kejeffreyan


Haekal nampak kebingungan melirik sekitarnya yang dipenuhi banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai macam jenis pakaian. Ia melihat notes di ponselnya, memastikan bahwa toko di depannya kini adalah toko langganan yang dimaksud oleh Neneknya.

Setelah memastikan nama toko tersebut sesuai, Haekal segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko tersebut, guna mencari baju Daster titipan Neneknya.

“Cari apa, Kak?” Sapa si penjaga toko dengan ramah kepada Haekal yang nampak celingukan memperhatikan banyak sekali model baju di sekitarnya.

“Daster, Mbak. Untuk Nenek saya.” Jawab Haekal agak kaku, terlebih ketika si penjaga toko itu tersenyum simpul mendengar ucapan Haekal barusan.

“Boleh, Kak, di lantai 2 kalau daster, ya, nanti naik tangga aja, bakalan ada temen saya yang bantuin Kakaknya pilih di sana.” Kata penjaga tersebut sembari menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua.

Haekal hanya mengangguk sopan lalu berjalan ke arah tangga sembari mengusap tengkuknya canggung. Haekal pikir akan biasa saja datang ke toko baju perempuan sendirian, ternyata ia salah, terasa begitu canggung melakukan ini, tak segampang yang ia pikir, pantas saja teman-teman lelakinya menolak untuk ikut bersamanya.

“Coba aja ada Azalea…” gumam Haekal pelan sembari menaiki tangga tersebut. “Tapi, Lea lagi gak bagus moodnya.” Sambung Haekal lagi berlirih pelan, kembali teringat Azalea yang tadi tak begitu menanggapinya.

Kedua manik teduh milik Haekal berpencar memandangi sekitarnya yang agak sepi pengunjung dibandingkan dengan lantai bawah, ia juga melihat pakaian-pakaian yang dipajang, yang sepertinya lantai ini dikhususkan untuk pakaian sehari-hari khusus perempuan.

“Mbak,” panggil Haekal kepada pegawai toko yang sedang membelakanginya, nampak sedang merapihkan beberapa display baju yang sedikit berantakan.

“Boleh pilihkan Daster untuk—” kalimat Haekal terhenti saat sosok pegawai tersebut menghadap ke arahnya, secara otomatis juga, kedua bola matanya melebar menangkap sosok di depannya itu.

“Jingga?” bibir Haekal berucap tak percaya.

Tatapan Haekal tak lepas dari sosok Jingga yang berdiri di depannya, mengenakan seragam pegawai toko, pun juga dengan rambut yang diikat berantakan. Sangat berbeda sekali dengan tampilan Jingga yang selama ini Haekal lihat di kampusnya.

Namun, tak butuh waktu lama, Haekal segera menyadari ketakutan serta sinyal tak nyaman Jingga yang juga ikut terkejut bertemu dengannya sekarang, bahkan kini ia melihat jemari Jingga yang gemetar dan juga wajahnya mulai memucat.

“Boleh pilihkan baju Daster untuk Nenek saya? Ukuran L, dan dari bahan yang nggak panas.” lanjut Haekal berusaha tak memedulikan yang sedang terjadi, kini wajahnya juga kembali berubah, tak ada mimik terkejut seperti sebelumnya.

“Kenapa harus di sini?” bukannya merespon pesanan Haekal, Jingga malah balik bertanya.

“Maksudnya?”

“Dari banyak toko baju di Jakarta, kenapa harus di sini lo beli baju? Kenapa harus ketemu gue?” Tanya Jingga lagi memperjelas pertanyaannya barusan, kini wajahnya nampak memerah, geram dari tatapan matanya terdeteksi oleh Haekal. Untungnya lantai 2 begitu sepi, sehingga nada bicara Jingga yang meninggi tak menyita perhatian pengunjung lainnya.

Haekal tak menjawab, karena ia pun bingung harus menjawab apa, ia juga sama bingungnya, tak sengaja datang ke toko ini, tanpa sedikitpun menyangka akan bertemu Jingga yang tengah bekerja.

