kejeffreyan


Haekal nampak kebingungan melirik sekitarnya yang dipenuhi banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai macam jenis pakaian. Ia melihat notes di ponselnya, memastikan bahwa toko di depannya kini adalah toko langganan yang dimaksud oleh Neneknya.

Setelah memastikan nama toko tersebut sesuai, Haekal segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko tersebut, guna mencari baju Daster titipan Neneknya.

“Cari apa, Kak?” Sapa si penjaga toko dengan ramah kepada Haekal yang nampak celingukan memperhatikan banyak sekali model baju di sekitarnya.

“Daster, Mbak. Untuk Nenek saya.” Jawab Haekal agak kaku, terlebih ketika si penjaga toko itu tersenyum simpul mendengar ucapan Haekal barusan.

“Boleh, Kak, di lantai 2 kalau daster, ya, nanti naik tangga aja, bakalan ada temen saya yang bantuin Kakaknya pilih di sana.” Kata penjaga tersebut sembari menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua.

Haekal hanya mengangguk sopan lalu berjalan ke arah tangga sembari mengusap tengkuknya canggung. Haekal pikir akan biasa saja datang ke toko baju perempuan sendirian, ternyata ia salah, terasa begitu canggung melakukan ini, tak segampang yang ia pikir, pantas saja teman-teman lelakinya menolak untuk ikut bersamanya.

“Coba aja ada Azalea…” gumam Haekal pelan sembari menaiki tangga tersebut. “Tapi, Lea lagi gak bagus moodnya.” Sambung Haekal lagi berlirih pelan, kembali teringat Azalea yang tadi tak begitu menanggapinya.

Kedua manik teduh milik Haekal berpencar memandangi sekitarnya yang agak sepi pengunjung dibandingkan dengan lantai bawah, ia juga melihat pakaian-pakaian yang dipajang, yang sepertinya lantai ini dikhususkan untuk pakaian sehari-hari khusus perempuan.

“Mbak,” panggil Haekal kepada pegawai toko yang sedang membelakanginya, nampak sedang merapihkan beberapa display baju yang sedikit berantakan.

“Boleh pilihkan Daster untuk—” kalimat Haekal terhenti saat sosok pegawai tersebut menghadap ke arahnya, secara otomatis juga, kedua bola matanya melebar menangkap sosok di depannya itu.

“Jingga?” bibir Haekal berucap tak percaya.

Tatapan Haekal tak lepas dari sosok Jingga yang berdiri di depannya, mengenakan seragam pegawai toko, pun juga dengan rambut yang diikat berantakan. Sangat berbeda sekali dengan tampilan Jingga yang selama ini Haekal lihat di kampusnya.

Namun, tak butuh waktu lama, Haekal segera menyadari ketakutan serta sinyal tak nyaman Jingga yang juga ikut terkejut bertemu dengannya sekarang, bahkan kini ia melihat jemari Jingga yang gemetar dan juga wajahnya mulai memucat.

“Boleh pilihkan baju Daster untuk Nenek saya? Ukuran L, dan dari bahan yang nggak panas.” lanjut Haekal berusaha tak memedulikan yang sedang terjadi, kini wajahnya juga kembali berubah, tak ada mimik terkejut seperti sebelumnya.

“Kenapa harus di sini?” bukannya merespon pesanan Haekal, Jingga malah balik bertanya.

“Maksudnya?”

“Dari banyak toko baju di Jakarta, kenapa harus di sini lo beli baju? Kenapa harus ketemu gue?” Tanya Jingga lagi memperjelas pertanyaannya barusan, kini wajahnya nampak memerah, geram dari tatapan matanya terdeteksi oleh Haekal. Untungnya lantai 2 begitu sepi, sehingga nada bicara Jingga yang meninggi tak menyita perhatian pengunjung lainnya.

Haekal tak menjawab, karena ia pun bingung harus menjawab apa, ia juga sama bingungnya, tak sengaja datang ke toko ini, tanpa sedikitpun menyangka akan bertemu Jingga yang tengah bekerja.

