tw // accident
Jovan melambaikan tangan tepat di saat matanya melihat sosok wanita yang ia cintai berjalan ke arahnya, siapa lagi jika bukan Hanna Hanasta. Beberapa karyawan yang sedang berdiri menunggu jemputan, tampak langsung menyapa dan menunduk sopan ke arah Hanna, begitupun dengan satpam yang dengan sigap membukakan pintu Loby untuk Hanna.
Tak lupa Hanna juga balas melambaikan tangannya kepada Jovan, dengan senyum manis andalannya, dan juga langkah kaki yang yang ia cepatkan, seakan tak mau sedetikpun terlambat untuk menghampiri Jovan yang sudah menunggunya di depan mobil merah kepunyaannya.
“Hei, hati-hati, hahaha.” ucap Jovan mengingatkan, tak begitu lama, Hanna sudah berdiri di depannya, masih lengkap dengan senyuman manis yang tak pudar selama kakinya melangkah.
Hanna kemudian memberikan kode kepada Jovan melalui gerak jemarinya, untuk terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, karena tak enak banyak sekali karyawan yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Jovan segera paham dengan kode tersebut, ia segera membukakan pintu mobil untuk Hanna, tak lupa juga tangan kanannya ia letakkan di atas kepala Hanna, agar kepala Hanna terlindung dan tak terbentur bagian mobil. “Thanks, Kak! ayo masuk, kita ngobrolnya di dalam aja.” bisik Hanna kepada Jovan yang hendak menutup kembali pintu mobil.
Tak butuh waktu lama, Jovan sudah berada di dalam mobil tersebut. “Kalau jalan, hati-hati, jangan terburu-buru, nanti kalau jatuh gimana?” tegur Jovan pada Hanna, walau itu sebuah teguran, namun tetap saja, terdengar lembut di telinga Hanna.
“Aku udah umur 36 tahun kalau Kak Jo lupa, bukan anak kecil yang gampang jatuh.” jawab Hanna.
“Iya, iya, bukan anak kecil lagi,” Jovan terkekeh, jemarinya terulur mengacak-acak rambut Hanna gemas, “Tapi jangan lupa, orang dewasa juga bisa jatuh kalau enggak hati-hati. Lagi juga saya enggak akan kemana-mana, kok, jadi kamu enggak perlu buru-buru kayak tadi, ya?” lanjut Jovan, kali ini terdengar lebih serius dari sebelumnya. Hanna mengangguk, seperti anak kecil yang sangat patuh sekali apabila sedang dinasihati.
Hanya Jovan yang punya kuasa tersebut, hanya Jovan juga yang selalu Hanna turuti, hanya Jovan pula yang mampu membuat Hanna luluh, dan melupakan sikap keras kepalanya. Hanya Jovan saja.
“Kamu selalu cantik, Na, tapi, hari ini cantiknya bertambah. Sengaja, ya?”
“Iya, hari ini kan kita mau rayakan ulang tahun Haekal yang ke-18, jadi harus lebih cantik dari biasanya. Ini juga kali pertama Haekal dirayakan ulang tahunnya, jadi harus spesial.” balas Hanna antusias sekali. “Oh iya, teman-temannya Haekal, aman 'kan, Kak?”
“Aman, mereka juga kompakan pura-pura lupa ulang tahun Haekal, hahaha.”
“Aku enggak tega lihat wajahnya Haekal tadi pagi, Kak. Dia udah penuh harap banget bakal ada yang spesial, bahkan sempet kode-kode lagi, nanyain ke aku, sekarang tanggal berapa.” ujar Hanna, kembali ia merasa kasian apabila mengingat ekspresi kekecewaan Haekal pagi tadi.
“Nanti sama-sama kita ucapin, ya? Kita peluk juga jagoan hebat kita.” balas Jovan dengan mengusap jemari Hanna lembut, “Oh iya, Na, nanti saya mau kenalkan kamu kepada Ibu saya, boleh?” tanya Jovan, Hanna tak segera menjawab, ia diam dulu sejenak saat ditanya pertanyaan barusan.
“Ibu?”
“Iya, Ibu saya. Mau?”
“Takut, Kak ...,” lirih Hanna terus terang.
“Takut kenapa, Na?” kali ini mimik muka Jovan berubah, terlihat kilas kekhawatiran yang tersorot dari mata Jovan, begitupun dengan jemarinya yang mengusap lembut helaian rambut Hanna. “Apa yang kamu khawatirkan?” tanyanya lagi.