“Kenapa, Kal? Hampir 2 tahun gue kerja di sini, sama sekali nggak ada anak kampus yang bisa nemuin gue. Kenapa? Kenapa hari ini lo malah nemuin gue?” suara Jingga kini mulai bergetar, matanya juga nampak bergelinang, sampai-sampai Haekal semakin terdiam melihatnya, kebingungan dengan reaksi Jingga yang marah kepadanya.

“Hancur tau gak branding yang susah-susah gue bangun supaya bisa masuk ke dalam lingkup kalian.”

“Maaf,” bahkan kini tanpa sadar Haekal mengucapkan permintaan maafnya, kata tersebut keluar begitu saja saat melihat genangan air mata mulai jatuh membasahi pipi Jingga yang masih memerah.

Haekal mulai paham situasi saat ini, ia mengerti mengapa Jingga begitu meledak-ledak saat Haekal tak sengaja menemuinya di sini.

“Maaf? Bahkan gue ngelakuin semua ini bukan cuma buat bisa nyatu sama lingkungan kampus, Kal! Gue juga gak mau dikasihanin dan jadi terlihat menyedihkan. Ah, liat sekarang cara lo natap gue, gue gak suka! gue gak suka tatapan kasihan kayak gitu dikasih ke gue.” bentak Jingga tak tertahan.

Haekal sangat tak suka dibentak orang lain, namun, rasanya kini, Haekal tak sanggup untuk menginterupsi sedikitpun kalimat Jingga, ia hanya bisa diam, dan menetapkan dirinya di posisi bersalah.

Tarikan napas panjang Jingga terdengar setelahnya, ia memejamkan matanya sesaat, seperti sedang mencoba mengontrol dirinya, “Di sebelah kanan sana, ambil aja, Daster. Setelahnya lo boleh ke bawah buat bayar, dan pergi dari sini.” sambungnya lagi.

Haekal tak lagi berkata, ia hanya mengangguk, lalu mengambil baju di sebelah kanannya, ia bahkan mengambil asal beberapa baju tersebut, tak mau membuat Jingga merasa semakin tak nyaman dengan kehadirannya.

Melihat Jingga barusan, membuat Haekal teringat dengan dirinya yang dulu, berusaha terlihat kuat dan tangguh, tak mau dilihat lemah dan dikasihani, berusaha semaksimal mungkin diterima di lingkungan yang tak menginginkannya, dan Haekal paham sekali, betapa melelahkannya berpura-pura melakukan itu.

“Jingga...,” panggil Haekal menghentikan langkah kakinya yang hendak menuruni tangga, ia memutarkan badannya, melihat Jingga yang kini tertunduk lemas.

“Apa lagi?” tanya Jingga ketus.

“Tugas komunikasi bisnis, sudah saya selesaikan. Kamu baca-baca materinya aja, ya, supaya nggak bingung presentasi nanti.” ucap Haekal, kembali dengan nada bicaranya yang santai.

“Nggak usah kasihanin gue, kan gue udah bilang—”

“Saya nggak kasihanin kamu. Itu sebagai ganti karena saya udah ambil 50 ribu kamu, upah ppt saya di tugas sebelumnya.” jawab Haekal segera, Jingga saat itu juga terdiam tanpa menjawab apapun lagi.

“Bertahan, ya? Seberat apapun yang sedang kamu lalui, Tuhan sedang uji.” sambung Haekal lagi, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Jingga yang terpaku menatap kepergian Haekal, dan kembali menitihkan air matanya setelah mendengar kalimat penguat yang tak pernah ia sangka akan diucapkan Haekal, sosok yang begitu dingin kepada sekitarnya.

[image


Jika ada nominasi jalan hidup ter-plot twist di dunia ini, Disa yakin sekali bahwa dirinya akan menjadi top-10 dari jajaran yang masuk di dalamnya. Hal tersebut diyakini Disa, karena banyak sekali kejadian-kejadian tak disangka terjadi, terhitung sejak ia lahir di dunia.