“Kenapa, Kal? Hampir 2 tahun gue kerja di sini, sama sekali nggak ada anak kampus yang bisa nemuin gue. Kenapa? Kenapa hari ini lo malah nemuin gue?” suara Jingga kini mulai bergetar, matanya juga nampak bergelinang, sampai-sampai Haekal semakin terdiam melihatnya, kebingungan dengan reaksi Jingga yang marah kepadanya.

“Hancur tau gak branding yang susah-susah gue bangun supaya bisa masuk ke dalam lingkup kalian.”

“Maaf,” bahkan kini tanpa sadar Haekal mengucapkan permintaan maafnya, kata tersebut keluar begitu saja saat melihat genangan air mata mulai jatuh membasahi pipi Jingga yang masih memerah.

Haekal mulai paham situasi saat ini, ia mengerti mengapa Jingga begitu meledak-ledak saat Haekal tak sengaja menemuinya di sini.

“Maaf? Bahkan gue ngelakuin semua ini bukan cuma buat bisa nyatu sama lingkungan kampus, Kal! Gue juga gak mau dikasihanin dan jadi terlihat menyedihkan. Ah, liat sekarang cara lo natap gue, gue gak suka! gue gak suka tatapan kasihan kayak gitu dikasih ke gue.” bentak Jingga tak tertahan.

Haekal sangat tak suka dibentak orang lain, namun, rasanya kini, Haekal tak sanggup untuk menginterupsi sedikitpun kalimat Jingga, ia hanya bisa diam, dan menetapkan dirinya di posisi bersalah.

Tarikan napas panjang Jingga terdengar setelahnya, ia memejamkan matanya sesaat, seperti sedang mencoba mengontrol dirinya, “Di sebelah kanan sana, ambil aja, Daster. Setelahnya lo boleh ke bawah buat bayar, dan pergi dari sini.” sambungnya lagi.

Haekal tak lagi berkata, ia hanya mengangguk, lalu mengambil baju di sebelah kanannya, ia bahkan mengambil asal beberapa baju tersebut, tak mau membuat Jingga merasa semakin tak nyaman dengan kehadirannya.

Melihat Jingga barusan, membuat Haekal teringat dengan dirinya yang dulu, berusaha terlihat kuat dan tangguh, tak mau dilihat lemah dan dikasihani, berusaha semaksimal mungkin diterima di lingkungan yang tak menginginkannya, dan Haekal paham sekali, betapa melelahkannya berpura-pura melakukan itu.

“Jingga...,” panggil Haekal menghentikan langkah kakinya yang hendak menuruni tangga, ia memutarkan badannya, melihat Jingga yang kini tertunduk lemas.

“Apa lagi?” tanya Jingga ketus.

“Tugas komunikasi bisnis, sudah saya selesaikan. Kamu baca-baca materinya aja, ya, supaya nggak bingung presentasi nanti.” ucap Haekal, kembali dengan nada bicaranya yang santai.

“Nggak usah kasihanin gue, kan gue udah bilang—”

“Saya nggak kasihanin kamu. Itu sebagai ganti karena saya udah ambil 50 ribu kamu, upah ppt saya di tugas sebelumnya.” jawab Haekal segera, Jingga saat itu juga terdiam tanpa menjawab apapun lagi.

“Bertahan, ya? Seberat apapun yang sedang kamu lalui, Tuhan sedang uji.” sambung Haekal lagi, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Jingga yang terpaku menatap kepergian Haekal, dan kembali menitihkan air matanya setelah mendengar kalimat penguat yang tak pernah ia sangka akan diucapkan Haekal, sosok yang begitu dingin kepada sekitarnya.

[image


Jika ada nominasi jalan hidup ter-plot twist di dunia ini, Disa yakin sekali bahwa dirinya akan menjadi top-10 dari jajaran yang masuk di dalamnya. Hal tersebut diyakini Disa, karena banyak sekali kejadian-kejadian tak disangka terjadi, terhitung sejak ia lahir di dunia.