“Setelah banyak banget kehancuran yang disebabkan keluarga aku, Kak..., rasanya enggak mungkin bisa diterima baik sama Ibu kamu ...,” ungkap Hanna mengakui yang sebenarnya ia takutkan.
“Na...,” panggil Jovan lembut sekali, diiringi dengan senyumannya, “Ibu pasti akan menerima kamu, tanpa sedikitpun dendam yang ada. Bahkan, Ibu selalu mendoakan kebaikan untuk kamu, Ibu juga sudah sangat mengenal kamu. Jadi, enggak perlu khawatir, ya?”
“Tapi−”
“Na, percaya Kakak, ya? Ibu sangat amat mengerti dengan semua yang kamu alami selama ini. Kamu enggak perlu khawatir, Ibu pasti akan terima kamu, dan sayang sama kamu sebagaimana rasa sayang Ibu terhadap saya, Na. Saya yang akan jamin itu. Percaya, ya? Kita coba sama-sama buat ketemu Ibu.” ucap Jovan meyakinkan, jemari Jovan yang sebelumnya mengusap lembut pipi kanan Hanna, sekarang sudah berpindah untuk menggenggam tangan Hanna, Jovan benar-benar berusaha meyakinkan Hanna untuk tidak khawatir dengan takut yang diciptakan pikirannya sendiri.
“Mau, ya?” tanya Jovan kembali memastikan.
“Mau, Kak ...” balas Hanna pelan, direspon segera oleh Jovan dengan senyuman, kemudian jemarinya kembali terangkat untuk mengusap-usap rambut Hanna lembut.
“Yuk? Haekal kayaknya udah bete di rumah, kita jemput sekarang, ya? Di lokasi juga barusan Reno lapor udah datang semuanya.” ajak Jovan, matanya melirik kepada jam tangan yang ia gunakan.
“Ayo, berangkat sekarang, takutnya nanti malah−” Belum selesai Hanna menjawab, bunyi dari dering ponselnya terdengar, saat Hanna hendak menolak panggilan itu, Jovan dengan sigap menahan, seraya menggelengkan kepalanya kepada Hanna, “Angkat dulu aja, Na, takutnya penting.” ucapnya.
“Ah enggak usah, ini telpon dari kantor.”
“Justru itu, angkat dulu, ya? selagi kita masih di sini, nanti tau-taunya itu penting banget, eh kitanya udah jauh.”
“Tapi aku udah pulang, Kak, enggak boleh ditelpon orang kantor. Aku udah bilang berkali-kali padahal sama mereka.” tolak Hanna kukuh tak ingin mengangkat telpon masuk tersebut.
“Mereka pasti paham, Na, mungkin ini terlalu urgent, makanya mereka telpon kamu, dan enggak menghiraukan aturan yang kamu buat.” dengan sangat sabar, Jovan mengarahkan Hanna untuk mengangkat telpon tersebut.
Entah Hanna yang tidak mampu menolak Jovan, atau Jovan yang terlampau handal mengendalikan Hanna, hingga pada akhirnya Hanna mengangkat telpon tersebut, walau dengan gurat malas dari wajahnya saat mengatakan 'Halo', hal tersebut berhasil membuat Jovan terkekeh pelan di sebelah Hanna.
“Kenapa tadi enggak sekalian? Kenapa bisa sampai lupa dan kelewatan?” jawab Hanna dengan rentetan pertanyaan yang terdengar tegas, Jovan yakin, siapapun yang mendengar suara Hanna dari telpon tersebut, sudah dipastikan akan gugup dan takut untuk menjawabnya.
“Iya, itu artinya kamu lalai. Waktu saya berharga, dan kamu malah mainkan seperti ini.”
“Maafkan kelalaian saya, Bu ...”
“Okay, kamu minta maaf, tapi maaf kamu bisa gantikan waktu saya yang akan terbuang sia-sia gak?”
Jovan yang mendengar nada sinis dari Hanna, mendekatkan dirinya kepada Hanna, ia kemudian mengusap-usap pundak kanan Hanna, berusaha menenangkan Hanna yang nampak termakan emosi akibat panggilan telpon tersebut, “Hey, it's okay, Na, enggak apa-apa, tenang, ya?” bisik Jovan pelan di telinga Hanna.