Contoh kecilnya dapat di lihat saat ini, siapa sangka lulusan terbaik pengadaan serta pendidikan dan pelatihan jaksa kini sedang duduk di kantor Firma hukum yang baru saja memperkerjakannya. Untuk menjadi Pengacara setelah mengikuti banyak sekali prosedur menjadi seorang jaksa? Tentu saja tidak, bagian ter-plot twistnya, ia malah menjadi paralegal di Firma hukum ini.

Paralegal tentunya sangat jauh sekali dari yang Disa cita-citakan. Jika dibandingkan dengan Jaksa, sudah pasti sangat jauh sekali tingkatannya. Ia hanya bisa membantu Pengacara, bahkan untuk beracara atau ikut praktik hukum saja ia tak bisa. Siapapun yang melihatnya sekarang sudah pasti ikut iba dengan pilihan yang mau tak mau harus ia terima.

“Ini meja Mbak Disa, berdekatan dengan ruangan Pak Jeffrey dan Pak Dimas. Ada satu lagi Mbak Nata, sama dengan Mbak Disa bekerja sebagai Paralegal juga, tapi lagi cuti melahirkan.” Ucap seorang Pria berumur setengah abad itu kepada Disa, beliau adalah Pak Wira, orang pertama yang ia kenal di kantor ini, bahkan Pak Wira lah yang dari awal ia temui saat melamar kerja di Firma Hukum ini.

“Makasih banyak, Pak.” Balas Disa dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Pak Wira sebelum akhirnya ia ditinggal sendiri di mejanya.

Disa menghela napas panjangnya, sembari meletakkan kantong plastik berisikan beberapa bungkus kupat tahu yang ia beli tadi. Disa menatap kesal pada bungkusan tersebut, sembari mengusap kasar wajahnya, tanpa mempedulikan lagi make-up nya yang sudah terlanjur hilang akibat antrian lama untuk mendapatkan kupat tahu pesanan Bos-nya, Jeffrey, Kakak kelas yang dulu sangat ia benci akibat terus-terusan mengganggunya.

“Persetanan sama kupat tahu gajelas ini, kalo gak waras, mah, udah gue taro racun di dalemnya.” Gerutu Disa pelan sembari mengetikkan pesan pada ponselnya, memberitahu Bos barunya bahwa pesanannya sudah datang, lengkap dengan note yang tak masuk logika siapapun yang mendengarnya, bahkan penjualnya pun tak habis pikir ada pesanan serupa demikian.

“Kelar bayar UKT Nopal, detik itu juga gue bakal resign dari kantor gaje ini.” gumamnya kembali setelah mengirim pesan kepada bos-nya tersebut. Disa kemudian mengeluarkan bedaknya, berniat untuk memoles kembali wajahnya yang sudah terkena banyak sekali polusi beserta keringat saat mengantri pesanan, ia sempat melihat sekitar yang masih sepi juga, belum berdatangan pekerja lainnya.

Saat tengah memoleskan lipcream pada bibirnya, sudut matanya menangkap ada bayang yang berjalan mendekat, segera Disa menyudahi kegiatannya tersebut, dan langsung berdiri untuk menyapa yang akan datang. Sialnya, Disa baru tersadar bahwa kontak lensanya belum sempat ia pakai, pantas saja pandangannya sangat kabur sekali melihat dua sosok yang mendekat.

“Selamat pagi,” Sapa salah satunya dari beberapa langkah di depannya, “Pagi, Pak.” Balas Disa sembari menyipitkan kedua matanya, guna melihat secara jelas dua sosok yang akan menghampirinya.

“Lama nggak ketemu, ya? Gak nyangka bakal satu tempat kerja sama lo.” Ucap suara yang lainnya pada jarak yang lebih dekat lagi.

“Eh? Kak?” Respon Disa terkejut saat dua sosok tersebut berada tepat di depannya, sehingga Disa bisa melihat dengan jelas keduanya. “Kak Dimas?” Lanjut Disa seakan masih meragukan penglihatan dan ingatannya.

Sosok berkacamata itu pun tergelak ringan melihat ekspresi kaget Disa, “Hahaha, kirain udah lupa sama gue,” Jawabnya renyah, sosok laki-laki di sampingnya ikut tersenyum ramah kepada Disa. “Gue kerja di sini juga sama Jeffrey, Hahaha, random banget, ya, semesta?” Lanjutnya.

