ...,” suara bergetar Haekal yang menyalahkan dirinya sendiri tak henti-hentinya Hanna dengar, sengaja Hanna tak menjawab dan meluruskan perkataan tersebut, ia ingin membiarkan Haekal melepaskan segala yang ia tahan dan pendam sedari tadi, agar tak ada lagi sesak tertahan yang anaknya rasakan.</p>

<p>“Ayah ..., saya takut ..., Mah, Ayah pasti sehat lagi kan ...”</p>

<p>“Ayah belum antar saya bikin SIM, Ayah ..., jangan dulu ....”</p>

<p>“Ayah salah, saya ..., saya selalu jadi celaka dan petaka, Mah ....”</p>

<p>Begitu sakitnya hati Hanna mendengar rintihan itu, ia bahkan tak mampu menjawab, hanya untuk menenangkan Haekal. Dalam hati Hanna menjerit penuh sesak, menyalahkan jalan kehidupan mereka yang terasa sangat berat untuk dilewati, dan juga terlalu banyak duka menghampiri tanpa kenal lelah menguji dirinya dan Haekal.</p>

<p>Namun, begitu parah sesak yang ia derita, air mata Hanna enggan untuk meluruh, ia benar-benar dipaksa kuat saat ini, sehingga air matanya terasa kering, sama sekali tak bisa untuk ditumpahkan lagi saat ini. Bagi Hanna, tak ada yang lebih menyakitkan dibanding rasa sesak yang tak dapat terluapkan karena merasa tak punya kuasa hanya untuk menangis saja.</p>

<p>“Maafkan Mamah, ya, Kal ...,” pada akhirnya, hanya kalimat pelan itu yang terucap dari bibir Hanna, masih dengan posisi memeluk sang Putra yang belum selesai menangis sembari menyalahkan diri sendiri.</p>

<p>Butuh waktu beberapa menit untuk Haekal berhenti terisak, walau air mata masih saja berjatuhan dari kedua matanya. Hanna masih belum melepaskan pelukannya, ia menunggu Haekal benar-benar merasa tenang, masih juga ia dengan setia mengusap bahu sang Anak, berharap usapan itu bisa memudarkan sedih teramat yang sedang anaknya rasakan.</p>

<p>“Sudah tenang?” tanya Hanna pelan. Haekal tak menjawab dengan suara, namun Hanna dapat merasakan anggukan dari Haekal yang terasa pada bahunya. Dengan sangat hati-hati, Hanna melepaskan pelukannya. Terlihat jelas bagaimana mata sembab Haekal, detik berikutnya, jemari Hanna terangkat untuk mengapus bekas air mata yang membasahi pipi Haekal, senyum lemah tergambar sembari manatap kedua netra sang Anak, “Ayah kamu pasti bertahan, Kal. Dia itu manusia kuat, percaya dan berdoa, ya?” lembut tuturnya dibalas langsung dengan anggukan oleh Haekal. Walau dalam hati keduanya merasa ragu Tuhan akan berbaik kepada mereka, melancarkan semuanya, dan memberikan akhir yang indah bagi kehidupan mereka.</p>

<hr/>

<p>Kembali diam melanda keduanya, bedanya saat ini, dengan setianya jemari Hanna mengusap tangan sang Anak yang terasa sangat dingin, tak henti-hentinya ia berusaha menenangkan Haekal, dan menyadarkan Haekal bahwa saat ini ada Hanna yang akan selalu ada di sampingnya untuk menghadapi segala macam rencana semesta untuk mereka.</p>

<p>“Bu Hanna, Haekal,” terdengar suara panggilan dari lorong tunggu, diiringi dengan langkah kaki yang terkesan tergesa-gesa, baik Hanna maupun Haekal segera menoleh ke arah panggilan itu. Dilihat mereka, Theo, kuasa hukum Tama yang sedang berjalan cepat hendak menghampiri mereka, sembari menenteng sebuah <em>flashdisk</em> di tangan kanannya.</p>

<p>Saat sampai dan berdiri di hadapan Hanna dan Haekal, Theo terlebih dahulu mengantur napasnya agar jelas menyampaikan berita kepada mereka, “Ada apa, Pak Theo?” tanya Hanna penasaran, apalagi dengan <em>flashdisk</em> yang sedang Theo pegang saat ini. Walau tak ikut bersuara, Haekal terlihat tak kalah penasaran juga dengan apa yang akan Theo sampaikan, mengingat Theo lah yang segera memeriksa TKP untuk menemukan penyebab kecelakaan.</p>