“Atur napas dulu, tarik... terus buang,” sambung Jovan masih berbisik, Hanna yang mendengar itu, langsung mengikuti arahan dari Jovan, walau terlihat jelas masih ada kekesalan pada wajahnya, apalagi saat Hanna menghembuskan napasnya. “Good, sekarang bicara pelan-pelan ke bawahan kamu, ya?”
“Ya sudah saya ke sana. Kamu tunggu di sana, dan siapkan semua berkasnya, supaya nanti saya enggak nunggu lama lagi.” tegas Hanna kepada lawan bicaranya di sebrang telpon.
“Bu terima kasih banyak, dan maaf−” tanpa ingin mendengar lebih lanjut, Hanna sudah lebih dulu memutuskan sambungan telpon itu.
“Ada yang harus aku tanda tangan, Kak, dan enggak bisa ditunda sampai besok. Ah keselll!” rajuk Hanna masih kesal, ia sangat tak suka apabila agenda yang sudah disusun menjadi berantakan.
“Enggak apa-apa, Na, kamu selesaikan aja dulu berkasnya, ya? Haekal saya yang jemput, nanti setelahnya, saya dan Haekal yang bakalan jemput kamu di sini, baru deh kita ke lokasi bareng-bareng. Gimana?” anjur Jovan, terlihat keraguan yang terdapat pada tatapan Hanna sekarang.
“Enggak apa-apa, 20 menit cukup kan? enggak akan ngerusak acara yang udah kita siapkan. Tenang, ya?” lanjut Jovan, menyadari ragu yang Hanna rasa.
Detik kemudian, terdengar hembusan napas berat dari Hanna, “Okay, aku naik ke ruangan aku, ya, Kak. Gak apa-apa jemput Haekal sendirian?” masih Hanna bertanya ragu.
“Enggak apa-apa, Hanna. Yaudah, kamu beresin dulu urusan kamu, atau mau saya antar ke atas?”
“No, jangan. Aku sendiri aja, Kakak langsung jemput Haekal aja, supaya lebih cepet juga.” tolak Hanna segera dan dibalas anggukan mengerti oleh Jovan, “Aku ke ruangan dulu ya, Kak?” pamit Hanna setelahnya, dan bersiap untuk membuka pintu mobil.
“Na...” panggil Jovan, menghentikan Hanna yang tadinya hendak membuka pintu mobil itu.
Hanna yang mendengar panggilan tersebut, dengan cepat menoleh kepada Jovan yang sedang tersenyum kepadanya penuh arti. “Iya, Kak?” jawab Hanna, entah mengapa, Hanna melihat ada yang beda dari tatapan Jovan kali ini, terkesan sendu dari pandangan matanya.
“Saya boleh peluk kamu?”
“Eh?” respon Hanna sedikit kaget dengan permintaan tiba-tiba yang Jovan beri.
“Enggak tau kenapa, dari pertama kamu masuk mobil, rasanya saya mau peluk kamu, Na. Mungkin karena hari ini kamu cantiknya bertambah kali, ya? Atau mungkin karena rasa saya semakin banyak buat kamu?” jawab Jovan berusaha menerka alasannya sendiri.
“Kak ...” rengek Hanna yang saat ini pipinya mulai memerah setelah mendengar jawaban Jovan tadi. Mungkin bagi Jovan jawaban jujur tersebut terlampau biasa, namun, bagi Hanna jawaban tersebut berhasil membuatnya salah tingkah seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
“Hahaha, saya serius, Na, bukan modus semata.” balas Jovan berusaha meyakinkan Hanna, “Boleh, Na?” pintanya lagi.
Hanna tidak menjawab dengan kata, ia mengizinkan Jovan untuk memeluknya dengan cara memberi kode melalui kedua lengannya. Tanpa menyita banyak waktu, Jovan langsung membawa Hanna ke dalam dekapan hangatnya, ia memeluk erat Hanna, seakan melepaskan Hanna dari pelukannya merupakan satu hal yang tak akan mau dilakukannya.
“Kak? Semuanya baik-baik aja, kan?” tanya Hanna sedikit khawatir, karena Hanna merasa ada yang beda dari pelukan Jovan kali ini, terasa lebih erat, seperti enggan untuk melepas.
“Kak?” panggil Hanna lagi karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Jovan.
“Sebentar, ya, Na, satu menit lagi, boleh?” pinta Jovan pelan, Hanna menangguk, memberi izin untuk Jovan memeluknya lebih lama lagi, walau terdapat beberapa pertanyaan di kepala Hanna saat ini.