Disa tertawa canggung, sembari di dalam hati kembali mengutuki takdirnya yang penuh dengan kejutan, seakan tak cukup memberikan shock terapy berupa Bos yang dulunya adalah laki-laki yang ia tolak mentah-mentah, kini mantan pertamanya di masa SMA pun turut hadir kembali di kehidupannya.

“Ohiya, ini Mahesa, dia juga Lawyer di sini.” Ucap Dimas kembali, memperkenalkan laki-laki di sampingnya.

“Salam kenal, Pak-”

“Panggil Esa, aja, Mbak.” Potongnya sembari membalas jabatan tangan Disa segera. “Iya, panggil dia Esa aja, masih muda banget dia, jauh sama lo umurnya.” Ujar Dimas kembali menambahkan.

Canggung tergambar jelas dari wajah Disa, rasanya ingin sekali ia dengan cepat mengakhiri hari ini, melepaskan diri dari banyaknya kejutan lain yang sepertinya sedang menanti.

“Semoga betah, ya, kalo ada apa-apa, lo boleh tanya-tanya gue atau Mahesa, ruangan kita di sana.” Ucap Dimas sembari menunjuk ke arah ruangan yang ada di samping kanan meja kerja Disa. “Yaudah, kita berdua ke ruangan dulu, ya. Banyak berkas yang harus disiapin buat sidang hari ini.” Pamit Dimas seakan peka dengan apa yang Disa rasa.

“Makasih banyak, Kak- Eh Pak, maksudnya,”

“Santai, gausah kaku kalo ke gue, panggil kayak yang biasanya aja.” Balas Dimas lagi.

“Iya, Kak, makasih, ya,” Ucap Disa kemudian.

Setelah memastikan Dimas dan Mahesa sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan mereka, Disa segera menjatuhkan pasrah dirinya ke kursinya, kakinya terasa semakin melemas, kalau saja bisa, mungkin ia sudah berteriak kencang saat ini juga, memaki apapun yang ada di sekitarnya untuk menumpahkan apa yang ia rasa.

“Mana sih ini tempat soflensnya?!” Entah sudah keberapa kalinya ia menggerutu kesal, jemarinya dengan tidak sabar mencari-cari di meja kantornya, “Bisa gak, lo gak usah ikut-ikutan nyebelin?!” Ucapnya sendiri terhadap tempat kontak lensa yang terselip di antara tas dan tumpukan kertas di mejanya. Dengan kesal pula ia kembali memakai kontak lensanya tersebut.

Seakan tak diberi jeda, dering dari telpon miliknya terdengar, pertanda adanya panggilan masuk yang ada, “Siapa lagi, sih, ini? ganggu- Eh, Bella,” Emosinya seketika memudar saat melihat nama dari si penelpon tersebut.

“Halo, Bel?” Dengan segera pula Disa mengangkat panggilan tersebut.

“Ca, tadi subuh lo nelpon, ya? Sorry gak keangkat, kenapa ca?”

“Iya, tadi gue nelpon lo, mau-”

“Wait, lo jadi kerja, kan? Jangan bilang lo beneran gak ambil kerjaannya.” Belum selesai Disa menjawab, Bella lebih dulu memotongnya, terdengar sangat khawatir bila Disa benar-benar memilih untuk tidak mengambil pekerjaannya.

“Jadi, jenong. Ini udah di kantor sambil nenteng-nenteng kresek isi kupat tahu, hadeuh.” Keluh Disa tak tertahan, bola matanya memutar kesal saat kembali melihat bungkusan kupat tahu di mejanya itu.

“Hah, kok bisa?”

“Panjang ceritanya, nanti pas pulang gue ceritain, banyak banget yang aneh-aneh di sini, demi tuhan, aneh semua.” Sedikit Disa mencoba menggambarkan apa yang ia alami beberapa jam saat bekerja di Firma Jeffrey, ia tak mungkin menceritakan semuanya saat ini juga, apalagi masih di lingkupan kantor dan masih jam kerja.