<p>“Ini,” dengan serius Theo memulai laporannya, ia menunjukan <em>flashdisk</em> tersebut kepada Hanna dan Haekal, “Rudi yang rencanakan semuanya. Walau sedikit tidak jelas di rekaman CCTV, tapi saya bisa pastikan ini adalah Rudi, buronan yang selama ini kita cari. Dan dia dalang dari kecelakaan yang menimpa Pak Jovan.” sambung Theo menjelaskan.</p>

<p>“Rem dibuat tidak bisa berfungsi sama sekali, dan sama sekali tidak ada cara untuk menghentikan laju mobil. Begitupun dengan kecepatan mobil yang diatur terus melanju lebih kencang secara bertahap.” Lanjut Theo lagi berusaha menjelaskan sebaik mungkin dan setenang mungkin agar Hanna dan Haekal mampu memahami dengan baik.</p>

<p>Tak ada jawaban yang keluar dari bibir keduanya, mereka menatap tak percaya ke arah Theo, membuat Theo kebingungan sendiri, khawatir terdapat kesalahan pada penjelasannya.</p>

<p>“Maaf, saya salah mungkin, ya, maaf−”</p>

<p>“Biadab,” desis Haekal diiringi dengan dirinya yang bangkit berdiri, seketika Theo menghentikan ucapannya dan memilih diam, “Saya harap dia mati dalam keadaan busuk, dan masuk ke dalam neraka yang paling hina di atas sana. Bangsat!” hardik Haekal tak tahan, tangannya sudah mengepal keras, begitupun dengan kedua alisnya yang bertaut menandakan amarah yang ia rasa sudah teramat memuncak.</p>

<p>Theo menunduk mendengar cacian Haekal yang termakan emosi, ia paham, siapapun yang ada di posisi Haekal saat ini, pasti sangat murka, terlebih lagi, si penjahat sudah memilih mati, sehingga untuk meluapkan emosi secara langsung sudah tak bisa lagi dilakukan.</p>

<p>Hanna hanya mampu memejamkan matanya, meringis tiap kali mendengar suara dari pukulan Haekal ke dinding rumah sakit yang entah sudah keberapa kalinya. Ia belum bisa menahan Haekal yang saat ini sedang meluapkan murkanya, ia hanya mampu menunggu Haekal perlahan tenang. Walau jauh di dasar hatinya, Hanna ikut menyumpahi Rudi dengan berbagai sumpah serapah terburuk yang Hanna yakini akan diamini oleh semesta, dan akan di balas nantinya di alam yang berbeda.</p>

<p>“Dia gak boleh mati dulu! Dia harus saya hajar, dia harus merasakan sakit secara perlahan sampai-sampai matilah yang jadi harapan satu-satunya yang dia punya. Ini enggak adil, dia harus mati!” murka Haekal tanpa henti.</p>

<p>“Bajingan!” teriak Haekal sedikit tertahan, detik berikutnya ia terduduk dengan kedua lutut yang bertumbuh, “Bajingan itu ...,” lanjutnya lagi dengan suara bergetar, dapat Hanna lihat kedua pundak Haekal yang bergetar, menandakan Haekal yang kembali menangis seperti sebelumnya.</p>

<p>Walau rasanya lemah sekali, dengan sekuat tenaga Hanna beranjak untuk menghampiri Haekal yang tertunduk, beberapa tetesan darah akibat luka di jemari Haekal terlihat berceceran di lantai. “Pak Theo, maaf, saya boleh minta tolong ambilkan obat luka, atau boleh juga perawatnya langsung dipanggil ke sini? Tangan Haekal banyak lukanya.” pinta Hanna dengan suara pelannya, segera Theo mengangguk dan meninggalkan ruangan tersebut untuk segera memenuhi permintaan Hanna barusan.</p>

<p>Dengan pelan Hanna mengambil tangan Haekal yang terdapat banyak sekali luka disekitar buku-buku jarinya, menatap jemari tersebut yang mulai dipenuhi kemerahan memar dan beberapa tetes darah. “Sakit, Kal, tahan, ya ...,” ujarnya.</p>

<p>Haekal lantas menggeleng, mata merahnya ikut menatap memar pada tanga