Sebenarnya bagi Hanna, satu menit, bahkan sepuluh menit bukanlah permasalahnnya, malah ia akan sangat senang selama apapun itu berada di dekapan Jovan. Namun, saat ini Hanna merasakan ada yang beda dari pelukan yang Jovan beri, walau hangatnya masih terasa sama seperti sebelumnya.
Setelah satu menit berlalu, dengan perlahan Jovan merenggangkan pelukannya, kemudian beralih untuk menatap manik kebingungan milik Hanna. “Sudah, Na, terima kasih, ya, sudah mengizinkan.” tuturnya masih setia dengan senyum damai andalannya.
“Kak, kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa, Na, memang mau peluk kamu aja.”
“Beda tapi, Kak, yang tadi itu lebih mirip pelukan perpisahan.” ucap Hanna jujur kepada Jovan.
“Hey, enggak, Na,” jawab Jovan, jemarinya mengusap lembut pipi Hanna, “Bukan pelukan perpisahan, Na, Hahaha.” sambungnya lagi sembari tertawa. Hanna diam, masih ia rasakan khawatir yang berasal dari firasat tak enaknya.
“Na, kalau tadi itu pelukan perpisahan, rasanya enggak cukup saya minta tambahan waktu satu menit. Bisa-bisa enggak akan saya lepas kamu dari pelukan saya kalau emang tadi itu untuk berpisah.” tutur Jovan mengerti kegelisahan sang pujaan hati.
“Saya jemput Haekal, terus jemput kamu, sekaligus peluk kamu lagi, supaya kamu percaya kalau tadi itu bukan pelukan perpisahan. Deal?” Jovan akhirnya menawarkan janji.
“Okay, kita ketemu 20 menit lagi, ya. Boleh telat, tapi 10 menit aja.”
“Iya, Cantik. Kamu boleh telat, tapi saya enggak akan telat. Mobil ini saya pinjam, ya, untuk jemput jagoan kita.”
“Iya, aku ke atas dulu, ya, Kak. Hati-hati di jalan, kabari aku kalo udah jemput Haekal.” pamit Hanna lagi, untuk yang kesekian kalinya, seakaan berpisah hanya untuk puluhan menit saja sangat sulit mereka lakukan.
“Na...” panggil Jovan, ketika Hanna sudah berada di luar mobil, Hanna segera menoleh kepada kaca mobil yang terbuka.
“Iya, Kak?”
“Tunggu saya, ya.”
Sudah hampir tiga jam Haekal habiskan waktunya hanya untuk menatap belasan origami di depannya. Setelah pulang sekolah tadi, Haekal sama sekali tidak melakukan hal lain selain menatap kosong ke arah origami tersebut.
Perasaan Haekal cukup campur aduk untuk hari ini, dari mulai ia membuka mata, hingga saat ini, sama sekali belum ia terima satupun ucapan selamat ulang tahun dari orang lain. Hanya origami yang Azalea titipkan kepada Ibu kantin yang Haekal terima, itupun hanya origami, bukan ucapan selamat ulang tahun secara langsung seperti yang Haekal harapkan.
Ditambah lagi Mamah dan Ayahnya yang sama sekali tak memberikan pelukan bahkan ucapan ulang tahun. Padahal dari hari-hari lalu, sudah besar sekali harapan Haekal untuk merayakan ulang tahun pertamanya bersama keluarga yang lengkap.
Bagi Haekal, hari ini terasa hambar dan menyebalkan lantaran semua orang masih saja melupakannya.
Tak lama kemudian, Haekal mendengar getar dari ponselnya yang sedaritadi ia letakkan diujung tempat tidur, dengan gerakan yang malas, Haekal mengambil ponselnya.
Ayah terhebat is calling
Walau diliputi rasa kesal, Haekal tetap dengan sigap mengangkat telpon tersebut, dan berusaha mengontrol suaranya agar terdengar sopan di telinga sang Ayah, “Halo, Yah?” sapa Haekal duluan.
“Nak, di mana?”
“Di rumah, Yah, sendirian, di kamar, enggak ada yang temenin. Ada apa?” jawab Haekal lengkap sekali, sembari memberi kode kepada sang Ayah yang mungkin saja akan ingat hari ini adalah hari ulang tahunnya dengan kode tersebut.