Contoh kecilnya dapat di lihat saat ini, siapa sangka lulusan terbaik pengadaan serta pendidikan dan pelatihan jaksa kini sedang duduk di kantor Firma hukum yang baru saja memperkerjakannya. Untuk menjadi Pengacara setelah mengikuti banyak sekali prosedur menjadi seorang jaksa? Tentu saja tidak, bagian ter-plot twistnya, ia malah menjadi paralegal di Firma hukum ini.

Paralegal tentunya sangat jauh sekali dari yang Disa cita-citakan. Jika dibandingkan dengan Jaksa, sudah pasti sangat jauh sekali tingkatannya. Ia hanya bisa membantu Pengacara, bahkan untuk beracara atau ikut praktik hukum saja ia tak bisa. Siapapun yang melihatnya sekarang sudah pasti ikut iba dengan pilihan yang mau tak mau harus ia terima.

“Ini meja Mbak Disa, berdekatan dengan ruangan Pak Jeffrey dan Pak Dimas. Ada satu lagi Mbak Nata, sama dengan Mbak Disa bekerja sebagai Paralegal juga, tapi lagi cuti melahirkan.” Ucap seorang Pria berumur setengah abad itu kepada Disa, beliau adalah Pak Wira, orang pertama yang ia kenal di kantor ini, bahkan Pak Wira lah yang dari awal ia temui saat melamar kerja di Firma Hukum ini.

“Makasih banyak, Pak.” Balas Disa dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Pak Wira sebelum akhirnya ia ditinggal sendiri di mejanya.

Disa menghela napas panjangnya, sembari meletakkan kantong plastik berisikan beberapa bungkus kupat tahu yang ia beli tadi. Disa menatap kesal pada bungkusan tersebut, sembari mengusap kasar wajahnya, tanpa mempedulikan lagi make-up nya yang sudah terlanjur hilang akibat antrian lama untuk mendapatkan kupat tahu pesanan Bos-nya, Jeffrey, Kakak kelas yang dulu sangat ia benci akibat terus-terusan mengganggunya.

“Persetanan sama kupat tahu gajelas ini, kalo gak waras, mah, udah gue taro racun di dalemnya.” Gerutu Disa pelan sembari mengetikkan pesan pada ponselnya, memberitahu Bos barunya bahwa pesanannya sudah datang, lengkap dengan note yang tak masuk logika siapapun yang mendengarnya, bahkan penjualnya pun tak habis pikir ada pesanan serupa demikian.

“Kelar bayar UKT Nopal, detik itu juga gue bakal resign dari kantor gaje ini.” gumamnya kembali setelah mengirim pesan kepada bos-nya tersebut. Disa kemudian mengeluarkan bedaknya, berniat untuk memoles kembali wajahnya yang sudah terkena banyak sekali polusi beserta keringat saat mengantri pesanan, ia sempat melihat sekitar yang masih sepi juga, belum berdatangan pekerja lainnya.

Saat tengah memoleskan lipcream pada bibirnya, sudut matanya menangkap ada bayang yang berjalan mendekat, segera Disa menyudahi kegiatannya tersebut, dan langsung berdiri untuk menyapa yang akan datang. Sialnya, Disa baru tersadar bahwa kontak lensanya belum sempat ia pakai, pantas saja pandangannya sangat kabur sekali melihat dua sosok yang mendekat.

“Selamat pagi,” Sapa salah satunya dari beberapa langkah di depannya, “Pagi, Pak.” Balas Disa sembari menyipitkan kedua matanya, guna melihat secara jelas dua sosok yang akan menghampirinya.

“Lama nggak ketemu, ya? Gak nyangka bakal satu tempat kerja sama lo.” Ucap suara yang lainnya pada jarak yang lebih dekat lagi.

“Eh? Kak?” Respon Disa terkejut saat dua sosok tersebut berada tepat di depannya, sehingga Disa bisa melihat dengan jelas keduanya. “Kak Dimas?” Lanjut Disa seakan masih meragukan penglihatan dan ingatannya.