“Oke deh, terus nelpon subuh-subuh tadi kenapa?”

Disa tak langsung menjawab pertanyaan itu, ia masih ragu sebenarnya untuk memberitahu maksudnya menelpon Bella subuh tadi, lebih tepatnya, ia masih enggan untuk merepotkan kembali sahabatnya itu.

“Ca? kenapa gak?!” Bella kembali bertanya, terdengar sedikit mendesak agar Disa segara memberitahunya.

“Gak jadi deh, Bel, gue iseng aja, hehehe,”

“Alah, boong. Udah, jujur aja, kenapa?”

Bella sepertinya sudah mengerti tanpa harus Disa beritahu, Bella sangat peka sekali apabila Disa sedang membutuhkan bantuan, ditambah ia juga memahami kondisi Disa yang masih belum stabil perekonomiannya paska mengundurkan diri dari pekerjaan impiannya.

“Gak Enak, Bel, gue selalu-”

“Gak apa-apa, bilang ke gue sekarang.”

“Gue butuh 7 juta, Bel, buat bayar UKT Adek gue, tabungan gue gak cukup buat bayar full ternyata, gue juga belum ada penghasilan, jadi masih kurang sekitar 7 jutaan buat bayar UKT Naufal.” Ungkap Disa akhirnya, ia meruntuhkan ragunya, demi keperluan sang Adik yang sedang berkuliah.

“Gue ada, kok, tenang. Lu kayak sama siapa aja, sih, ragu gitu ngomongnya.” Jawab Bella tanpa ada jeda.

“Serius, Bel?”

“Serius, lo butuhnya kapan?”

“Lusa, sih...,”

“Gue usahain ada buat lusa. Gue sekarang langsung coba ajuin pinjam darurat ke kantor, okay?”

“Kan, nggak usah, deh, Bel, gue udah sering banget repotin lo pake cara itu. Gak jadi, deh, Bel, nanti gue cari pinjaman lain aja.” Tolak Disa tak enak karena sudah beberapa kali ia memakai pinjaman darurat di kantor Bella, walau selalu melunaskan itu, tetap saja Disa tak enak, khawatir berdampak kepada nama baik Bella di kantornya.

“Gapapa, Ca, gue soalnya belum gajian, jadi cuma cara itu paling yang bisa.”

“Nggak, Bella, gak apa-apa, gue coba cari cara lain dulu, gue takut lunasinnya agak jauh dari tanggal seharusnya, terus malah lo yang kena imbasnya. Ini juga baru hari pertama kerja gue, jadi gue belum bisa jamin bisa lunasin uang kantor lo tepat waktu.”

“Kan ada gue, nanti gue tutupin lah pake gaji gue, minggu depan gue udah gajian kok.”

Rasanya Disa ingin sekali menangis, Tuhan memang memberikan banyak sekali ujian kepadanya, namun, Tuhan juga memberikan orang-orang baik berada di kehidupannya. Salah satunya adalah Bella, sahabat yang ia punya sejak di SMA, yang sangat mengerti kondisi Disa, yang akan selalu ada saat Disa membutuhkan bantuan, menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan segala bentuk keluh kesah dan cerita Disa.

“Bel..., maafin, ya, gue selalu repotin lo...,” Ujar Disa pelan.

“Apa, sih, Ca, Naufal juga, kan, Adek gue. Walau dia bilang gue bawel kayak ibu tiri, tetep aja gue sayang sama dia, kayak sayangnya lo ke dia.” Balas Bella kemudian.

“Gue bakal lunasin secepatnya, Bel, gue juga bakal cari part time lain deh yang bisa gue kerjain buat nambah-nambah pinjemannya.” Kata Disa sungguh-sungguh.

“Udah, tenang, Ca. Udah dulu atuh, ya? Gue mau absen, terus mau urusin ke bagian keuangan, biar cepet cairnya. Lo baik-baik di sana, jangan bikin masalah, apalagi sama Bos lo, Hahaha.”