Haekal mendengar kekehan geli di sebrang telpon, membuat kedua alis Haekal bertaut, menandakan ia mulai kesal.
“Kenapa, deh, Yah?” kali ini nada bicara Haekal terdengar mulai malas.
“Hahaha, Ayah mau berangkat ke sana, ya, Kal.” mendengar perkataan tersebut, kedua bola mata Haekal seketika melebar, dan tanpa sadar, senyum mulai tergambar kembali di bibirnya.
“Mau ke sini, Yah? Sudah ingat, ya?” tanya Haekal terdengar antusias, yang tadinya ia duduk bersila di atas kasur, sekarang sudah bangkit dan berdiri, berniat menuju lemari pakaiannya.
“Iya, sudah ingat, untung enggak lupa,” ucap Jovan semakin membuat Haekal berbunga.
“Enggak apa-apa telat, asal ingat aja, sih, Yah.”
“Kalau telat bisa-bisa saya enggak bisa absen, Kal.” timpal Jovan, membuat Haekal seketika memberhentikankegiatan memilih bajunya.
“Maksudnya, Yah?”
“Iya, kartu identitas Ayah ketinggalan di sana, kayaknya pas kemaren anterin Mamah kamu pulang, Kal.” balas Jovan, senyum di bibir Haekal yang tadinya sudah merekah, segera menghilang. Haekal merasa dihempaskan oleh ekspektasinya sendiri 'lagi'.
“Oh itu...,” gumam Haekal merespon ucapan Jovan barusan, jemarinya menutup kembali lemari yang tadinya sudah ia buka, kakinya pun melangkah tak bersemangat menuju ke kasurnya seperti semula. “Ya sudah ambil aja, Yah. Ada Bibi di bawah, saya mau tidur, jadi nanti langsung pulang aja kalau sudah ambil kuncinya.” sambung Haekal, bersiap untuk segera memutuskan sambungan telponnya.
“Sudah 'kan, Yah? Kalau enggak ada yang mau dibicarain lagi, saya mau tutup telponnya.”
“Kenapa kok berubah nada bicaranya, Kal? Perasaan tadi semangat sekali. Serius gak mau ketemu Saya nanti?” goda Jovan, nampaknya Jovan belum menyadari saat ini mood Haekal sudah sangat hancur.
“Iya. Ayah, saya izin tutup telponnya,” walau rasa kesal sudah sangat menguap, namun tetap saja Haekal berusaha tenang dan sopan, agar perkataannya tak menyakiti hati sang Ayah.
“Kal? Kenapa−”
“Saya mau tutup telponnya, boleh kan?” Haekal dengan cepat memotong ucapan Jovan dari balik telpon dengan intonasi suaranya yang meninggi dari sebelumnya, juga terdengar beberapa kali hembusan napas Haekal yang terkesan gusar di telinga Jovan. “Saya capek hari ini, Yah. Semua ekspektasi saya hancur di hari ini, jadi tolong... tolong izinkan saya tutup telpon ini, dan biarkan saya tidur untuk menghabiskan hari ini.” sambung Haekal mengungkapkan emosi dan kecewa yang sedaritadi ia coba tahan.
Sedangkan, Jovan segera mengurungkan niatnya untuk menjalankan mobil saat mendengar pengakuan kecewa Haekal dari sebrang telpon.
“Saya emang ditakdirin hidup kayak gini, selalu jadi yang terlupakan. Silahkan ambil yang tertinggal di rumah, Pak. Saya tutup−”
“Selamat ulang tahun, Nak,” belum sempat Haekal mengucap salam, Jovan dengan sudah lebih dulu memotong. “Selamat bertambah usia jagoan terhebat yang saya punya.” lanjut Jovan lagi, entah mengapa, seketika pertahanan diri Jovan runtuh saat mendengar ucapan penuh keputusasaan Haekal. Jovan seakan tak peduli lagi dengan rencana kejutan untuk Haekal, yang ada di pikiran Jovan saat ini hanyalah memberikan ucapan selamat dan doa, supaya tak lagi terpintas di pikiran Haekal bahwa dunia masih terus melupakannya seperti dulu.
“Ayah ingat?” jawab Haekal tak percaya.
“Mana mungkin Ayah bisa lupa, Kal? Kelahiran kamu adalah anugrah terindah yang Ayah syukuri sampai saat ini, dan selamanya. Seberharga itu kamu bagi saya, mana bisa saya lupa?”