Sosok berkacamata itu pun tergelak ringan melihat ekspresi kaget Disa, “Hahaha, kirain udah lupa sama gue,” Jawabnya renyah, sosok laki-laki di sampingnya ikut tersenyum ramah kepada Disa. “Gue kerja di sini juga sama Jeffrey, Hahaha, random banget, ya, semesta?” Lanjutnya.

Disa tertawa canggung, sembari di dalam hati kembali mengutuki takdirnya yang penuh dengan kejutan, seakan tak cukup memberikan shock terapy berupa Bos yang dulunya adalah laki-laki yang ia tolak mentah-mentah, kini mantan pertamanya di masa SMA pun turut hadir kembali di kehidupannya.

“Ohiya, ini Mahesa, dia juga Lawyer di sini.” Ucap Dimas kembali, memperkenalkan laki-laki di sampingnya.

“Salam kenal, Pak-”

“Panggil Esa, aja, Mbak.” Potongnya sembari membalas jabatan tangan Disa segera. “Iya, panggil dia Esa aja, masih muda banget dia, jauh sama lo umurnya.” Ujar Dimas kembali menambahkan.

Canggung tergambar jelas dari wajah Disa, rasanya ingin sekali ia dengan cepat mengakhiri hari ini, melepaskan diri dari banyaknya kejutan lain yang sepertinya sedang menanti.

“Semoga betah, ya, kalo ada apa-apa, lo boleh tanya-tanya gue atau Mahesa, ruangan kita di sana.” Ucap Dimas sembari menunjuk ke arah ruangan yang ada di samping kanan meja kerja Disa. “Yaudah, kita berdua ke ruangan dulu, ya. Banyak berkas yang harus disiapin buat sidang hari ini.” Pamit Dimas seakan peka dengan apa yang Disa rasa.

“Makasih banyak, Kak- Eh Pak, maksudnya,”

“Santai, gausah kaku kalo ke gue, panggil kayak yang biasanya aja.” Balas Dimas lagi.

“Iya, Kak, makasih, ya,” Ucap Disa kemudian.

Setelah memastikan Dimas dan Mahesa sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan mereka, Disa segera menjatuhkan pasrah dirinya ke kursinya, kakinya terasa semakin melemas, kalau saja bisa, mungkin ia sudah berteriak kencang saat ini juga, memaki apapun yang ada di sekitarnya untuk menumpahkan apa yang ia rasa.

“Mana sih ini tempat soflensnya?!” Entah sudah keberapa kalinya ia menggerutu kesal, jemarinya dengan tidak sabar mencari-cari di meja kantornya, “Bisa gak, lo gak usah ikut-ikutan nyebelin?!” Ucapnya sendiri terhadap tempat kontak lensa yang terselip di antara tas dan tumpukan kertas di mejanya. Dengan kesal pula ia kembali memakai kontak lensanya tersebut.

Seakan tak diberi jeda, dering dari telpon miliknya terdengar, pertanda adanya panggilan masuk yang ada, “Siapa lagi, sih, ini? ganggu- Eh, Bella,” Emosinya seketika memudar saat melihat nama dari si penelpon tersebut.

“Halo, Bel?” Dengan segera pula Disa mengangkat panggilan tersebut.

“Ca, tadi subuh lo nelpon, ya? Sorry gak keangkat, kenapa ca?”

“Iya, tadi gue nelpon lo, mau-”

“Wait, lo jadi kerja, kan? Jangan bilang lo beneran gak ambil kerjaannya.” Belum selesai Disa menjawab, Bella lebih dulu memotongnya, terdengar sangat khawatir bila Disa benar-benar memilih untuk tidak mengambil pekerjaannya.

“Jadi, jenong. Ini udah di kantor sambil nenteng-nenteng kresek isi kupat tahu, hadeuh.” Keluh Disa tak tertahan, bola matanya memutar kesal saat kembali melihat bungkusan kupat tahu di mejanya itu.

“Hah, kok bisa?”

“Panjang ceritanya, nanti pas pula