“Yeh, ngeledek lo, mah! Yaudah, semangat buat kita, makasih ya Bel sekali lagi, Dadah. Mwahh.” Ujar Disa mengakhiri panggilan telpon tersebut. Kembali helaan napasnya terdenger, ia memejamkan matanya sembari mengusap pelan dahinya, dalam hatinya bertanya-tanya, kapan kiranya Tuhan memberikan kehidupan yang stabil untuk dirinya beserta keluarganya.

Tanpa Disa sadari, dari beberapa waktu lalu, ada sepasang telinga yang tanpa sengaja mendengar percakapannya via telpon, sosok itu berdiri diam di luar pintu masuk ruangan, langkahnya terhenti kala mendengar obrolan serius Disa barusan, niat hatinya tak ingin mendengarkan, namun dirasanya akan lebih canggung apabila ia menampakkan dirinya pada saat tadi.

“Selamat Pagi,” Sapaan tersebut menyadarkan Disa dari lamunan sesaatnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang berasal dari pintu masuk ruangan, kedua netranya terhenti seketika sata melihat paras sang pemilik suara, seakan terhipnotis, Disa terdiam dengan mata yang masih tertuju kepada sosok tersebut, bahkan tak berkedip sama sekali.

Disa jelas mengenali wajah itu, namun rasanya sangat berbeda dengan belasan tahun lalu saat terakhir ia melihat sosok tersebut di lapangan sekolah, sedang bermain bola di bawah teriknya matahari. Kini, sosok tersebut menjelma sebagai pria dewasa yang terlihat tampan dengan tampilan yang sangat rapih, bahkan wangi darinya sudah bisa tercium dari jarak yang masih beberapa langkah lagi.

“Selamat Pagi?” Sapanya kembali pada jarak yang lebih dekat, seakan sedang berusaha menyadari Disa yang tiba-tiba kaku tak bisa merespon sama sekali, “Adisa?” Panggilnya lagi, sedikit ragu, karena tak kunjung mendapatkan respon dari Disa sedari tadi.

“Pagi...,” Jawab Disa pelan, masih berusaha untuk menyadarkan dirinya agar kembali normal tak terlihat kikuk dan kaku seperti saat ini. “Pagi, Pak Jeffrey.” Ulangnya lagi, terdengar lebih jelas dan tenang dari sebelumnya.

Senyum tipis tergambar dari ranum bibir milik Jeffrey setelahnya, pembawaan Jeffrey yang tenang dan berwibawa membuat Disa sadar, bahwa sosok di depannya kini sangatlah berbeda dengan Jeffrey yang ia temui di masa SMA.

“Sudah dipesankan semuanya?” Hal tersebut yang pertama kali Jeffrey tanyakan, tak ada sambutan, atau ucapan selamat datang, malah pertanyaan tersebut yang keluar dari bibirnya.

“Sudah, Pak, untuk tiketnya sudah saya bookingkan online, dan untuk kupat tahunya, sudah sesuai dengan arahan yang Bapak berikan.” Jawab Disa berusaha tersenyum ramah kepada Bosnya, walau emosinya kembali membucah apabila teringat kembali perjuangannya mendapatkan kupat tahu sialan titipan bosnya.

“Good, nanti OB yang akan ambil makanannya, kamu langsung bekerja aja, sebagaimana yang Pak Wira arahkan.”

“Baik, Pak.” Jawab Disa masih dengan senyum lembutnya yang terlihat sedikit dipaksakan, tak ada sedikitpun ucapan terima kasih atau semacamnya yang seharusnya ia dengar setelah perjuangan berat dan konyolnya untuk mendapatkan pesanan aneh Jeffrey.

“Nomer rekening kamu langsung kirim ke saya via whatsapp, ya, biar semuanya saya ganti.” Memang Disa butuh segera diganti uangnya, namun, tetap saja ucapan terima kasih atau maaf sudah merepotkan belum juga terdengar di kupingnya, hal tersebut semakin membuat Disa merasa jengkel.

“Baik, Pak, Terima kasih banyak, ya, Pak.” Jawab Disa masih dengan senyumannya, suaranya sengaja ia lebih lembutkan, seakan-akan berusaha mengingatkan kepada Jeffrey bahwa kalimat tersebut seharusnya keluar dari mulut Jeffrey, bukan mulut Disa.