“Tapi kenapa, Yah?” Haekal masih bingung dan tak paham dengan semuanya.
“Ya ..., ada sesuatu yang kami rencanakan, spesial untuk kamu,” jawab Jovan terdengar canggung dan juga ragu, karena secara otomatis dengan pengakuannya barusan, Jovan telah membocorkan kejutan ulang tahun yang sudah dirancang Hanna, dan teman-teman Haekal. “Ya..., pokoknya seperti itu. Kamu jangan merasa dilupakan, ya, Nak? Enggak ada yang melupakan kamu.” tegas Jovan lagi, agar Haekal tak dikuasai oleh rasa khawatir berlebihnya.
“Saya ..., enggak terlupakan lagi, kan, Yah?”
“Enggak akan pernah terlupakan, Nak.” jawab Jovan terdengar tegas. Emosi memuncak yang tadinya Haekal rasa, dengan teramat cepat segera meluruh, tergantikan langsung oleh haru. Ia sangat khawatir, sampai-sampai tak terpikir akan ada kejutan yang disiapkan oleh orang-orang yang menyayanginya.
“Ayah masih di jalan? sambil bawa mobil?”
“Masih di mobil, tapi belum jalan, Kal. Tadinya mau sambil jalan, cuma rasanya enggak fokus, apalagi dengar kamu yang putus asa kayak barusan.”
“Lanjut jalan aja, Yah, saya tunggu di rumah, ya!” kali ini suara Haekal terdengar kembali bersemangat seperti semula, membuat Jovan tersenyum dan bernapas lega saat mendengar suara sang anak. “Ditutup ya, Yah, telponnya, saya juga mau siap-siap pakai baju yang rapih.”
“Kal ...,” panggil Jovan tiba-tiba.
“Iya, Yah?”
“Mau dengar doa Ayah buat kamu?”
“Sekarang banget, Yah?” Haekal nampak bingung, tangannya memindahkan ponsel tersebut ke sebelah kanan telinganya, kemudian ia memilih duduk di sisi ranjangnya, “Kan bentar lagi ketemu.” ucap Haekal lagi masih bingung.
“Entah, rasanya Ayah mau cepat-cepat ucapin doa buat kamu, Kal. Mau?”
“Hmm, boleh, Yah. Ayah doa apa buat saya di 18 tahun ini?” tanya Haekal penasaran, sempat beberapa detik Jovan diam, dan tak kunjung menjawab pertanyaan Haekal.
“Nak ...,” panggil Jovan lembut sekali, walau hanya dari sambungan telpon, Haekal bisa membayangkan wajah tenang milik Ayahnya, lengkap dengan tatapan dan senyum sang Ayah yang mampu menghangatkan hati siapapun yang melihatnya. Haekal tak menjawab dengan kata, ia hanya berdeham saja, menanti kalimat berikutnya yang akan didengar olehnya dari sang Ayah.
“Ini kali pertama, ya? 17 tahun yang kamu lewati, sama sekali enggak ada hadirnya saya. Maafin Ayah, ya, Kal?” Haekal masih tak menjawab, ia seakan memberikan waktu untuk Jovan mengungkapkan semua doa yang tertuju kepadanya. “Harus menunggu 18 tahuh, ya, Nak, untuk kamu merasakan bahagia seperti sekarang. Ayah kagum sekali, Kal, karena kamu sudah sangat kuat dan tabah menjalani kehidupan hingga sampai di titik saat ini. Enggak salah kalau saya anggap kamu Jagoan paling hebat, Kal, karena memang pada kenyataannya seperti itu. Sama persis seperti arti dari nama kamu, Kal.”
Haekal kembali merasakan haru, senyumnya tak pudar sama sekali, namun, sorot matanya berubah menjadi sendu saat mendengar suara sang Ayah dari sambungan telpon.
“Klasik, sih, memang doa dari Ayah, Kal. Hampir sama dengan doa Ayah-ayah di luar sana untuk anaknya. Tapi, dengan sungguh-sungguh Ayah berdoa kepada Tuhan dan juga semesta, supaya selalu dilancarkan langkah anak terhebat Ayah, selalu diberikan kesehatan jagoan yang Ayah punya, selalu dikokohkan bahu yang selama ini sudah menopang banyak sekali permasalahan kehidupan, dan selalu bersih hatinya, menjadi Haekal yang selama ini Ayah kenal sebagai sosok pembeda dari yang lainnya, sosok berprinsip teguh seperti biasanya ..., dan selalu menjadi pelindung bagi Mamah yang Haekal sayang di setiap harinya.” ungkap Jovan. Disetiap kalimat yang Jovan ucap, Haekal meng-amini di dalam hati dengan tak kalah sungguh-sungguh pula.