Jeffrey terkekeh kecil mendengar itu, “Sama-sama, Adisa.” Jawabnya seakan sedang memancing agar Disa menanggalkan topeng yang berbentuk senyuman tersebut.

Tak mau kalah, Disa pun ikut terkekeh setelah mendengar jawaban tersebut. Jika saja orang yang berdiri di depannya ini bukanlah Bosnya, sudah Disa pastikan ia akan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang akan menampar lawan bicaranya tersebut.

“Saya ke ruangan, ya, masih banyak kerjaan yang lagi nungguin saya.” P[amit Jeffrey.

“Oh, iya, silahkan, Pak, Hehehe.” Balas Disa, masih dengan senyuman palsunya itu.

Saat Jeffrey melangkahkan kakinya, meninggalkan Disa, detik itu juga senyuman pada bibir Disa sirna seketika, matanya menatap tajam punggung yang menjauh tersebut, sembari di dalam hati memaki tanpa henti Bos-nya tersebut.

“Eh, iya, Disa,” Langkah tersebut berhenti, dan membalikkan badannya kepada Disa, secara otomatis pula senyuman palsu Disa kembali menghiasi wajahnya, “Besok pagi tolong tukar e-tiket nonton Persib saya, ya?”

“Maksudnya, Pak?”

“Iya, itu nanti tukarkan jadi gelang, di markas kodim yang ada di Jl. Bangka. Pagi-pagi sekali, ya, soalnya ngantrinya pasti banyak banget, kalo kesiangan, kamu nya malah telat kerja nantinya.” Dengan entengnya perintah tersebut keluar dari mulut Jeffrey, Disa masih melongo tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Saya, Pak, yang harus tukarkan?”

“Loh, iya, masa saya?”

“Loh, lebih aneh lagi kalo saya, Pak.” Kali ini Disa tak mau kalah lagi, sudah cukup rasanya dari kemarin ia membiarkan Jeffrey mengerjainya.

“Loh, lebih aneh lagi kalo kamu suruh saya tukarkan sendiri.”

“Bukan nyuruh, Pak...,”

“Saya perintah kamu rasanya gak aneh, tapi kalo kamu tolak perintah saya bahkan sampai suruh saya kerjakan sendiri, itu bakal jadi aneh, Disa.” Balas Jeffrey, tak ingin sedikitpun memberi peluang untuk Disa menang dalam perdebatan ini.

“Wah kacau, sih...,” Timpal Disa tak tahan lagi. “Kacau, jadi ngaco gini jobdesk saya, Pak, merangkap jadi asisten Bapak, ya? Kalau gitu, harusnya kita ubah kontrak kerja, dong, Pak, gak sesuai-”

“Mau naik berapa persen? Silahkan aja, bilang ke Pak Wira, saya langsung acc-kan.”

“Bukan masalah itunya, Pak, tapi kan saya disini sebagai Paralegal, bukan Asisten pribadi Bapak.” Kukuh Disa melawan, bahkan kini senyum di bibirnya tak lagi tergambar, seperti menolak untuk memalsukan terus menerus apa yang ia rasa.

“Tunjukin aja barcode yang ada di e-tiketnya, nanti setelahnya dikasih gelang sebagai bentuk fisik tiketnya. Dari jam 7, supaya gak ngantri sama yang lain.” Ucap Jeffrey, tak mengindahkan protes yang barusan Disa suarakan. “Terima kasih sebelumnya.” Lanjutnya sebelum benar-benar pergi, dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.

“Sinting.” Umpat Disa pelan.

Feelingnya benar, hari pertama akan sangat menyebalkan dan buruk. Disa mengerti, Jeffrey sengaja memerintahkan hal yang tak masuk akal untuk menguji dan membalaskan dendam masa lalunya kepada Disa. Untuk saat ini, yang bisa Disa lakukan adalah menahan dirinya untuk tetap bekerja sampai keperluan Naufal terpenuhi, sembari menyusun rencana untuk membalaskan perlakuan Jeffrey dengan caranya sendiri.

Disa tidak pernah mau kalah dalam hal apapun, termasuk dengan Jeffrey, ia tak akan takut, walau lawannya adalah Bosnya sendiri. Bagi Disa, dunianya berjalan layaknya Hukum Hamurabi, Hukum tulis tertua yang ada di bumi. Gigi dibalas gigi, mata dibalas mata.


-Ara.

Alana menghela napas beratnya tanpa henti, menyalurkan sesak di dada yang terasa sedari tadi. Matanya tak kunjung menitihkan bulir bening, membuat sesak yang ia rasa semakin menjadi. Tanpa sadar, tangannya meremas kuat kaus yang ia kenakan.

“Bodoh, Al, bego, goblok, emang lo, tuh, tolol. Gak pantes lo ngerasain bahagia, cinta tulus, kasih sayang, gak pantes.” Ucapnya seorang diri.

Hari ini, tepat di perayaan satu bulannya menjalin kisah kasih bersama Sakha, mata Alana dengan jelas melihat Sakha merangkul mesra mantan kekasihnya. Saat itu juga, tanpa berpikir panjang, Alana segera menghampiri keduanya yang nampak terkejut dengan kedatangan Alana.

Alana marah, namun, entah mengapa rasanya ia tak bisa meluapkan emosinya, sehingga yang ia lakukan hanyalah tersenyum tipis kepada keduanya, sembari mengatakan, “Seneng liat sampah diangkut sama truk sampah. So, ambil dia, gue udah buang dia.” Ucap Alana kepada perempuan berwajah lugu tersebut. “Sakha, mulai sekarang kita putus. Nikmatin pilihan lo, dan tunggu semesta yang bales jahatnya lo ke gue.” sambung Alana kemudian memilih pergi meninggalkan keduanya.

Bohong apabila Alana bilang kepada teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. Sekuat apapun Alana menahan, tetap saja sakit di hatinya tak bisa disembunyikan oleh dirinya sendiri yang merasakan.

Temannya pikir Alana benar-benar kuat, sehingga tak terlalu khawatir karena Alana sama sekali tak menitihkan air matanya. Tanpa mereka sadari, bahwa sakit sesungguhnya berasal dari air mata yang tertahan dan menimbulkan sesak yang luar biasa di dada.

“Gak apa-apa, gue udah bisa, kok, sama pola kayak gini. Gue hanya cukup tidur, makan yang enak, dan lupain semuanya. Gampang, kok, Al, lo pasti bisa.” Kembali Alana berbincang dengan dirinya sendiri, walau tangannya masih saja mencengkram kuat kausnya. Ia berusaha tersenyum, bahkan tertawa seorang diri, berharap usahanya tersebut dapat meredakan nyeri di dadanya.

“Gak apa-apa…” kali ini suaranya terdengar lirih.

“Gak apa-apa, kok, Al…” semakin lirih dari sebelumnya.

Kepalanya lalu menunduk dalam, bahunya tak lagi tegap, ia duduk di lantai kosannya seorang diri, dengan lampu kamar yang sengaja ia matikan. “Gak apa-apa….” lanjutnya lagi.

“Emang lo gak ditakdirin bahagia, Al….”

Bahu Alana bergetar setelahnya, isak tangisnya mulai terdengar walau pelan. Namun, pelan tersebut ternyata tak berlangsung lama, karena beberapa detik berikutnya isak tersebut berubah menjadi kencang, tangan Alana yang tadinya mencengkram kausnya berubah menjadi gerakan memukul dadanya secara berulang, menumpahkan segala kecewa dan sedih yang ia rasa.

“Gagal… tuhan kasih gue gagal… mau sampe kapan… hiks… capek… capek….” Rintihnya seorang diri.

Entah untuk yang keberapa kalinya Alana disakiti, hubungan percintaannya selalu berakhir tragis. Entah itu perselingkuhan, tak direstui, dibohongi, rasanya semua bentuk kebrengsekan laki-laki sudah Alana lalui.

“Capek… gue capek gini terus….”