“Setelah banyak sekali gelap di 17 tahun belakang, Ayah akan janjikan dan usahakan terang untuk Haekal di tahun-tahun selanjutnya. Kal, kamu tau gak, saat pertama kali Ayah tau Mamah kamu sedang Hamil, salah satu janji yang Ayah ucap adalah tentang kamu, Kal, Ayah janjikan bahagia untuk kamu tanpa sedikitpun duka. Dan ternyata janji itu belum berhasil Ayah tepati. Jadi, Ayah akan lakukan semuanya untuk bisa tepati janji tersebut dari sekarang. Terang dan bahagia, akan Ayah pastikan kamu rasa mulai dari sekarang, Nak.”
“Haekal sudah bahagia, Yah. Ayah enggak perlu usahakan itu lagi, cukup selalu ada di sisi Haekal, itu sudah bikin Haekal bahagia.” jawab Haekal pada akhirnya, suaranya terdengar sedikit bergetar, begitupun dengan matanya yang mulai terasa panas setelah mendengar kalimat panjang yang Ayahnya ucapkan.
“Ayah akan lakukan apapun untuk bisa bikin kamu dan juga Mamahmu bahagia selamanya, Kal.”
“Yah, bahagia saya dengan lihat Ayah dan Mamah ada di sisi saya terus. Jadi cukup janjikan akan selalu ada di sisi saya aja, ya, Yah? Enggak perlu sekeras itu berusaha, toh bahagia saya datang karena hadirnya Ayah dan juga Mamah di keseharian saya.”
“Ayah?” panggil Haekal, karena tak kunjung mendengar jawaban dari Jovan.
“Hmm, iya, Kal ...,” respon Jovan setelahnya, “Iya ..., Ayah akan terus ada di sisi kamu, Kal. Ayah akan terus bangga dan tersenyum di setiap langkah yang kamu pilih. Ayah janji, Kal.” lanjut Jovan lagi, Haekal tersenyum bahagia mendengar perkataan Jovan barusan, sangat sesuai dengan apa yang ia harapkan.
“Haekal sudah tambah dewasa, harus lebih melindungi Mamah, ya? Harus terus jaga Mamah, dan sayang sama Mamah. Kalau misalnya ada perbedaan pendapat, harus diselesaikan baik-baik ya, Kal, jangan kabur atau bahkan sampai bicara yang bisa menyakiti hati Mamah. Bisa, Nak?” pesan Jovan, memberikan sedikit nasihat kepada sang Anak, selayaknya yang dilakukan oleh Ayah-Ayah lain di luar sana.
“Bisa, Yah, kita jaga Mamah sama-sama, ya, Ayah?”
“Iya, Kal, kita jaga wanita hebat dan kuat itu bersama. Pun, kamu, saya akan jaga dan lindungi sampai akhir napas saya.” lagi, Jovan kembali berjanji, sangat sungguh-sungguh sekali terdengar di telinga Haekal. “Oh iya, saya juga punya hadiah untuk kamu, Kal. Hmm ..., mungkin gak terlalu mewah, tapi semoga kamu suka, ya?”
Mendengar itu, Haekal bertambah semangatnya, “Pasti suka! Makin gak sabar! Ayah ayo ke sini jemput saya. Saya tinggal ganti baju aja, nih.” respon Haekal terdengar riang sekali.
“Ya sudah, Ayah tutup dulu telponnya, ya, Nak? Kamu siap-siap dan tunggu Ayah di rumah.” ujar Jovan akan mengakhiri sambungan telponnya, agar cepat sampai ke sana untuk menjemput Haekal, kemudian dilanjut dengan menjemput Hanna.
“Siap, Yah! Hati-hati, ya, Yah!”
“Kal ...,” untungnya Haekal masih bisa mendengar panggilan Jovan sebelum meletakkan ponselnya kembali ke nakas kamarnya.
“Iya, Ayah?”
“Kamu bukan celaka, bukan juga petaka. Kamu adalah bahagia yang satu-satunya kami punya. Ayah dan Mamah, sayang sama kamu, Nak, selamanya.”
“Ayah ...”
“Ayah ke sana, ya. Tunggu Ayah di rumah.”
“Iya, Ayah. Haekal tunggu Ayah di sini.”
Seulas senyum terukir di bibir Jovan, tampak pula bekas basah di sudut matanya. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun dan doa, lengkap pula dengan nasihat kepada Haekal melalui sambungan telpon, Jovan merasakan haru, sampai-sampai sulit baginya untuk menahan bulir-bulir bening dari matanya.
Sembari menyetir mobil milik Hanna untuk menjemput Haekal, tangan kanan Jovan memegang kotak berukuran sedang, yang berisikan sebuah jam tangan berwarna hitam yang ia beli khusus untuk sang putra.
“Haekal Hanasta, jagoan saya.” gumamnya sendiri kemudian tersenyum bahagia melihat kotak tersebut. Walau harganya tak terlalu mahal seperti jam mewah lainnya, namun Jovan sangat percaya diri Haekal akan sangat menyukai jam tangan pemberiannya.
Jovan merasakan lega setelah memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Haekal, entahlah ..., ia merasa sudah menyampaikan semua yang ada di pikirannya. Sebenarnya, Jovan tidak berniat mengungkapkan semuanya, yang ada di rencana awalnya hanyalah memberikan ucapan selamat saja, tapi, ia seperti dituntun oleh hatinya untuk mengungkapkan semua harapan dan pesan kepada Haekal melalui sambungan telpon, tanpa mampu menahan dan bersabar menyamapikan secara lamgsung kepada Haekal.
Setelah cukup puas memandangi kotak jam tersebut, akhirnya Jovan meletakkan kotak itu di bangku sampingnya, ia kembali fokus mengendarai mobil tersebut menuju rumah Hanna. Jovan masih dengan senyumnya yang tak kunjung memudar hingga sekarang, padahal sambungan telpon dengan Haekal sudah diakhiri beberapa menit yang lalu, namun tetap saja, rasa bahagia dan haru tak kunjung hilang Jovan rasakan.
Tak begitu lama, Jovan mendengar ponselnya berbunyi, sebuah pesan singkat masuk. Ia melirik sebentar ke ponselnya, dan melihat nama Hanna yang ada di notifikasinya.
Sebelah alis Jovan terangkat saat membaca pesan singkat tersebut, kemudian dengan hati-hati ia mencari earphone miliknya, dan mencoba menelpon Hanna. Tak butuh waktu lama, Hanna segera mengangkat panggilan telpon tersebut.
“Halo, Na?” sapa Jovan duluan.
“Halo, Kak udah sampai mana? Aku ke sana jalan aja, ya, deket banget juga, kok. Nanti kita ketemu di sana aja, ya?” segera Hanna menjelaskan kembali, sesuai dengan isi pesan yang barusan ia kirim kepada Jovan.
“Saya baru jalan beberapa menit lalu, sih, Na, tadi telponan sama Haekal dulu cukup lama.” jawab Jovan, mobil yang ia kendarai melaju pada kecepatan rata-rata, “Kamu enggak apa-apa jalan ke sana? Gak mau tunggu saya aja, Na?” tanya Jovan memastikan.
“Aku duluan aja, deket, kok, gak sampai 2 menit juga sampai dari gedung aku. Gak enak juga di sana udah pada datang kan ya.”
“Yaudah, kalau gitu, Hati-hati, ya, Na?” kali ini Jovan terdengar sedikit khawatir dari sebelumnya, walau jarak restoran sangat dekat sekali dari kantor Hanna, tetap saja Jovan was-was apabila Hanna berjalan seorang diri, “Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya, ya?”
“Iya, Kak, Hahaha, tenang aja sih, kan cuma−”
“Ya tuhan!” Jovan tiba-tiba setengah berteriak, membuat Hanna berhenti bicara seketika.
“Kak? Kenapa? Ada apa?” tanya Hanna panik saat mendengar teriakan tersebut. “Kak? Halo? Kak Jovan?”
“Hampir aja, Na, tadi ada yang nyebrang gak lihat-lihat, aduh ..., ada-ada aja.” walau Jovan terkejut bukan main, ia berusaha tenang agar Hanna tak khawatir berlebih kepadanya.
“Aduh yaampun ..., kaget aku, Kak. Hati-hati, ah, Kak. Bawa